Budidaya Kopi Liberika “Usahatani Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan” di Lahan Gambut

Artikel Kopi Berita Perkebunan Highlight

INFO PERKEBUNAN – Meningkatnya konversi lahan pertanian menjadi tantangan tersendiri dalam memelihara ketahanan pangan Indonesia. Pasalnya, lahan yang tersedia untuk digarap kebanyakan berupa lahan suboptimal yang perlu dikelola terlebih dahulu agar produktif.

Salah satu jenis lahan suboptimal di Indonesia adalah gambut yang luasannya hampir mencapai 10 juta ha. Lahan ini memiliki berbagai faktor pembatas untuk dijadikan lahan budidaya, seperti penurunan permukaan, kemasaman relatif tinggi, ketersediaan hara rendah, dan volume air berlebih.

Meski demikian, ternyata ada tanaman yang mampu beradaptasi dengan baik di lahan gambut, seperti kopi Liberika. Petani di Kabupaten Tanjung Jabung Barat Provinsi Jambi bahkan telah membudidayakan kopi ini di tanah gambut sejak 1940 hingga sekarang. Kurang lebih ada 3000 ha lahan gambut yang ditanami Liberika oleh 2.300 KK petani.

Tak hanya mampu beradaptasi dengan baik, kopi ini tergolong lebih tahan terhadap karat daun dan penggerek buah dibandingkan Arabika. Liberika yang ditanam di tanah gambut pasang surut pun mampu berbuah sepanjang tahun dengan masa panen puncak di bulan Mei-Juli dan November-Januari.

Dengan sistem budidaya konvensional, Liberika menghasilkan biji kering sekitar 800-1.000 kg/ha. Sementara itu, menurut hasil pengujian Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri), penambahan pembenah seperti kapur dan pupuk mikroba dapat meningkatkan produksi biji kering hingga 1.500 kg/ha.

Soal rasa, kopi Liberika ternyata cukup diminati. Nilai hasil uji cita rasanya mencapai 7,5; lebih baik dibandingkan nilai kesukaan konsumen terhadap Robusta yang berkisar antara 6,5-7. Biji kopi Liberika juga diekspor ke Malaysia dan Singapura dengan kisaran harga Rp25 ribu/kg, lebih tinggi dari Robusta yang dihargai Rp18 ribu/kg. Di tahun 2017 dan 2018, harganya bahkan sempat mencapai Rp45 ribu/kg.

Di Indonesia sendiri, Liberika masih kalah pamor dari Arabika dan Robusta. Oleh karena itu, Balittri rajin mempromosikan jenis kopi ini di berbagai ajang pameran inovasi teknologi pertanian. Tak berhenti di situ, Balittri juga meluncurkan dua varietas unggul Liberika, yakni Liberoid Meranti 1 (LIM 1) dan Liberoid Meranti 2 (LIM 2).

Selain menguntungkan dari sisi ekonomi, Liberika juga berperan penting dalam menjaga kelestarian tanah gambut. Jenis tanah ini bila dikelola sembarangan akan melepas banyak gas CO2 dan polutan lain ke udara. Sekitar 50% emisi gas karbon di Indonesia bahkan dilaporkan berasal dari gambut (Hooijer et al., 2010).

Sementara itu, hasil observasi yang dilakukan peneliti Balittri (Hafif dan Sasmitha, 2019) menunjukkan, rata-rata emisi CO2 dari gambut yang ditanami Liberika muda (4-6 tahun) dan tua (>19 tahun) adalah 24 ton/ha. Jumlah tersebut masih berada dalam rentang emisi CO2 gambut yang berada dalam kondisi alami (20-40 ton/ha/tahun).

Biomasa kopi yang dikembalikan ke tanah bahkan berkontribusi menangkap dan menyimpan karbon (C) hingga 12 ton/ha/tahun atau setara 45 ton CO2/ha/tahun. Belum lagi ada C yang dijerap biomasa Liberika semasa hidup. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pengembangan kopi Liberika di lahan gambut merupakan bentuk budidaya yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. (Bur/Tim Web)

Sumber : InfoTekbun20-BudidayaKopiLiberika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *