Workshop Strategi Kebijakan Tebu

Aktifitas Puslitbangbun Artikel Tebu

BOGOR, PERKEBUNAN – Sejarah mengatakan bahwa Indonesia merupakan salah satu penghasil gula terbesar dunia.

Pada tahun 1930, varietas tebu asal Indonesia yaitu POJ 2878 telah menyelamatkan industri gula di Kolombia dan negara-negara Amerika Selatan lainnya. Berikutnya berhasil memproduksi gula lebih dari 3 juta ton pada tahun 1940. Namun bagaimana dengan sekarang?

Pertanyaan tersebut dibahas pada acara Workshop Strategi Kebijakan Tebu yang dilaksanakan Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan pada hari Kamis tanggal 29 Maret 2012 di Gedung Display Puslitbang Perkebunan Bogor. Workshop dihadiri oleh para peneliti lingkup Puslitbang Perkebunan dengan nara sumber Bapak Untung Murdiyatmo, Ph.D, seorang peneliti Tebu dengan disiplin keilmuan Molecular Biologist.

Produksi gula nasional sekarang ini kurang lebih 2,3 juta ton/tahun, sedangkan konsumsi nasional mencapai 5,01 juta ton/tahun sehingga masih kekurangan pasokan gula sebesar 2,7 juta ton/tahun. Sedangkan luas lahan tebu di Indonesia sekarang ini 478.20 hektar (Indonesia Commercial Newsletter, 2010) dan 246.215 hektar atau lebih dari 50 persen berada di pulau Jawa.

Oleh karena itu bila menginginkan swasembada gula maka perlu diarahkan perluasan lahan di beberapa wilayah lainnya seperti di pulau Sumatera daerah Lampung, Sumatera Selatan, Sumatra Utara dan lain-lain. Demikian juga wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua.

Kita juga bisa mengadopsi salah satu hasil riset Agronomi yang sedang dikembangkan secara luas di Kolombia dan beberapa negara lain, yaitu ‘single bud planting system’.

Dengan menerapkan program utama budidaya tebu, yaitu : (a) penataan bibit sehat, (b) produksi bibit sehat, dan (c) budidaya rendemen tinggi. Diharapkan target swasembada gula akan menjadi lebih cepat tercapai. (tim website).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *