Integrasi Tanaman Sela dan Ternak Lebah Madu untuk Tingkatkan Pendapatan Petani Kapuk

Artikel Kapuk Berita Perkebunan

INFO PERKEBUNAN – Indonesia sempat menjadi produsen kapuk terbesar di dunia dengan angka produksi mencapai 80 ribu ton/tahun di 1996-2000. Sayangnya, produksi kapuk kian menurun karena kurangnya peremajaan, meningkatnya jumlah pohon kapuk tua yang tidak produktif, serta adanya konversi lahan untuk pelebaran jalan, industri, dan perumahan.

Selain itu, petani enggan menanam kapuk karena dianggap kurang menguntungkan. Tak hanya kalah saing dengan serat sintetis, kapuk hanya bisa dipanen setahun sekali walaupun umur ekonomisnya mencapai 60 tahun.

Meski demikian, tren dunia untuk kembali ke serat alam yang ramah lingkungan akan memposisikan kapuk sebagai komoditas strategis di masa mendatang. Apalagi tumbuhan dengan nama Latin Ceiba pentandra ini tidak hanya bisa dimanfaatkan bagian kapuknya.

Serat buahnya dapat diolah sebagai bahan dasar matras, bantal, hiasan dinding, pakaian pelindung, penahan panas, dan peredam suara. Kulit keringnya bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Begitu pun dengan biji, bungkil, kayu, daun, dan bunga kapuk, dapat diolah menjadi berbagai produk komersial.

Untuk meningkatkan pendapatan petani, kapuk juga dapat diintegerasikan dengan tanaman sela seperti palawija, tanaman obat, dan buah-buahan. Pemilihan jenis tanaman sela biasanya bergantung pada wilayah pengembangannya. Di Pati misalnya, yang banyak dilipih adalah kacang tanah, jagung, dan ubi kayu. Sementara itu di Kabupaten Pasuruan, mangga, jeruk, dan srikaya lebih banyak dipilih sebagai tanaman sela.

Menurut hasil observasi di IP2TP Muktiharjo, Balittas tahun 2019, integrasi kapuk dan tanaman sela ubi kayu bisa menghasilkan 5 ton gelondong kapuk/ha dan 25 ton ubi kayu/ha dengan total penerimaan mencapai Rp60 juta/ha. Oleh karena itu, penanaman tanaman sela bisa membantu mengungkit pendapatan petani, mengurangi risiko kerugian, meningkatkan efisiensi penggunaan lahan, dan membuka kesempatan kerja.

Selain tanaman sela, budidaya kapuk juga cocok diintegrasikan dengan peternakan lebah madu. Pasalnya, interaksi lebah madu dengan tanaman kapuk dapat meningkatkan produktivitas dan mutu hasil kapuk. Pendapatan petani pun bisa terungkit lewat madu yang dihasilkan lebah.

Meski demikian, petani perlu memastikan ketersediaan pakan alami lebah sepanjang tahun. Apalagi mengingat kapuk hanya berbunga dan menghasilkan nektar sekali dalam setahun.

Penanaman kapuk tipe indika dan karibea dalam satu kawasan mampu menyediakan pakan alami selama lima bulan karena dua tipe tanaman tersebut berbunga di waktu berbeda. Petani juga dapat memanfaatkan tanaman sela semusim dan tahunan untuk menyediakan sumber pakan alami bagi lebah di bulan lainnya. (Nurul & Bur/Tim Web)

Sumber : InfoTekbun 2020-IntegrasiTanSelaKapuk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *