Antisipasi Penyebaran COVID-19, Puslitbang Perkebunan Kembali Lakukan Rapid Test

Aktifitas Puslitbangbun Highlight Indonesia

Sebagai upaya mengantisipasi penyebaran Virus Covid-19 di lingkungan Kerja, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan (Puslitbang Perkebunan) melaksanakan Rapid Test ke-2 untuk seluruh Karyawan Puslitbang Perkebunan baik ASN, Honorer maupun kontrak di Kantor Puslitbang Perkebunan, menggunakan jenis pemeriksaan Serologi dengan metode ECLIA. Bogor (22/10).

Bekerjasama dengan Rumah Sakit Siloam Bogor, Rapid Test dilaksanakan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Seluruh karyawan secara tertib bergantian melakukan pengambilan sampel darah yang kemudian divalidasi data lengkapnya agar tidak tertukar satu sama lain.

Kepala Puslitbang Perkebunan Ir. Syafaruddin, Ph.D mengungkapkan bahwa kegiatan ini juga penting untuk mengetahui kondisi kesehatan seluruh karyawan agar dapat termonitor dengan baik dan dapat bekerja dengan maksimal.

“Rapid Test ini kita lakukan tentunya yang utama adalah untuk memotong rantai penyebaran virus Covid-19 sesuai arahan dari pemerintah, selain itu hal ini juga penting untuk memastikan kondisi kesehatan masing-masing karyawan Puslitbang Perkebunan sehingga dapat bekerja lebih optimal baik di kantor maupun dari rumah”, ungkap Syafaruddin.

Lebih lanjut Kapus menyampaikan bahwa hasil Rapid Test ini belum tentu menyatakan bahwa karyawan tersebut positif Covid-19, maka apabila ditemukan hasil Rapid yang reaktif akan segera dilakukan SWAB TEST kepada yang bersangkutan.

Beliau turut mengatakan, berbagai langkah antisipasi juga telah dilakukan demi memutus rantai penyebaran COVID-19, seperti kegiatan rapid test pertama yang sebelumnya juga telah dilakukan pada awal bulan juni , penyemprotan disinfektan secara rutin seminggu 2 x, penyediaan disinfektan dan tempat cuci tangan dipintu masuk kantor, pengukuran suhu tubuh sebelum masuk kantor, pengaturan jaga jarak, serta penerapan mekanisme bekerja dari rumah (WFH).

Sebagai informasi, Rapid Test merupakan metode skrining awal untuk mendeteksi antibodi dalam tubuh seseorang, yaitu IgM dan IgG yang diproduksi oleh tubuh untuk melawan virus Corona. Antibodi ini akan dibentuk oleh tubuh secara alami bila ada paparan virus. Rapid Test menjadi deteksi awal terhadap paparan virus, namun tidak dapat dijadikan dasar diagnosis apakah seseorang terpapar Covid-19 atau tidak. Untuk pemeriksaan yang lebih akurat, dibutuhkan pemeriksaan lanjutan dengan menggunakan metode SWAB dan tes PCR.

Puslitbang Perkebunan menentukan pemeriksaan Serologi dengan metode ECLIA Anti-SARS-CoV-2 (Electrochemiluminescence Immuno Assay), yaitu pemeriksaan kadar antibodi terhadap Covid-19 menggunakan alat otomatis (autoanalyzer). Pemeriksaan metode ECLIA merupakan pemeriksaan semi kuantitatif untuk identifikasi individu dengan respon imun adaptif terhadap SARS-CoV-2 yang timbul akibat infeksi virus, termasuk individu yang tidak bergejala maupun telah sembuh. Penting untuk dipahami bahwa pemeriksaan serologi tidak mendeteksi virus itu sendiri, tetapi mendeteksi antibodi yang dibuat oleh sistem kekebalan tubuh.

Melansir informasi yang dibagikan Kementerian Kesehatan RI, hal yang harus dilakukan apabila hasil skrining awal reaktif adalah melakukan isolasi mandiri di rumah apabila tidak ada gejala apapun. Tetapi apabila muncul gejala meliputi demam, batuk, tenggorokan gatal dan sesak napas yang memberat, maka harus segera menghubungi fasilitas layanan kesehatan guna pemeriksaan lebih lanjut.

“Kita semua berharap seluruh Karyawan dan masyarakat yang berada di lingkungan kantor Puslitbang Perkebunan dapat tetap menjaga kesehatannya, dan menghimbau agar selalu memperhatikan protokol kesehatan sesuai anjuran Pemerintah”, tutup KaPuslitbang Perkebunan. (Anjas/Tim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *