Analisis Kestabilan Genetik Tebu Hasil Mikropropagasi pada Beberapa Frekuensi Subkultur Menggunakan Marka SSR

Artikel Tebu Berita Perkebunan Highlight

BERITA PERKEBUNAN – Perbanyakan tebu secara in vitro merupakan metode yang efektif untuk menghasilkan benih berkualitas yang seragam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kestabilan genetik berdasarkan analisis marka SSR terhadap enam varietas tebu yang disubkultur pada media regenerasi. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Biologi Molekuler, BB Biogen, Bogor mulai Mei 2015 hingga Oktober 2016. Varietas tebu yang digunakan adalah PS 862, PS 865, PS 881, PSJK 922, TK 386, dan GMP 3 hasil perbanyakan eksplan menggunakan tunas apikal. Eksplan tebu disubkultur pada media regenerasi MS yang diperkaya dengan 0,3 mg/l BAP; 0,5 mg/l IBA; dan 100 mg/l PVP, selama 3, 6, dan 9 kali. DNA tebu diekstraksi menggunakan metode CTAB kemudian kestabilan genetiknya dianalisis menggunakan 20 pasang primer SSR. Data dianalisis secara gerombol menggunakan perangkat lunak NTSYS dengan metode UPGMA dalam subprogram SAHN. Hasil analisis gerombol menunjukkan bahwa tunas in vitro lima varietas tebu (PS 865, PS 881, PSJK 922, TK 386, dan GMP 3) yang disubkultur sampai sembilan kali pada media regenerasi tetap stabil secara genetik dengan nilai koefisien kemiripan dengan tetuanya sebesar >0,94. Namun demikian, varietas PS 862 secara genetik tidak stabil setelah disubkultur enam dan sembilan kali dengan nilai koefisien kemiripan dengan tetuanya hanya 0,64. Hal ini mengindikasikan hanya varietas PS 862 yang mengalami variasi somaklonal setelah disubkultur lebih dari enam kali. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa tunas in vitro dari lima varietas tebu lainnya lebih stabil secara genetik selama subkutur dibandingkan dengan varetas PS 862. Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui penyebab terjadinya perubahan genetik pada varietas PS 862 selama subkultu.

Selengkapnya klik di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *