Akar Manis, Tanaman Obat Ekspektoran Bernilai Tinggi

Artikel Obat Berita Perkebunan

INFO PERKEBUNAN – Akar manis dihasilkan dari akar Glycyrrhiza glabra dan G. inflata, tanaman sejenis polong-polongan dari Eropa Selatan, Asia Tengah, dan barat laut Tiongkok. Disebut juga sebagai liquorice atau licoric dalam bahasa Inggris, akar manis sering digunakan sebagai simplisia atau bahan alami untuk obat-obatan.

Di dalamnya terdapat berbagai macam komponen kimia yang bermanfaat bagi kesehatan, seperti flavonoid, sterol, asam amino, minyak atsiri, saponin, dll. Terdapat pula sifat antiinflamasi, antivirus, antimikroba, antioksidan, antikanker, dan antimodulator dalam ektrak tanaman ini.

Sejak zaman dahulu, akar manis sering digunakan sebagai obat tradisional untuk mengobati tukak lambung, hepatitis C, panyakit paru-paru, penyakit kulit, disentri, gangguan pencernaan, abses bengkak, dll.

Di zaman modern, tanaman ini merupakan komponen utama obat batuk hitam (OBH) dan permen pelega tenggorokan. Penelitian tahun 2003 juga menunjukkan bahwa komponen utama akar manis, glycyrrhizic acid (GA) secara efektif menghambat replikasi dua isolat virus korona terkait SARS.

Modifikasi struktur GA pun dapat membantu mengurangi peningkatkan sitoksisitas dan meningkatkan aktivitas asam amino dalam melawan SARS-CoV. Selain itu, GA juga bermanfaat dalam mengobati infeksi pernapasan dan sindrom gangguan pernapasan akut.

Karena manfaatnya ini, permintaan akar manis dari berbagai negara terus meningkat dari tahun ke tahun. Di 2019, nilai perdagangannya mencapai USD 170.137 juta. Eksportir utamanya adalah Perancis, Uzbekistan, Iran, Jerman, dan Tiongkok.

Namun belakangan, Tiongkok juga menjadi pengimpor sehingga terjadi kelangkaan pasokan di pasar. Beberapa negara di Eropa seperti Prancis, Italia, dan Spanyol pernah mencoba membudidayakannya, tapi harga jual yang mereka peroleh tidak dapat bersaing dengan akar manis yang dipanen secara liar.

Indonesia sendiri merupakan salah satu negara importir akar manis. Di tahun 2019, nilai impornya mencapai USD 2,74 juta dengan volume sebesar 227 ton atau 2% dari total impor ekstrak akar manis dunia. Namun sebenarnya, di tahun 2017 Indonesia pernah melakukan ekspor sebesar 1,1 sampai 26,2 ton ke Iran, Turki, Belanda, dan Jerman.

Meskipun wilayah produksinya belum diketahui secara pasti, Indonesia sebenarnya berpeluang mengembangkan akar manis sendiri. Dengan demikian, pasokan ke industri dalam negeri tidak akan terganggu dengan semakin langkanya akar manis di pasaran.

Simplisia ini pun diharapkan dapat lebih dikembangkan lagi untuk membantu mengatasi pandemi Covid-19 di Indonesia. Apalagi mengingat kemampuan akar manis untuk membantu mengobati masalah pernapasan dan sifat antivirus yang dimilikinya. (Nurul/Tim Web)

Sumber: perkebunan_WartaVol26No2-2020.pdf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *