Agave Sisalana, Tanaman Eksotis Penghasil Serat Alam Serbaguna

Berita Perkebunan Highlight Serat

BERITA PERKEBUNAN – Serat alam merupakan serat yang dihasilkan dari binatang atau tanaman. Binatang penghasil serat alam seperti domba yang menghasilkan serat wol dan ulat sutra yang menghasilkan serat sutra, sedangkan serat yang dihasilkan tanaman antara lain serat buah (kapas, kapuk), serat batang (kenaf, rosella, rami, yute, linum) atau serat daun (agave, abaka). Serat yang dihasilkan dari daun Agave sp dikenal juga dengan sebutan serat sisal (Gambar 1). Serat sisal pada awalnya hanya dimanfaatkan sebagai bahan baku tali-temali seperti tali pengikat daun tembakau di Madura dan karung goni untuk kemasan produk-produk pertanian.

Gambar 1. Serat sisal yang berasal dari tanaman Agave sp.

Seiring dengan kampanye penggunaan produk ramah lingkungan pemanfaatan serat sisal semakin berkembang, sebagai campuran bahan bangunan dan konstruksi, komponen otomotif, industri rel kereta api, geotekstil, pulp dan kertas berkualitas tinggi, karton dan berbagai kemasan. Kandungan lignin yang tinggi pada batang tempat tumbuhnya bunga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan instrument musik seperti drum hingga flute. Sebagai campuran bahan komposit, sisal dapat dikombinasikan dengan polyester, epoxy, polyethylene dan karet. Industri kendaraan di India telah menggunakan campuran serat sisal karena lebih ringan dan lebih menghemat biaya produksi.

Kandungan saponin dari sisal dapat dimanfaatkan untuk pembuatan sabun dan industri farmasi. Getah sisal dengan kandungan antiseptiknya dapat digunakan untuk menghentikan pertumbuhan bakteri pada lambung dan usus. Kandungan lignin yang rendah pada serat sisal berpotensi dimanfaatkan untuk menghasilkan ethanol karena kandungan lignin yang rendah memerlukan energi yang lebih rendah dalam proses fermentasi selulosa dan hemiselulosa untuk menghasilkan gula yang selanjutnya diproses menjadi ethanol.

Agave sisalana berasal dari Meksiko dan dibawa masuk ke Indonesia pada awal abad ke 17 oleh bangsa Spanyol. Pertanaman Agave sisalana di Indonesia yang tersisa terdapat di Blitar Selatan dengan kondisi tanah berbatu dan berilkim kering tetapi saat ini semakin jarang dibudidayakan akibat kalah bersaing dengan serat sintetis.

Gambar 2. Lokasi pengembangan agave di Pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat

Saat ini tanaman sisal sedang dikembangkan dalam skala perkebunan oleh PT. Sumbawa Bangkit Sejahtera (PT. SBS) di Pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat dan mencapai 1000 ha (Gambar 2). Pada tahun 2017, bersama Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) sebagai pendamping, PT. SBS berhasil melepas satu varietas sisal intoduksi dari china dengan nama varietas H 11648 berdasarkan SK kementan No.109/Kpts/KB.010/2/2017 Keunggulan varietas H 11648 : potensi produksi serat kering 4.728-5.964,763 kg/ha/tahun, rendemen serat 4-5,298 %, serat berwarna putih kekuningan mengkilap dengan kekuatan 31,363 ± 1,849 g/tex, memiliki umur satu siklus tanaman 8-13 tahun dengan umur panen pertama 36-48 bulan setelah tanam. Selain itu varietas juga memiliki keunggulan morfologi tidak terdapat duri pada tepi daun. Keberadaan duri pada tepi daun sangat tidak diinginkan karena menyulitkan pada saat panen dan proses penyertan dengan mesin desikator dapat menimbulkan kecelakaan kerja yaitu luka pada tangan. Kelemahan varietas H 11648 diantaranya peka terhadap serangan penyakit Fusarium. Namun demikian tetap aman dikembangkan dengan perlakuan fungisida serta teknik budidaya yang baik.

Untuk mendukung pengembangan, PT SBS menyiapkan benih yang ditanam di beberapa lokasi (Sumbawa Besar dan Sumbawa Barat) dengan luas ±50 Ha (±1.200.000 tanaman). Kebun benih tersebut tertata dan terpelihara dengan baik. Saat ini PT. SBS dapat menghasilkan benih dari tunas lateral.

Balittas sebagai balai penelitian dibawah Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian yang salah satu mandat penelitiannya adalah tanaman serat memiliki 23 koleksi tanaman Agave sp. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti Balittas menunjukkan bahwa beberapa klon tanaman Agave sp memiliki karakteristik yang unggul dan berpotensi untuk dikembangkan dan dilepas sebagai varietas unggul. Keunggulan tersebut meliputi : a) karakter agronomi (panjang daun, lebar daun, jumlah daun), b) karakter hasil (bobot segar daun, berat serat kering, rendemen serat), c) karakter morfologi (pinggiran daun yang tidak berduri atau berduri sedikit), d) karakter kimia (kandungan holoselulosa, hemiselulosa, α-selulosa, lignin, pentosan, kandungan abu dan kandungan ekstratif seperti tingkat kelarutan dalam air panas, air dingin, NaOH dan alcohol benzene). Karakter agronomi, karakter hasil dan karakter morfologi akan memberikan gambaran potensil hasil serat yang dapat dihasilkan, sedangkan kandungan kimiawi akan mempengaruhi proses pengolahan serat dan kualitas produk yang dihasilkan. Kerjasama antara Balittas dengan PT. SBSS, saat ini sedang melakukan uji multilokasi 7 klon unggul Agave sp koleksi Balittas untuk di daerah pengembangan Sumbawa dengan tujuan untuk mendapatkan 1-2 varietas unggul baru. Uji multilokasi merupakan salah satu persyaratan yang harus dilakukan sebelum dilepas sebagai varietas unggul baru.

Balittas juga telah berhasil merakit media kultur jaringan untuk perbanyakan agave secara invitro. Perbanyakan benih secara in vitro merupakan salah satu solusi dalam penyediaan bibit agave dalam jumlah besar, cepat, seragam dan bebas penyakit. Media kultur jaringan yang telah berhasil dirakit oleh para peneliti Balittas mampu merangsang pertumbuhan tunas dan akar Agave sp yang lebih cepat dan banyak.

Sisal memiliki daya adaptasi yang luas, dapat tumbuh di wilayah tropis yang beriklim lembab hingga kering dan wilayah subtropis yang dingin. Sisal juga termasuk tanaman CAM (Carssulaceae acid metabolism) yang sangat efisien dalam menggunakan air selama proses metabolismenya (33% lebih hemat dari tanaman C3 dan 16% dari tanaman C4 untuk menghasilkan biomassa yang sama), mampu beradaptasi terhadap kekeringan dengan transpirasi rendah dan tetap melakukan proses fotosintesis. Agave memiliki siklus hidup yang panjang antara 7 hingga 100 tahun. Berdasarkan hal tersebut sisal dapat menjadi pilihan yang sangat potensial dikembangkan sebagai komoditas unggulan untuk daerah-daerah beriklim kering dan kurang subur serta daerah.

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *