Revolusi Jarak Tanam untuk Meningkatkan Pendapatan Petani Karet

Artikel Karet Berita Perkebunan

BERITA PERKEBUNAN – Dengan luasan lahan sempit, rata-rata petani karet di Indonesia hanya mampu mengantongi pendapatan sekitar Rp3,2 juta/tahun. Penanaman tanaman sela dapat membantu meningkatkan pendapatan petani. Namun pada perkebunan karet yang sudah dewasa, intensitas cahaya semakin menurun sehingga pertumbuhan tanaman sela kurang optimal. Peneliti dari Balittri mengungkap, perubahan jarak tanam menjadi 2 m x 7 m dapat membantu meningkatkan intensitas cahaya tanpa mengurangi populasi secara signifikan.

Sekitar 80% perkebunan karet di Indonesia didominasi oleh perkebunan rakyat dengan kepemilikan lahan sempit dan produktivitas rendah. Gawatnya, konsumsi karet alam di dunia cenderung menurun karena harus bersaing dengan meningkatnya penggunaan karet sintetis.

Turunnya konsumsi karet alam dunia ini turut berpengaruh pada turunnya harga karet. Petani yang rata-rata memiliki luasan lahan sekitar 0,7 ha/KK pun hanya mampu mengantongi pendapatan sekitar Rp3,2 juta/tahun.

Untuk meningkatkan pemasukan, petani bisa menanam tanaman sela di area lahan yang masih kosong. Namun, tanaman sela hanya optimal ditanam di tengah-tengah karet yang masih muda. Pasalnya, pada karet dewasa (5-20 tahun) dengan jarak tanam konvensional 3 m x 6 m atau 3 m x 7 m, intensitas cahaya kian menurun hingga 40-60%.

Yulius Ferry dan Saefudin dari Balittri (2020) dalam penelitiannya mengungkap, perubahan jarak tanam menjadi 2 m x 10 m dapat meningkatkan intensitas cahaya hingga mencapai 60-90% tanpa mengurangi populasi tanaman secara signifikan.

Dengan jarak tanam 2 m x 10 m, didapatkan populasi sebanyak 500 tanaman/ha, sama seperti jarak tanam 3 m x 7 m. Populasi tersebut sedikit menurun jika dibandingkan dengan jarak tanam 3 m x 6 m yang bisa ditanami 550 tanaman/ha. Meski demikian, secara produktivitas tidak ada penurunan karena tanaman mengalami peningkatan produksi per individu akibat tercukupinya CO2 secara lebih merata.

Tanaman sela yang dapat ditanam bermacam-macam. Pada karet yang masih muda, hampir semua tanaman pangan dan palawija seperti jagung, kacang tanah, kacang hijau bisa ditanam. Sementara itu pada karet dewasa, penanaman kopi dan kakao yang membutuhkan tanaman naungan sangat potensial. Apalagi mengingat ketersediaan kopi dan kakao masih belum mencukupi kebutuhan dalam negeri.

Dengan jarak 2 m x 3 m, ada sekitar 594 batang kakao yang bisa ditanam di sela-sela karet. Populasi ini setara dengan penanaman kakao secara monokultur di lahan seluas 0,54 ha dengan potensi produksi biji kakao kering 1,5 kg/batang atau 891 kg/ha/tahun. Jika biji kakao kering dihargai Rp23 ribu/kg, potensi penghasilan yang bisa didapatkan petani mencapai Rp20,5 juta/tahun. Jauh lebih besar dengan pendapatan yang hanya diperoleh dari karet.

Tanaman karet eksisting yang terlanjur ditanam dengan jarak 3 m x 7 m pun masih bisa dijarangkan untuk meningkatkan intensitas cahaya dan mengoptimalkan tanaman sela. Caranya dengan menebang satu pohon secara selang-seling pada 1 baris tanaman karet berjarak 7 m. Jadi, ada lahan kosong sebesar 6 m x 14 m yang bisa ditanami kakao dengan jarak 2 m x 3 m.

Dengan pola tanam ini, didapatkan populasi karet sebanyak 343 tanaman dan kakao 2.880 tanaman. Pada pertanaman eksisting dengan jarak tanam yang tidak beraturan pun, penjarangan dapat dilakukan dengan penebangan tanaman karet sistem jalur.

Untuk mendukung revolusi jarak tanam dan peningkatan pendapatan petani ini, dibutuhkan bantuan dari pemerintah. Antara lain dengan menyediakan bibit tanaman sela serta membentuk satuan tugas untuk membantu pengendalian hama dan penyakit yang dikoordinasikan oleh Dinas Pertanian setempat. (Nurul/Tim Web)

Ingin tahu lebih banyak tentang revolusi jarak tanam 2 m x 7 m untuk meningkatkan pendapatan petani karet?

Simak selengkapnya pada artikel berikut ini:  Warta Puslitbang Perkebunan Vol. 26 No. 2, 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *