Kunjungan Kerja Staf Khusus Mentan ke Daerah Perbatasan Tahuna Kabupaten Sangihe

Aktifitas Puslitbangbun

AKTIVITAS PUSLITBANGBUN – Kunjungan kerja staf khusus menteri pertanian Bapak Yesiah Ery Tamalogi, SE. didampingi oleh empat Kepala Balai yaitu Kepala Balit Palma, Kepala KKP Manado, Kepala BPTP Sulut dan Kepala BPTP Gorontalo ke daerah perbatasan Tahuna Sangihe diterima baik oleh Bupati Sangihe. Kunjungan kerja ini dalam rangka meninjaui percepatan pembangunan pertanian di daerah perbatasan.

Kegiatan diawali dengan koordinasi dan tatap muka dengan Bapak Bupati Kabupaten Sangihe Jabes Ezar Gaghana, SE, ME bersama dengan jajarannya di kediamanan di rumah jabatan Bupati Sangihe. Kunker ini bertepatan dengan pelantikan Sekretaris Daerah Sangihe yang baru pada tanggal 16 November 2020. Bupati Sangihe sangat memberikan apresiasi dan sambutan yang hangat atas kunjungan kerja tersebut. Beliau memaparkan bahwa diversifikasi pangan telah dilakukan selama 3 tahun di Sangihe, harga stabil, suplai cukup dan daya beli bagus.

Tanaman sagu dan umbi-umbian (ubi jalar dan ubi kayu) menjadi sumber diversifikasi karbohidrat di Sangihe. Kemudian daerah ini disokong oleh tanaman hortikultura (cabe, tomat, bawang, dll). Kepala Dinas Pertanian Tahuna, Bapak Godfried F. Pella menjelaskan bahwa petani di Tahuna hanya terkendala sarana dan prasarana yang meliputi akses jalan raya terlalu jauh dari lokasi pengolahan dan penanaman komoditi pertanian. Namun aktivitas bertani tetap berjalan secara terus menerus untuk menyambung hidup petani dan keluarganya.

Kepala Dinas tanaman pangan ibu Sherly Lalu, S.E., kemudian menambahkan bahwa pangan yang sangat diminati penduduk adalah panganan sagu yang dicampur dengan kelapa yang dinikmati dengan lauk pauk sebagai pengganti nasi. Selanjutnya Staf Khusus Mentan menanggapi bahwa petani adalah pahlawan bagi negara Indonesia, pahlawan devisa negara. Potongan anggaran sebanyak 7 triliun tidak menghalangi pertanian tumbuh di Indonesia hal ini ditandai dengan pertumbuhan ekonomi 4 persen lebih yang disokong dari sektor pertanian.

Bupati Sangihe menambahkan bahwa selain kelapa, dan tanaman hortikultura maka terdapat juga tanaman yang butuh untuk diperhatikan di Sangihe yaitu komoditi pala, khususnya terkait pengolahan fully, biji, buah, daging, dan tempurung pala sangat menjanjikan sebagai komoditi ekspor. Sehingga pemda Sangihe akan fokus disini kedepannya. Selain itu, program yang sedang dijalankan dan diterapkan saat ini di Sangihe yaitu program tanpa pupuk kimia. Baik untuk tanaman kelapa, pala, cengkeh dan hortikultura aplikasinya tanpa pupuk kimia lagi gencar diterapkan.

Dr. Ir. Ismail Maskromo menanggapi bahwa kelapa sedikit berbuah karena kurang diperhatikan. Perhatian dan pemupukan tidak hanya menggunakan pupuk kimia saja, namun terdapat pula pupuk hayati organik yang bisa diaplikasikan untuk menambah hasil dan pendapatan petani. Tanaman yang biasa diberi makanan/pupuk 2 kali ketika ditingkatkan jumlah aplikasi pupuknya akan mendongkrak hasil yang lebih optimal lagi.

Bupati Sangihe menambahkan bahwa terdapat komunitas petani muda milenial diantaranya anak-anak fresh graduate S1 yang bertani dengan manajemen sistem yang terpola dengan baik. Ini akan dikembangkan kedepannya dengan memberikan fasilitas pelatihan baik smart farming dan pendampingan terhadap teknis budidaya yang lebih baik lagi.

Kepala Balit Palma dan kepala BPTP Sulut mengatakan akan mengawal program ini untuk membantu petani lebih sejahtera lagi. Dari diskusi yang hangat ini selanjutnya diketahui juga shorgum sudah mulai dikembangkan juga di Sangihe, namun karena kultur dan lidah masyarakat yang belum bisa beradaptasi dengan baik, sehingga komoditi ini belum terlalu diterima dikalangan masyarakat untuk dikonsumsi sehari-hari, jelas ibu Dinas Tanaman Pangan Tahuna.

Pada diskusi di rumah jabatan Bupati Sangihe, kepala Balit Palma Dr. Ir. Ismail maskromo, MSi menyampaikan bahwa varietas kelapa belum ada yang dilepas di Sangihe, walaupun demikian kedepan akan kami eksplore dan temukan varietas unggul lokal yang akan menjadi tanaman spesifik lokasi di Sangihe. Kemudian Bupati Sangihe menanggapi bahwa terdapat jenis kelapa yang lambat bertambah tinggi di Sangihe yang tingginya hanya 1 sampai 1,5 meter yang mungkin dapat dilihat dan dicari karakter perbedaannya dengan varietas yang lain di Indonesia. Demikian halnya untuk tanaman sagu, sangat berpeluang juga untuk dilepas sebagai varietas unggul kedepan yang berasal dari Tahuna Sangihe. (Anjas)

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Palma (Balit Palma)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *