Regenerasi Klon Kakao Mulia Melalui Embriogenesis Somatik

Artikel Kakao Berita Perkebunan

INFO PERKEBUNAN – Secara umum, kakao sebagai komoditas perdagangan dunia dibagi menjadi dua kategori, yakni kakao mulia (fine cocoa) dan kakao lindak/curah (bulk cocoa). Kakao mulia merupakan produk spesialty yang memiliki kualitas rasa dan aroma tinggi. Oleh karena itu, tak heran jika harganya hampir 3 kali lipat lebih tinggi daripada lindak.

Meski demikian, pengembangan kakao mulia tak bisa dibilang mudah. Tahun 2013 saja, luas pertanamannya hanya 5.000 ha atau 1% produksi kakao di Indonesia. Rendahnya angka ini disebabkan oleh teknik budidayanya yang membutuhkan isolasi serta sifatnya yang rentan terhadap hama dan penyakit tanaman (HPT) penting.

Sifat tahan terhadap HPT sebenarnya ada pada kakao lindak. Oleh karena itu, persilangan konvensional antara mulia dan lindak dilakukan untuk menghasilkan keturunan yang tahan HPT dan berkualitas tinggi. Namun, frekuensi biji putih sebagai penciri kakao mulia rupanya sering kali turun dalam metode ini. Maka dari itu, metode pemuliaan non konvensional melalui pendekatan bioteknologi menjadi alternatif yang cukup penting.

Sudah ada beberapa metode pemuliaan in vitro yang dapat menghasilkan tanaman dengan ketahaan terhadap cekaman atau OPT, namun keberhasilannya biasanya tergantung pada ketersediaan metode regenerasi tanaman secara in vitro.

Pengembangan metode regenerasi kakao melalui embriogenesis somatik (somatic embryogenesis/SE) sendiri telah dilakukan di beberapa laboratorium. Tingkat efisiensinya berbeda-beda tergantung komposisi media, zat pengatur tumbuh, jenis eksplan, dan genotip.

Di Puslitbangbun, telah dikembangkan metode regenerasi kakao mulia melalui SE pada klon DR 2 dan ICCRI 2. SE diinduksi menggunakan eksplan mahkota bunga atau staminoid. Kalus diinduksi pada media DKW dengan penambahan zat pengatur tumbuh (ZPT) 2,4-D 2 mg/l dan kinetin 0,5 mg/l, sementara pembentukan SE serta perkecambahan dan pembentukan planlet dilakukan pada media DKW tanpa ZPT.

Dari penelitian tersebut, ditemukan bahwa sumber eksplan terbaik untuk kakao mulia DR 2 adalah staminoid dengan persentase keberhasilan pembentukan embrio somatik sebesar 24% dan jumlah embrio 4,3/eksplan. Sementara itu, sumber eksplan terbaik untuk ICCRI 2 adalah mahkota bunga dengan persentase pembentukan embrio somatik sebesar 26% dan jumlah embrio 2,7/eksplan.

Keberhasilan pembentukan embrio somatik pada kedua klon ini comparable dengan beberapa klon kakao lindak. Artinya, metode regenerasi kakao mulia melalui SE dapat dikembangkan untuk perbanyakan atau perbaikan sifat genetik melalui in vitro breeding maupun regenerasi transforman. (Nurul)

Sumber : InfoTekbun20-Regenerasi Klon Kakao Mulia SE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *