Penyediaan Bahan Baku untuk Pengembangan Bioenergi

Artikel BBN Berita Perkebunan

BERITA PERKEBUNAN – Sidang Dewan Energi Nasional (DEN) ke-11 telah berlangsung pada tanggal 8 Nopember 2013 di Kementerian Pertanian, Jakarta. DEN dibentuk melalu Keppres No. 17 Tahun 2009 yang bertugas membahas berbagai isu strategis mengenai energi yang difokuskan pada posisi dan peran sektor terkait. Presiden RI merupakan ketua dari DEN, sedangkan ketua harian dijabat oleh Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM).

Anggota DEN terdiri dari 7 orang Unsur Pemerintah (Menteri Keuangan,  Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Menteri Perhubungan, Menteri Perindustrian, Menteri Pertanian, Menteri Ristek, dan Meneg Lingkungan Hidup)  serta 8 orang Unsur Pemangku Kepentingan yang dipilih oleh DPR RI. Sidang Anggota DEN dilaksanakan setiap 2 bulan sekali dipimpin oleh Ketua Harian DEN dan dihadiri oleh seluruh anggota. Mulai tahun 2013, pelaksanaan Sidang Anggota DEN digilir di tempat anggota unsur pemerintah. Sidang sebelumnya (ke-10) telah berlangsung 15 Juli 2013 di Kementerian Perindustrian.  Kementerian Pertanian menjadi tempat berlangsungnya Sidang DEN ke-11.

Menurut Menteri ESDM, Jero Wacik, selaku Ketua Harian DEN, pertemuan yang digilir di setiap anggota unsur pemerintah dimaksudkan agar semua sektor merasa bertanggung jawab terhadap masalah energi sesuai dengan peran sektor terkait.  Dalam sidang ke-11 ini cakupan agenda sidang mengarah pada Bahan Bakar Nabati dan Biomassa.

“Bagaimana sekarang peran pertanian dalam mengangkat ketahanan energi” kata  Menteri ESDM.  Indonesia kaya akan sumberdaya alam, termasuk sumberdaya untuk energi baru dan terbarukan.  “Oleh karena itu, pemanfaatan sumberdaya alam (pertanian) untuk energi menjadi bagian penting dalam mendukung ketahanan energi, tetapi tentu penanganannya jangan berbenturan dengan kebutuhan pangan” imbuh Menteri ESDM.

Pada kesempatan tersebut, Menteri ESDM juga berharap bahwa masyarakat tetap selalu melakukan gerakan hemat energi.  Gerakan tersebut diharap dikampanyekan juga oleh wartawan.

Pembicara dari Kementerian Pertanian dalam sidang DEN ke-11 adalah Menteri Pertanian (Dr. Suswono) yang menyampaikan tentang “Kebijakan Kementerian Pertanian mendukung Pengembangan Bahan Bakar Nabati” dan Kepala Badan Litbang Pertanian (Dr. Haryono) yang menyampaikan tentang “Program Penyediaan Bahan Baku Bioenergi Mendukung Ketahanan Energi Nasional”.  Sesuai dengan Inpres No. 1 tahun 2006, tugas Kementerian Pertanian adalah menyediakan bahan tanaman Bahan Bakar Nabati (BBN/biofuel), penyuluhan pengembangan tanaman untuk BBN, menyediakan benih dan bibit tanaman BBN, dan mengintegrasikan kegiatan pengembangan dan kegiatan pasca panen tanaman BBN.

Berkaitan dengan kebijakan penyediaan energi nasional, bulan Agustus 2013 yang lalu pemerintah telah mengeluarkan paket kebijakan ekonomi, salah satu yang penting adalah mengurangi impor solar sebesar 100 ribu barel per hari melalui substitusi dengan biodiesel, atau 5,6 juta kL per tahun.   Jumlah tersebut setara dengan 30% total ekspor CPO.

Dalam pengembangan tanaman penghasil bioenergi, Kementerian Pertanian menggunakan simulasi sistem modeling.  Dalam konseptualisasi sistem penyediaan bahan baku bioenergi berkelanjutan, input lingkungan, input terkontrol, input tak terkontrol menjadi faktor penting yang diperhatikan untuk menghasilkan output sesuai yang diharapkan.

Dengan memperhatikan lingkungan strategis, kebijakan Kementerian Pertanian dalam menyediakan bahan baku bioenergi dikelompokkan menjadi tiga, yaitu (1) kebijakan jangka pendek, yakni pengembangan/intensifikasi komoditas yang sudah ditanam secara luas, antara lain kelapa sawit, kelapa, tebu, sagu, dan ubikayu, (2) kebijakan jangka menengah, yakni pengkajian dan pengembangan komoditas potensial penghasil bioenergi, antara lain kemiri sunan, jarak pagar,  nyamplung, aren, dan nipah, dan (3) kebijakan jangka panjang, yakni pemanfaatan biomassa limbah pertanian (generasi kedua).

Penyediaan bahan baku jangka pendek untuk biodiesel  sumber utamanya adalah CPO, dimana produksinya dianggap mencukupi untuk memenuhi kebutuhan tersebut.  Saat inipun produksi biodiesel mengandalkan CPO. Sementara itu, untuk bioetanol sumber yang sangat memungkinkan adalah memanfaatkan hasil samping industri tebu, yakni molases. Ubi kayu merupakan sumber lain, tetapi memerlukan penambahan areal tanam.  Sagu juga berpotensi menjadi sumber penghasil bioetanol, tetapi diperlukan dukungan infrastruktur untuk meningkatkan aksesibilitas produk dan wilayah.

Kebijakan jangka menengah difokuskan pada pengembangan komoditas potensial penghasil BBN. Pengembangan tanaman BBN potensial, terutama tanaman penghasil biofuel yang tidak bersaing dengan pangan. Fokus pengembangan pada penciptaan varietas ungggul, peningkatan produktivitas dan kadar minyak yang tinggi dan efisien, dan dapat dikembangkan di lahan sub optimal.

Saat ini, komoditas potensial yang paling menonjol adalah kemiri sunan.  Tanaman ini mulai berproduksi pada umur 4 tahun, dan pada umur 8 tahun produksi biji mencapai 15 ton atau ekuivalen dengan 6 – 8 ton biodiesel per ha/tahun.  Kemiri sunan dapat dikembangkan di lahan sub optimal.  Namun, pengembangan komoditas ini perlu dukungan kepastian harga dan pasar.

Kebijakan pemanfaatan biomassa limbah pertanian adalah bahwa biomassa limbah pertanian menjadi sumber bahan bakar nabati jangka panjang. Pengembangan pertanian yang berkelanjutan tetap memerlukan biomassa limbah pertanian, baik  untuk kelestarian lingkungan pertanian maupun untuk manfaat ekonominya.

Teknologi BBN generasi kedua biomassa padat limbah pertanian akan terus dikembangkan dengan tetap menjaga keberlanjutan di sektor pertanian.  Kebijakan ini mengarah pada sistem pertanian masa depan yaitu Sistem Pertanian Bioindustri yang tercantum dalam rancangan Strategi Induk Pembangunan Pertanian (SIPP) Kementerian Pertanian.

Ke depan, kebijakan Kementerian Pertanian akan melanjutkan program sesuai Inpres No. 1/2006.  Kebijakan penyediaan bahan baku jangka pendek ditekankan untuk mengembangkan dan mengintensifkan komoditas yang sudah ditanam secara luas.  Kebijakan jangka menengah adalah dengan mengkaji dan mengembangkan komoditas potensial penghasil bioenergi, sedangkan kebijakan jangka panjang ditekankan pada pemanfaataan biomassa limbah pertanian (generasi kedua).

Kebijakan Kementerian Pertanian dalam penyediaan bahan baku bioenergi dilakukan dengan mengembangkan perkebunan energy terintegrasi, suatu konsep yang menghubungkan kegiatan on farm dan pengolahan  dalam satu wilayah (hulu-hilir), terintegrasi dalam sebuah rantai nilai.

Kebijakan Kementerian Pertanian dalam mendukung penyediaan bahan baku bioenergi sangat memerlukan dukungan sektor lain. Beberapa masalah terkait perlu dipecahkan, yaitu (1) Ketersediaan lahan untuk mendukung pengembangan Perkebunan Energi Terintegrasi, (2) Jaminan pasar dan harga ekonomi bahan baku BBN (tidak terulang kasus jarak pagar), (3) Insentif lain untuk mendukung pengembangan Perkebunan Energi Terintegrasi, dan (4) Pengembangan industri pengolahan BBN skala pedesaan untuk mendukung Desa Mandiri Energi.

Seusai sidang, Menteri pertanian yang didamping oleh beberapa pejabat Kementerian Pertanian memberikan pernyataan dalam konferensi pers seputar isu-isu strategis bidang pertanian yang dibahas dalam sidang DEN ke-11.  Pada intinya bahwa BBN merupakan sumber energi penting untuk meningkatkan ketahanan energi.

Perlu dukungan dan peran dari beberapa sektor baik kementerian terkait maupun pemerintah daerah tentang penyediaan dan pemanfaatan BBN, penyediaan lahan baru untuk penanaman tanaman sumber BBN, sehingga kontinuitas penyediaan BBN jangka panjang terjamin. Perbaikan kebijakan seperti mengurangi hambatan produksi, harga, perlindungan petani, dan membentuk pokja untuk mematangkan pemanfaatan BBN.

Foto kiri: Menteri ESDM selaku ketua Harian DEN (tengah) sedang membuka Sidang DEN ke-11. Foto kanan: Menteri ESDM menyampaikan pernyataan seusai membuka Sidang DEN ke-11.

 

Foto kiri: Suasana sidang DEN. Foto kanan: Menteri Pertanian (Dr. Suswono) sedang memberikan penjelasan dalam Konferensi pers seusai sidang DEN

Kepala Puslitbangbun (Dr. M. Syakir) sedang menjelaskan inovasi teknologi Badan Litbang Pertanian tentang bahan bakar nabati kepada Menteri ESDM dan Menteri Riset dan Teknologi, didampingi oleh Menteri Pertanian dan Kepala Badan Litbang Pertanian.

Info terkait :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *