Matrik Kebijakan Fleksibel Campuran Biodiesel

Artikel BBN Berita Perkebunan

INFO PERKEBUNAN – Kebijakan pemerintah untuk mendorong penggunaan biodiesel telah direalisasikan dengan penggunaan B20 (campuran biodiesel 20% dalam solar) secara mandatory. Penggunaan biodiesel yang semakin banyak seperti penggunaan B30 bahkan hingga B100 sangat diharapkan karena Indonesia dapat menghasilkan bahan baku biodiesel berupa minyak sawit mentah (CPO) dalam jumlah berlebih (dari kebutuhan dalam negeri) yang dapat digunakan sebagai substitusi minyak (bumi) mentah yang jumlahnya kurang (impor). Pada gilirannya diharapkan dapat menghemat devisa  dan mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan internasional.

Nilai keekonomian biodiesel pada tingkat penggunaan biodiesel tertentu tergantung pada harga relatif minyak sawit mentah dan minyak mentah, yang harganya lebih murah digunakan lebih banyak. Dengan asumsi bahwa secara teknis tingkat penggunaan masing-masing bahan memiliki fleksibilitas untuk dicampur, maka dapat ditentukan tingkat kombinasi (pencampuran) biodiesel optimum dengan harga yang paling murah. Jika tingkat pencampuran biodiesel yang layak dilakukan secara teknis, misalkan, minimum 20% (B20) dan maksimum 100% (B100), maka dapat disusun matrik tingkat pencampuran biodiesel optimum sesuai dengan harga relatif minyak sawit mentah dan minyak mentah. Untuk produksi biodiesel yang berdaya saing atau yang secara ekonomis berkelanjutan dapat menentukan tingkat pencampurannya menggunakan matrik tersebut, yang dinamakan “Matrik Kebijakan Fleksibel” atau MKF.

Selengkapnya Download fulltext : Info Tekbun 11 (6) 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *