Dilema Usaha Tani Tebu: Studi Kasus Tebu Rakyat di Malang

Artikel Tebu Berita Perkebunan

INFO PERKEBUNAN – Sebagian besar tanaman tebu di Indonesia tumbuh di lahan kering tegalan, namun produktivitas tanaman dapat dioptimalkan berdasarkan teknik penanaman yang baik. Dimulai dengan penggunaan bahan tanaman yang berkualitas dan pemeliharaan tanaman sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa jika tanaman tebu dipupuk secara seimbang, ditambah dengan pupuk organik dan pengelentekan daun daun dengan baik, hasilnya tidak jauh berbeda dengan hasil tebu di sawah pada kondisi pertanaman yang sama. Tebu di lahan kering biasanya lebih tinggi rendemennya dibanding tebu di sawah.

Kementerian Pertanian telah memperkenalkan program pembongkaran bongkar ratoon dan rawat ratoon, namun tingkat realisasinya di bidang ini masih sangat rendah. Misalnya, di Kabupaten Malang, pada 2015, hanya 38% realisasi bongkar ratoon yang dilaksanakan di wilayah tersebut. Kendala utama adalah keterbatasan modal, karena petani percaya bahwa dengan perawatan yang intensif, produktivitas tetap baik. Data penelitian dari Patanas menunjukkan produktivitas selama 2009-2018 relatif stagnan, dengan kisaran 40 ton per hektar.

Produktivitasnya sangat rendah. Jika bongkar ratoon dilakukan minimal 5-6 tahun kedepan produksi tebu akan meningkat, bisa mencapai 100 ton/ha (PSEKP, 2018). Masalahnya, skema kredit bongkar ratoon belum bisa menutupi semua biaya kegiatan bongkar ratoon, terutama bongkar ratoon (15 juta rupiah) dan biaya tanam (15 juta rupiah per hektar) dan pembelian benih 7-8 juta/ha jika petani menggunakan varietas Bulu Lawang (BL). (Bur/Tim Web)

Sumber : Infotekbun-Dilema Usaha Tani Tebu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *