Analisa Biaya Pokok dan Kelayakan Agribisnis Serai Wangi Organik

Artikel Serai Wangi Berita Perkebunan Highlight

INFO PERKEBUNAN – Tanaman atsiri merupakan penghasil utama pewangi dan perasa alami untuk bahan baku industri farmasi, kosmetik, dan obat-obatan. Meningkatnya tren penggunaan produk alami dan organik selama beberapa tahun terakhir turut mendongkrak permintaan terhadap minyak atsiri. Tahun 2018, permintaannya mencapai 2,27 juta secara global, dan diperkirakan akan terus berkembang dengan laju 8,6% dari 2019 hingga 2025.

Permintaan terhadap minyak atsiri organik juga meningkat karena dinilai lebih ramah lingkungan dibanding yang konvensional. Meski demikian, merancang sistem pertanian organik dengan menyatukan prinsip-prinsip berkelanjutan dan produktivitas tidaklah mudah. Butuh waktu, tenaga, dan biaya lebih untuk memulainya. Oleh karena itu, diperlukan kajian lebih lanjut untuk melihat potensi keuntungannya.

Ekwasita Rini Pribadi, Agus Kardinan, dan Octavia Trisilawati dari Balittro melakukan analisis biaya pokok dan kelayakan agribisnis serai wangi organik di kebun PT Pemalang Agro Wangi pada bulan April 2019. Harga pokok dihitung dengan metode full costing yang mempertimbangkan seluruh biaya produksi. Perhitungan dilakukan terhadap harga pokok benih dalam bentuk anakan, usaha serai wangi organik dalam bentuk daun, dan penyulingan dalam bentuk minyak.

Dari hasil penelitian, didapatkan bahwa harga pokok benih adalah Rp103/stek, lebih rendah dari harga jual. Biaya yang dikeluarkan sebagian besar terserap untuk tenaga kerja (37%), bahan dan peralatan (35%), dan sewa lahan (25%). Usaha tani benih serai wangi organik layak diusahakan, dilihat dari perhitungan B/C yang mencapai 4,7 dan NPV Rp289.386.802/ha.

Harga pokok daun serai wangi juga lebih rendah dari harga jual, yakni sebesar Rp662/kg. Biaya yang dikeluarkan paling banyak terserap untuk sewa lahan (43%), tenaga kerja (34%), serta bahan dan peralatan (23%). Adapun perhitungan B/C dan NPV-nya sebesar 1,05 dan Rp49.024.781, sehingga usaha tani daun serai wangi secara organik tergolong layak untuk diusahakan.

Sementara itu, biaya pokok produksi minyak serai wangi organik sebesar Rp205.757/kg, lebih tinggi dari harga jualnya sebesar Rp180.000. Kadar minyak atsiri yang dihasilkan hanya 0,35-0,7%, lebih rendah daripada atsiri anorganik yang mencapai >1% sehingga biaya pokok produksinya lebih tinggi.

Dari perhitungan nilai B/C diperoleh angka <1 dan NPV negatif pada tingkat bunga 7%. Oleh karena itu, usaha tani minyak atsiri organik dianggap tidak layak secara finansial. Untuk mendapatkan keuntungan, harga jual minyak atsiri organik seharusnya lebih mahal dari anorganik. (Nurul/Tim web)

Ingin tahu lebih dalam tentang analisis biaya pokok dan kelayakan agribisnis serai wangi organik? Simak selengkapnya dalam jurnal berikut ini: Analisa Biaya Pokok dan Kelayakan Agribisnis Serai Wangi Organik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *