Pemanfaatan Biopori pada Pengembangan Kemiri Sunan di Lahan Marginal

Artikel Kemiri Sunan Berita Perkebunan

BERITA PERKEBUNAN – Kemiri sunan (Reutealis trisperma) banyak dikembangkan di lahan suboptimal dan marginal agar tidak bersaing dengan tanaman pangan dalam pemanfaatan lahan. Namun, lahan marginal umumnya didominasi lahan miring dan berbukit yang rawan mengalami run off. Pemanfaatan teknologi biopori membantu meningkatkan konservasi air dan kesuburan tanah sehingga dapat menghemat biaya pemupukan.

Pengembangan tanaman kemiri sunan (Reutealis trisperma) banyak diarahkan pada lahan suboptimal dan marginal agar tidak bersaing dengan tanaman pangan. Sayangnya, lahan marginal umumnya didominasi lahan miring dan berbukit sehingga rawan mengalami run off (aliran permukaan), terutama di daerah tropis dengan instensitas dan hari hujan tinggi.

Run off dapat menyebabkan erosi dan mengikis lapisan permukaan tanah (top soil) sehingga bahan organik dan unsur hara yang biasanya terkumpul di bagian atas ikut menghilang. Padahal bahan organik yang rendah turut menurunkan kemampuan tanah dalam menyimpan air.

Kemiri sunan sendiri sebenarnya memiliki daya adaptasi yang cukup baik di lahan kering, tapi tetap membutuhkan batas kondisi ekosistem agar dapat berproduksi secara optimal. Apalagi fungsi air cukup penting karena dapat membantu menyerap mineral dalam tanah, mempercepat pengomposan, dan meningkatkan ketersediaan hara bagi tanaman.

Masalah run off dan rendahnya daya tampung air dalam tanah ini bisa diatasi dengan pembuatan lubang resapan biopori (LRB). Tabung biopori ditanam di kedua sisi kemiri sunan dengan jarak selebar kanopi dari pangkal pohon.

Menurut penelitian Mohammad Cholid dan Budi Santoso dari Balittas (2020), aplikasi kedalaman biopori 50 cm menunjukkan pertumbuhan terbaik dibandingkan kedalaman yang lebih dangkal atau tanpa biopori. Hal ini terlihat dari pengamatan parameter pertumbuhan tinggi tanaman, lingkar batang, jumlah cabang, dan lebar kanopi.

LRB dengan kedalaman tersebut dapat menampung serasah kering sebanyak 1,025 kg dengan kadar air 9,5%. Hal ini sangat bermanfaat mengingat kemiri sunan menghasilkan serasah yang berlimpah menjelang musim kemarau. Satu pohon yang berumur 5-6 tahun saja menghasilkan sekitar 75 kg serasah/tahun.

Serasah yang diolah menjadi kompos secara alami dalam tabung biopori memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan serasah yang hanya menjadi mulsa di permukaan. Keunggulannya adalah, bahan organik atau kompos yang dihasilkan dapat mencapai lapisan sub soil sesuai kedalaman LRB.

Semakin tinggi jumlah bahan organik yang ada dalam tanah, semakin baik pula kapasitas airnya sehingga proses fisiologi tanaman dapat berjalan normal. Bahkan, pemanfaatan biopori dengan kedalaman 50 cm ini dapat meningkatkan laju transpirasi 8,31 mmmol m2/detik, fotosintesis 0,67 µ mol/m2/detik, dan konduktivitas stomata 11,51 mol/m2/detik.

Proses pengomposan pun masih bisa dipercepat hingga dua kali lipat dengan menambahkan cacing tanah Lumbricus rubellus pada serasah. Cacing tersebut akan mengonsumsi serasah dan menghasilkan kascing dalam bentuk kompos yang lebih tersedia bagi tanaman. Cara lainnya, petani dapat menambahkan inokulum gabungan dari mikroorganisme seperti Lactobacillus, Bacillus, Saccharomyces, dan Acetobacter.

Karena kompos tersedia secara alami, petani dapat menghemat biaya pemupukan. Meningkatnya bahan organik pada tanah juga mampu meningkatkan populasi mikroba dan meningkatkan kualitas tanah, sehingga baik untuk produksi tanaman secara berkelanjutan. (Nurul/Tim Web)

Ingin tahu lebih lengkap tentang manfaat teknologi biopori untuk perbaikan kesuburan lahan dan konservasi air pada kawasan kemiri sunan? Simak selengkapnya pada artikel berikut ini:  Warta Puslitbang Perkebunan Vol. 26 No. 2, 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *