Badan Litbang Pertanian Siap Mendukung Pengembangan Kemiri Sunan

Aktifitas Puslitbangbun

AKTIVITAS PUSLITBANGBUN – Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian untuk kelima kali menerima kunjungan Kementerian ESDM tanggal 9 Februari 2014 di Kebun Percobaan Pakuwon, Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar, Puslitbang Perkebunan.  Wakil Menteri ESDM (Ir. Susilo Siswoutomo) kali ini melakukan kunjungan kerja bersama dengan perwakilan dari R20-Regions of Climate Action, diantaranya Dubes Seychelles (Mr. Nico Barito),  terkait dengan upaya membahas kelanjutan pemanfaatan lahan bekas pertambangan dengan memanfaatkan hasil litbang khususnya penanaman kemiri sunan sebagai tanaman penghasil bahan baku biodiesel.

R20-Regions of Climate Action merupakan organisasi non profit yang didirikan pada tahun 2010 oleh Gubernur Arnold Schwarzenegger dan pemimpin global lainnya, bekerjasama dengan United Nations.  Organisasi yang beranggotakan negara-negara di Afrika, Asia Fasifik, Amerika Utara, dan Amerika Selatan ini memiliki misi membantu pemerintah lokal di seluruh dunia dalam meningkatkan dan menguatkan ekonomi berbasis low carbon, dengan cara mensinergikan antara aparatur, teknologi, dan keuangan untuk menciptakan program low carbon yang berkelanjutan.

Kepala Badan Litbang Pertanian, Dr. Haryono dan Kepala Puslitbang Perkebunan Dr. Muhammad Syakir mengatakan bahwa Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian, siap mendukung bahan tanaman dan inovasi teknologi dalam pengembangan kemiri sunan.  Saat ini pengembangan kemiri sunan sudah dilakukan antara lain melalui kerjasama Kementerian Pertanian dengan PT. Timah, Pemerintah Kabupaten Boyolali, Kabupaten Bangka Selatan, dan Kabupaten Belitung Timur.  Pengembangan kemiri sunan ini sangat strategis sebagai upaya untuk meningkatkan pemanfaatan biodiesel di atas 10%, sebagaimana arahan Presiden RI.

Kesiapan bahan baku, dalam hal ini biji kemiri sunan yang diproses menjadi biodiesel merupakan faktor penting.  Kemiri sunan mulai berproduksi pada umur 3-4 tahun.  Pada umur 8 tahun produksi sampai 15 ton (6-8 ton biodiesel) per ha per tahun. Dari biji kemiri sunan  dihasilkan crude oil (40-50%) dengan rendemen biodiesel (88-92%).  Biodiesel yang dihasilkan sudah memenuhi spesifikasi teknis standar SNI.Oleh karena itu, upaya perluasan pengembangan penanaman kemiri sunan perlu didukung oleh berbagai pihak yang konsen terhadap upaya mengurangi kebergantungan terhadap bahan bakar minyak yang berasal dari fosil dan yang selama ini memberatkan anggaran negara, karena untuk memenuhi konsumsi BBM di dalam negeri, selain hasil produksi sendiri juga harus impor sekitar 900 ribu barrel/hari.

Kepala Balitbangtan (Dr. Haryono) mendampingi Wamen ESDM (Ir. Susilo Siswoutomo – Kaos merah) dan Dubes Seychelles (Mr. Nico Barito – Kaos putih).

Kepala Balitbangtan sedang memberikan sambutan dan arahan (kiri). Wamen ESDM sedang memberikan sambutan dan arahan (tengah). Kepala Puslitbang Perkebunan sedang menjelaskan tentang litbang kemiri sunan (kanan).

 

Suasana pertemuan di ruangan (kiri). Diskusi lapangan (tengah). Penjelasan tentang pengolahan kemiri sunan (kanan).

Penuangan biodiesel ke kendaraan oleh Dubes Seychelles, Wamen ESDM, Ditjen EBTKE (Ir. Rida Mulyana, M.Sc), dan Kepala Balitbangtan.

Berita terkait :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *