Perbanyakan Iles-Iles Menggunakan Teknik Kultur In Vitro

Artikel Iles-iles Berita Perkebunan

INFOTEK PERKEBUNAN -Meningkatnya ekspor iles-iles beberapa tahun terakhir turut melambungkan permintaan benih bermutu tanaman ini di kalangan petani. Sayangnya, perbanyakan dengan teknik konvensional menggunakan biji, bulbil, dan umbi batang mengalami beberapa kendala. Oleh karena itu, dikembangkan perbanyakan dengan teknik kultur in viltro untuk menghasilkan benih iles-iles berkualitas dalam jumlah banyak dan waktu yang relatif cepat.

Permintaan ekspor iles-iles (Amorphophallus spp.) selama beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan. Tanaman yang dulunya dianggap sebagai makanan ular ini dianggap memiliki nilai ekonomi tinggi karena kandungan glukomanan di dalamnya.

Glukomanan dibutuhkan sebagai bahan baku berbagai macam industri. Di antaranya sebagai bahan pangan fungsional, farmasi, kosmetik, penjernih air, tepung, dsb. Di antara tiga spesies iles-iles yang umum dibudidayakan di Indonesia, glukomanan paling banyak terdapat dalam A. oncophyllus atau lebih sering dikenal sebagai porang.

Tingginya permintaan ekspor iles-iles turut mendongkrak kebutuhan benih bermutu di kalangan petani. Pada umumnya, tanaman ini masih diperbanyak secara konvensional menggunakan umbi batang, biji, atau bulbil. Namun, sebenarnya ada beberapa kendala dalam metode perbanyakan tersebut.

Perbanyakan dengan umbi batang misalnya, hanya mampu menghasilkan satu benih dan mengurangi hasil panen karena sebagian perlu digunakan kembali sebagai benih. Sementara itu, perbanyakan dengan biji dan bulbil tidak mengurangi hasil panen, tapi butuh waktu yang lebih lama untuk tumbuh. Ditambah lagi, tidak semua spesies iles-iles menghasilkan biji dan bulbil.

Menurut penelitian Meynarti Sari Dewi Ibrahim dari Balittri, kultur in vitro baik metode organogenesis maupun embriogenesis somatik dapat menjadi alternatif teknik perbanyakan iles-iles yang mampu menghasilkan benih berkualitas dalam jumlah banyak dan waktu yang relatif singkat. Benih yang dihasilkan pun lebih seragam dan tidak tergantung musim.

Teknik ini juga diharapkan bisa membantu program pemuliaan tanaman untuk menghasilkan varietas-varietas baru dengan kandungan glukomanan tinggi. Selama ini, perbaikan genetik melalui pemuliaan konvensional kurang efektif karena sebagian besar spesies iles-iles bersifat apomiksis. Artinya, biji yang dihasilkan tidak mengalami rekombinasi genetik dan identik dengan induk betinanya. Beberapa spesies juga memiliki tepung sari sangat sedikit, bahkan steril sehingga sulit dikembangkan.

Kelebihan lainnya, teknik ini tidak akan mengganggu hasil panen karena bisa menggunakan eksplan dari berbagai macam bagian tanaman. Namun dari hasil pengamatan, diketahui bahwa eksplan dari tunas muda umbi batang, bulbil, dan tangkai daun lebih direkomendasikan dibanding eksplan lainnya.

Sementara itu, bulbil yang dikulturkan di media Murashige dan Skooge (MS) dan diberi zat pengatur tumbuh6-benzylaminopurine (BAP) atau 6-(y.ydimethylallylamino) purine (2-iP) 2 mg/l mampu menghasilkan 32 tunas. Jauh lebih banyak dibandingkan tunas muda dari umbi batang yang memproduksi 3 tunas.

Penggunaan metode organogenesis dengan eksplan dari tangkai daun juga dapat menghasilkan rata-rata 34 tunas. Penggunan eksplan helaian daun sendiri sudah menghasilkan kalus embriogenik, namun masih diteliti media yang cocok untuk regenerasi dan perkecambahannya. (Nuru/Tim Web)

Ingin tahu lebih banyak tentang teknik perbanyakan iles-iles (Amorphophallus sp.) dengan teknik kultur In Vitro? Simak selengkapnya di tautan berikut ini:  Perbanyakan Iles-Iles (Amorphophallus) Menggunakan Teknik Kultur In Vitro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *