Mitigasi dan adaptasi dampak perubahan iklim pada tanaman perkebunan

Berita Perkebunan Highlight

BERITA PERKEBUNAN – Pertanian merupakan salah satu sektor penyumbang gas rumah kaca (GRK) yang menyebabkan pemanasan global. Sektor ini berkontribusi sekitar 13,5% terhadap peningkatan GRK di atmosfir secara global, dan 12% dari total emisi CO2 nasional.

Pada tingkat tertentu, peningkatan kandungan CO2 di udara berdampak positif terhadap pertumbuhan tanaman tahunan. Menurut salah satu studi di India, pengayaan CO2 hingga 550 μmol/mol dapat memberbaiki pertumbuhan kelapa. Pasalnya, pada kondisi tersebut, intensitas fotosintesis tinggi sehingga memperluas area permukaan daun serta meningkatkan biomassa pucuk dan akar.

Akan tetapi, peningkatan suhu udara 3⁰C di atas 31⁰C dapat mengurangi luas daun, kandungan klorofil, dan total fotosintesis. Kondisi ini juga meningkatkan transpirasi sehingga kebutuhan air meningkat, pematangan buah lebih cepat, mutu hasil menurun, dan intensitas serangan HPT meningkat. Lebih lanjut, peningkatan GRK secara terus-menerus justru menyebabkan perubahan iklim yang berdampak pada meningkatnya risiko bencana alam.

Oleh karena itu, diperlukan upaya mitigasi atau pengurangan dampak bencana dari berbagai sektor. Di sektor pertanian, cara ini bisa ditempuh dengan memperbaiki keragaan tanaman sehingga mampu berproduksi secara optimal. 

Menurut Bariot Hafif dari Balittri, ada beberapa langkah yang dapat ditempuh untuk mencapainya. Yang pertama adalah menggunakan varietas tanaman unggul yang toleran terhadap perubahan iklim dan peningkatan CO2.

Langkah kedua adalah pemupukan sesuai kebutuhan tanaman, terutama pupuk N yang cenderung meningkatkan emisi GRK. Untuk mengetahui kebutuhan tanaman, petani dapat mempertimbangkan umur atau melakukan analisis tanah. Cara pemberian dan penempatan pupuk juga penting untuk memastikan penyerapan pupuk oleh tanaman berjalan seefektif dan seefisien mungkin.

Penerapan sistem irigasi yang efisien dan efektif pun penting dalam mendukung mitigasi dan adaptasi dampak perubahan iklim. Apalagi mengingat perubahan pola curah hujan menjadi salah satu indikator perubahan iklim yang utama.

Untuk semakin mendukung mitigasi, petani dapat memanfaatkan bahan organik untuk mengatasi cekaman air. Pencampuran bahan organik seperti pupuk kandang dan kompos bisa membantu membentuk pori-pori tanah, memperbaiki struktur tanah, serta meningkatkan kemampuan tanah dalam memegang air. (Nurul/Tim Web)

Ingin tahu lebih lengkap tentang mitigasi dan adaptasi dampak perubahan iklim pada tanaman perkebunan? Simak lebih lengkapnya pada tautan berikut: Warta: Mitigasi dan adaptasi dampak perubahan iklim pada tanaman perkebunan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *