Kapuslitbang Perkebunan Mendorong Upaya Pengembangan Agrowisata Faperta Universitas Sebelas Maret

Aktifitas Puslitbangbun Highlight

AKTIVITAS PUSLITBANGBUN – Obyek wisata merupakan penghasil devisa non-migas yang kini banyak dikembangkan di berbagai daerah. Obyek wisata yang paling lama berkembang adalah obyek wisata yang menonjolkan keindahan alam, seni dan budaya. Obyek wisata ini oleh Pemerintah telah diakui sebagai penghasil devisa terbesar dari sektor non-migas.
Mengingat keindahan alam menjadi daya tarik yang kuat bagi wisatawan, potensi ini menarik untuk digarap. Indonesia sebagai negara agraris memiliki lahan pertanian yang sangat luas. Rangkaian kegiatan pertanian dari budidaya sampai pasca panen dapat dijadikan daya tarik tersendiri bagi kegiatan pariwisata. Dengan menggabungkan kegiatan agronomi dengan pariwisata, banyak perkebunan-perkebunan besar di Indonesia dikembangkan menjadi obyek wisata agro.

Demikian pentingnya Agrowisata, sehingga pada 23 November 2020 Fakultas Pertanian Univesitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan Webinar Nasional bertemakan ”Pemberdayaan dan Pengembangan Desa Wisata di Indonesia: Agrowisata dan Ekonomi Kreatif di Pedesaan”. Webinar diikuti oleh Civitas Akademika UNS, Mahasiswa dan Alumni Faperta UNS serta Unit Kerja Lingkup Kementerian Pertanian.

Tampil sebagai pembicara pada Webinar tersebut Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Ir. Syafaruddin, Ph.D., Anggota Dewan Penasehat KADIN Indonesia Irfan Asy’ari Sudirman W., Dosen Faperta UNS Dr. Agung Wibowo, SP., M.Si., dan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS Dr. Intan Novela. Pemaparan empat nara sumber menjadi sangat penting dengan berbagai tinjauan aspek teknologi, aspek ekonomi, aspek peran mahasiswa dan manajemen pengelolaan Agrowisata, demikian disampaikan oleh Dekan Fakultas Pertanian Prof. Dr. Samanhudi pada saat memberikan sambutan.

Senada dengan yang disampaikan Dekan Faperta, pada saat pembukaan Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Prof. Dr. Kuncoro Diharjo, S.T., M.T menekankan pentingnya pengelolaan Agrowisata secara profesional dengan mengedepankan kelestarian dan keberlanjutan lingkungan sekaligus memberdayakan potensi ekonomi masyarakat perdesaan. Tidak hanya hal itu, Kuncoro berharap peran dan mahasiwa dan alumni menjadi sangat penting dalam upaya mendorong dan memberikan kontribusi pemikiran baik teknis dan non teknis, sehingga di masa mendatang Agrowisata menjadi pilihan utama wisata baik dalam negeri dan luar negeri dengan segudang daya tarik, tegas Kuncoro.

Kepala Puslitbang Perkebunan, mendapat kesempatan pertama untuk memaparkan ”Pengembangan Kawasan Agro Edu Wisata”. Kapus menyambut dengan antusias penyelenggaraan Webinar Nasional dengan mengangkat tema dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya pedesaan melalui pengembangan Agrowisata. Hal ini sejalan dengan target Kementerian Pertanian melalui kebijakan dan program: meningkatkan produktivitas pangan nasional, memperlancar distribusi pangan, mempermudah akses transportasi, menjaga stabilitas harga dan mengembangkan buffer stock dan intervensi pasar (operasi pasar).

Selanjutnya Syafaruddin menegaskan, bahwa kawasan pengembangan komoditas pertanian harus memiliki nilai ekonomi tinggi, memiliki skala ekonomi yang memadai, bersifat tematik, dan melalui pendekatan inovasi pertanian yang difungsikan sebagai tempat pelatihan, pemagangan, kemitraan usaha, pusat diseminasi dan advokasi bisnis ke masyarakat luas, sekaligus menjadi kawasan wisata yang aman, ramah pengunjung dan ramah lingkungan bagi wisatawan domestik maupun manca negara.

Pada akhir pemaparanya, Syafaruddin memberikan usulan lokasi Agro Edu Wisata (AEW) untuk dapat dikembangkan melalui kerja sama kedepan yang dimiliki oleh Kementerian Pertanian berbasis komoditas dan non komoditas dari Badan Ketahanan Pangan, Ditjen Perkebunan, Ditjen Hortikultura, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian, Ditjen Tanaman Pagan, Badan Litbang Pertanian, dan Badan SDM Pertanian yang tersebar diseluruh Indonesia yang dibagi menjadi 2 calon lokasi prioritas 1 dan 2 dengan jumlah total 137 lokasi dengan mencerminkan komoditi unggulan, kecuali untuk Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian mendukung seluruh kegiatan AEW.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan siap berperan aktif dan ikut serta mendorong upaya pengembangan AEW dengan memaksimalkan sumberdaya yang dimiliki dan peran serta tenaga teknis dan peneliti. Hal ini seiring dengan ruang lingkup kerja sama yang telah ditandatangani antara Puslitbang Perkebunan dan Faperta UNS beberapa waktu yang lalu, Imbuh Syafaruddin. (Sae & Bur)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *