Konsorsium Agens Hayati untuk Mengendalikan Penyakit Busuk Pangkal Batang Lada

Artikel Lada Berita Perkebunan

INFO PERKEBUNAN – Salah satu penyakit yang paling ditakuti petani lada adalah busuk pangkal batang (BPB) akibat jamur Phytophthora capsici. Pasalnya, penyakit ini bisa menyerang semua bagian tanaman dan bersifat mematikan. 

BPB sering kali dikendalikan dengan cara kimiawi menggunakan fungisida. Akan tetapi, cara ini sebenarnya memiliki dampak negatif terhadap manusia dan lingkungan. Fungisida dapat membunuh organisme lain yang bukan sasaran, juga meningkatkan resistensi jika digunakan terus-menerus.

Sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan, petani bisa memanfaatkan rhizobakteri seperti Pseudomonas sp., Bacillus sp., Micrococcus sp., Burkholderia sp., Streptomyces sp. untuk pengendalian hayati. Cara ini juga lebih murah dan mudah diaplikasikan oleh petani.

Menurut Sukamto, peneliti Balittro, dua isolat agens hayati Burkholderia cepacia (S-KB7 dan B-KB4) mampu menghasilkan metabolit sekunder yang mampu menghambat pertumbuhan dan melisis jamur P. capsici. Hasil pengujian juga menunjukkan bahwa keduanya aman terhadap manusia.

Strain S-KB7 pun dapat menghasilkan metabolit sekunder yang bersifat volatil sehingga bisa dimasukkan dalam golongan microbial volatile organic compounds (MvoCs). MvoCs sendiri sudah lama dilaporkan sebagai sinyal untuk menginduksi ketahanan sistemik terhadap penyakit dan tekanan biotik lain, serta memicu pertumbuhan tanaman. 

Formulasi B. Cepasia dengan PGPR, yaitu Pseudomonas sp. (pelarut fosfat) dan Azospirillum sp. (pengikat nitrogen) bisa digunakan sebagai starter. Jadi, petani dapat memperbanyaknya dengan menggunakan media molase/gula jawa (10%) dan pakan ikan dengan protein >35-40%. 

Jus tauge (kecambah kacang hijau) 6% dan air kelapa 10% pun bisa ditambahkan untuk merangsang pertumbuhan tanaman. Hasil pengujian memperlihatkan, penyiraman 10 ml/liter agens hayati (AH) pada persemaian lada yang telah diinokulasi buatan dengan P. capsici 63,3% efektif dalam mengendalikan BPB.

Selain itu, perlakuan AH, PGPR, maupun konsorsiumnya (AH+PGPR) mampu menahan serangan penyakit BPB hingga 2 bulan pada kebun lada di Belitung yang sudah terserang dengan intensitas sebesar 30%. Perlakuan yang sama juga dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman dibandingkan dengan kontrol.

Aplikasi pada persemaian dimaksudkan agar AH sudah ada dalam perakaran sebagai perlindungan saat dipindah ke lapang. Akan tetapi, aplikasi juga bisa dilakukan di awal penanaman dengan menyiramkan 10 ml/l AH di sekitar tanaman. Untuk kebun yang sudah terserang, aplikasi AH maupun konsorsium bisa dilakukan kembali setelah 2-3 minggu. (Nurul/Tim Web)

Tertarik ingin tahu lebih jauh tentang penggunaan agens hayati untuk mengendalikan BPB lada? Simak selengkapnya dalam tautan berikut: Konsorsium Agens Hayati untuk Mengendalikan Penyakit Busuk Pangkal Batang Lada

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *