Mengenal Pala Hutan dari Aceh Selatan

Artikel Pala Berita Perkebunan Highlight

INFO PERKEBUNAN -Jika dilihat dari fisiknya, buah dan biji pala hutan (M. schifferri Warb) cukup mirip dengan pala budidaya. Meski demikian, buah, biji, dan fulinya tidak memiliki aroma menyengat. Pahahal itulah yang selama ini menjadi ciri khas pala pada umumnya. Lantas, apa yang menarik dari pala hutan? Adakah keunggulannya yang bisa dimanfaatkan oleh petani dan masyarakat?

Pala hutan (M. chifferri Warb) banyak tumbuh di area pertanaman pala atau wilayah hutan yang berbatasan dengan kebun pala di Aceh Selatan. Tanaman ini memiliki ciri fisik yang cukup mirip dengan pala budidaya dari segi buah dan biji. Hanya saja, ukurannya lebih besar dari pala pada umumnya. Selain itu, tidak ada aroma menyengat yang muncul dari buah, biji, dan fulinya.

Menurut Sri Wahyuni dan Ahmad Bakre dari Balittro dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Subussalam-Aceh, buah pala hutan berbentuk bulat sampai agak lonjong. Adapun warnanya kehijauan pada buah yang masih muda dan berubah kecokelatan saat tua. Satu rangkaian bunga pala biasanya menghasilkan 1-2 buah pala hutan dengan berat masak 100-200 gram/butir.

Dibandingkan pala pada umumnya, kulit pala hutan tidak licin dan lebih tipis sehingga porsi biji di dalamnya cukup besar. Namun, biji ini diselimuti arilus (salut biji) yang sangat padat dan rapat sehingga tidak terlihat. Warna arliusnya krem kekuningan saat muda dan jingga terang saat tua.

Jika dipegang, buah dan biji pala hutan agak bergetah dan lengket. Rasanya pun kelat. Hingga saat ini, belum ada penggunaan buah, biji, dan fuli pala hutan secara tradisional untuk kesehatan. Bagian tanaman yang telah dimanfaatkan adalah kayunya sebagai perkakas. Itu pun bukan termasuk kelas kayu yang bagus. Tanaman pala hutan juga difungsikan sebagi pohon pelindung dan pemecah angin di sekitar pala budidaya.

Sejak tahun 2014, petani mulai memanfaatkan biji pala hutan sebagai batang bawah untuk penyambungan. Tanaman ini dinilai memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap jamur akar putih yang biasa menyerang pala budidaya. Sementara itu, pala unggul lokal dipilih sebagai batang atas.

Secara teknis dan pertumbuhan, teknik penyambungan ini dinilai sudah berhasil. Tanaman hasil sambungan bahkan sudah mulai belajar berbunga di umur 18 bulan dan berproduksi di umur 2 tahun. Sayangnya, belum ada penelitan lebih lanjut tentang pengaruh batang bawah tehadap mutu buah yang dihasilkan.

Oleh karena itu, perlu kajian lebih lanjut sebelum mengembangkan benih sambungan ini untuk ditanam di areal yang lebih luas. Apalagi mengingat biji pala hutan tua kelas benih di petani dihargai lebih mahal. Pengambiilan biji tua untuk batang bawah memang cukup susah karena lokasinya yang sulit dijangkau di area hutan.

Selain itu, ketersedian batang atas untuk sambungan pala hutan sangat terbatas. Penyebabnya adalah, petani memerlukan batang atas yang diambil dari tunas air agar sesuai dengan ukuran batang bawah pala hutan yang tergolong besar. Padahal pala yang telah tua biasanya tidak memiliki banyak tunas air alami sehingga perlu dirangsang pembentukannya lewat pemangkasan cabang terlebih dahulu. (Bur & Nurul/Tim Web)

Ingin mengenal lebih dalam tentang pala hutan dari Aceh Selatan? Simak informasi lengkapnya diartkel berikut ini: Mengenal Pala Hutan Aceh Selatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *