Inovasi Teknologi Balitbangtan “Induksi Pembuahan Kakao di Luar Musim” Terbukti Membuahkan Hasil

Artikel Kakao Berita Perkebunan Highlight

BERITA PERKEBUNAN – Perhelatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke 39 yang dilaksanakan tanggal 2-5 November 2019 yang lalu menyisakan berita yang menggembirakan. Pasalnya, inovasi teknologi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian terkait dengan pengelolaan pertanaman kakao, saat ini membuahkan hasil. Produktivitas kakao meningkat sangat signifikan. Petani sangat senang dan berterimakasih atas teknologi Balitbangtan tersebut. Teknologi yang dimaksud adalah teknologi untuk menginduksi pembuahan kakao di luar musim yang sudah diperkenalkan oleh Kepala Balitbangtan Dr. Fadjry Djufry saat perhelatan HPS 39.

Saat itu, HPS yang berlokasi di Desa Pudambu, Kecamatan Angata, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, menampilkan Inovasi teknologi kakao Balitbangtan yakni teknologi perbenihan dan budidaya kakao. Yang menarik, salah satu inovasi teknologi yang diperkenalkan adalah “inovasi teknologi pembuahan kakao di luar musim” yang dikembangkan oleh salah satu UPT Balitbangtan yakni Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Sukabumi.

Saat ini, petani kakao di sekitar lokasi temu lapang HPS 39 tersebut merasa sangat senang. Melalui Prof. Dr. Rubiyo, M.Si., para petani menuturkan secara langsung bahwa mereka dengan bangganya bercerita tentang hasil produksi kakao yang meningkat secara signifikan. Hampir setiap minggu, bisa memanen sekitar 400 kg biji basah. Menurut perhitungan, dengan harga sebesar 10 ribu/kg biji basah, maka pendapatan yang mereka peroleh sekitar 4 juta rupiah per minggu atau sekitar Rp 16 juta/bulan. Sebenarnya harga jual biji kakao akan lebih mahal kalau dapat dijual dengan kondisi biji kering. Namun karena masih terkendala tidak adanya tempat pengeringan yang layak, maka terpaksa mereka menjual biji basah.

Sebagaimana diketahui bahwa panen raya kakao pada umumnya terjadi pada bulan Mei dan Juni. Di luar bulan-bulan tersebut, panen akan mengalami penurunan. Dengan menerapkan teknologi pembuahan di luar musim panen memungkinkan untuk meningkatkan produktivitas kakao. Adapun Tahapan teknologi inovasi tersebut adalah: 1) aplikasi pupuk majemuk/extra yang dikombinasikan dengan pupuk hayati (Puhay) yang didahului penggunaan pupuk organik dan aplikasi hormon pembungaan, 2) pemangkasan tanaman kakao secara terbatas, 3) pembersihan lumut pada batang untuk mencegah serangan layu buah, 4) penataan saluran air dan pembuatan rorak untuk persiapan penyiraman pada musim kemarau, 5) melakukan penyerbukan buatan, dan 6) penggunaan biopestisida untuk mengendalikan hama penyakit seperti pestisida nabati biotris untuk penggerek buah kakao (PBK), biofungisida Trichoderma untuk penyakit busuk buah kakao (BBK) dan metabolit sekunder Trichoderma untuk penyakit vascular streak dieback (VSD).

Peran pemerintah untuk mendukung peningkatan produktivitas dan mutu produk kakao masih sangat diharapkan. Utamanya untuk sarana dan prasarana budidaya dan teknologi pascapanen. Sebagai contoh, penyediaan sarana untuk proses pengeringan biji kakao akan sangat membantu meningkatkan nilai jual kakao. Ditambah lagi, penyediaan teknologi pengolahan kakao menjadi produk olahan seperti coklat bubuk, permen coklat dan lain-lain akan memberi nilai tambah tersendiri untuk komoditas kakao. Semoga ini menjadi motivasi untuk melakukan lompatan inovasi lainnya demi kejayaan petani di Indonesia.

Foto: Kondisi Kakao sebelum dan saat HPS.

 

Foto: Kondisi Kakao 6 bulan pasca HPS (saat ini).

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *