Dukungan Puslitbang Perkebunan pada Program Food Estate dalam Mewujudkan Kedaulatan Pangan

Aktifitas Puslitbangbun Highlight

AKTIVITAS PUSLITBANGBUN – Puslitbang Perkebunan sangat mendukung implementasi arahan direktif Presiden RI Bapak Joko Widodo untuk meningkatkan ketahanan dan kemandirian pangan Indonesia melalui intensifikasi dan perluasan lahan (ekstensifikasi) pada wilayah yang sesuai. Puslitbang Perkebunan juga sangat mendukung implementasi terobosan melalui model food estate dengan model terintegrasi secara hulu dan hilir yang berkelanjutan dalam jangka panjang.

Kepala Puslitbang Perkebunan, Ir. Syafaruddin, Ph.D. menyatakan bahwa potensi lahan untuk intensifikasi dan ekstensifikasi secara nasional adalah 119.6 juta hektar yang di dalamnya mencakup lahan kering dan lahan basah (lahan sawah dan lahan rawa). Secara agregat, lahan tersebut 76.64 % berupa lahan masam (ber pH rendah) sehingga digolongkan lahan sub optimal (LSO). Dari total lahan masam, seluas 107.3 juta ha berupa lahan kering masam, 33.4 juta ha berupa lahan rawa masam dan 5.7 juta ha berupa lahan basah/sawah.

Selanjutnya, Syafaruddin menegaskan, saat ini telah banyak kajian scientific di perguruan tinggi dan lembaga penelitian serta pengalaman empiris petani bahwa kunci keberhasilan optimalisasi lahan masam untuk intensifikasi dan ekstensifikasi adalah melalui restorasi (penyehatan tanah). Lahan masam yang sudah direstorasi mampu mendukung produktivitas jagung dari 4 ton meningkat menjadi 12 ton per hektar (50-400%), produksi padi dari 1.8 ton menjadi 5-6 ton (200-300%), dan kedelai dari 0.5 menjadi 1.2-1.8 ton (200-350%). Restorasi lahan masam juga terbukti efektif untuk meningkatkan produksi tanaman palawija, hortikultura, perkebunan dan kayu-kayuan.

Dalam upaya percepatan implementasi program Food Estate Puslitbang Perkebunan bersama Unit Kerja (UK) lain mendapat mandat dalam mensukseskan program tersebut melalui optimalisasi sumberdaya manusia dan teknologi inovasi perkebunan terutaman untuk pengembanan tanaman kelapa dan empon-empon atau obat-obatan dilahan pekarangan existing seluas 40 hektar. Lokasi pengembangan di kawasan Center of Excelent Food Estate Blanti Siam, Kab. Pulang Pisau, Kalimantan Tengah.

Untuk memantapkan persiapan dan pelaksanaan kegiatan tersebut, Kepala Bidang Kerja Sama dan Pandayagunaan Hasil Penelitian Puslitbang Perkebunan Dr. Tedy Dirhamsyah, SP., M.A.B. dan Kepala Bidang Program dan Evaluasi Puslitbang Perkebunan Dr. Rustan Massinai bersama Kepala Balai Penelitian Tanaman Palma (Balit Palma) Dr. Ir. Ismail Maskromo, M.Si., Kepala Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Dr. Tri Joko Santoso, S.P., M.Si. dan Tim Food Estate Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) melakukan studi lapang di lokasi Food Estate khususnya tanaman perkebunan di Desa Blanti Siam yang merupakan transmigran dari Pulau Jawa tahun 1980 an miliki luas kurang lebih 60-an Ha. Masing-masing Kepala Keluarga (KK) petani diberikan lahan pekarangan seluas 0.25 ha (lebar 25 m panjang 100 m). Sisa lahan rata-rata 0.125 ha dapat dimanfaatkan untuk penanaman Kelapa Genjah atau Hibrida sebanyak 15-20 tanaman dan tanaman sela lainnya seperti kopi, empon-empon, jeruk, sayuran dan lain-lain. Selanjutnya penduduk Desa Blanti Siam saat ini sebanyak 275 KK yang tertata pada 6 Katingan (Blok). Jika setiap pekarangan diberikan 15 tanam kelapa maka diperlukan 4.125 benih kelapa siap tanam atau 5.000 butir benih.

Berdasarkan hasil kajian, bahwa tanaman kelapa akan diarahkan untuk produksi nira yang diolah menjadi gula. Penderesan nira dapat dilakukan oleh petani atau anggota keluarga lainnya pada pagi dan sore hari. Kepemilikan tanaman Kelapa Genjah sebanyak 15 pohon per KK akan memberikan peluang menghasilkan nira 30-35 liter per hari (2-3 liter per pohon per hari). Petani cukup memanaskan nira sampai mendidih, kemudian dijual ke unit pengolahan pada setiap Blok Desa per 50 KK. Petani dapat menjual niranya Rp1.500 – 2.000 per liter tergantung kadar gula niranya sehingga penghasilan per hari Rp 45.000 – 70.000.

Kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) dan pendampingan akan dilakukan dari Balit Palma terkait budidaya kelapa, penderesan nira dan pengolahan gula. Jumlah benih kelapa yg diperlukan untuk lokasi Desa Blanti Siam, Pulang Pisau sebanyak 5.000 butir. Jika jumlah yang sama untuk lokasi Kab. Kapuas, berarti diperlukan total 10.000 benih yg dikirimkan dari Manado.

Tentu program ini membutuhkan upaya dan kerja keras semua pihak terutama Lingkup Puslitbang Perkebunan. Hal senada disampaikan oleh Kepala Balitbangtan pada saat Rapim B di Bogor, bahwa seluruh potensi yang dimiliki oleh Balitbangtan harus dikerahkan untuk kesuksesan program food estate. Balitbangtan menjadi ujung tombak dalam program ini, mengingat program ini syarat dengan optimalisasi teknologi inovasi terbaik. (Sae/Tim Web)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *