Workshop Kemiri Sunan sebagai Bioenergi

Aktifitas Puslitbangbun Artikel Kemiri Sunan

AKTIVITAS PERKEBUNAN – Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan melaksanakan Workshop “Kemiri Sunan dan Bahan Bakar Nabati Lain sebagai Bioenergi” yang berlangsung pada tanggal 28 Februari 2014 di Gedung Display Puslitbang Perkebunan.  Workshop tersebut dihadiri oleh peneliti dari satker Puslitbang Perkebunan, Balittro, Balittri, Balittas, dan Balit Palma serta beberapa peneliti dari BBSDLP.

Dalam rangka mendukung pengembangan kemiri sunan sebagai bahan bioenergi nasional, maka perlu dilakukan evaluasi status dan perkembangan teknologi kemiri sunan yang ada hingga saat ini.  Oleh karena itu, dalam workshop ini disampaikan mengenai program pengembangan bioenergi nasional, status penelitian dan pengembangan kemiri sunan,   perkembangannya di masyarakat, dan roadmap penelitian dan pengembangan kemiri sunan.  Di samping kemiri sunan, dalam workshop ini juga disampaikan status komoditas bahan bakar nabati (BBN) lain dan pengembangannya,  termasuk komoditas aditif BBN.

“Semoga dengan workshop ini, roadmap bahan bakar nabati khususnya kemiri sunan dapat tersusun” demikian harapan Kepala Puslitbang Perkebunan, Dr. Muhammad Syakir.  Pengalaman “pahit” yang terjadi saat pengembangan jarak pagar sebagai bahan bakar nabati  dapat menjadi pelajaran berharga. Hal ini diharapkan tidak terjadi pada kemiri sunan yang dinilai memiliki potensi dan keunggulan di luar minyak kelapa sawit sebagai bahan bakar nabati.  Berbagai rintisan kegiatan penelitian dan pengembangan kemiri sunan sudah dilakukan, termasuk kerjasama penanaman kemiri sunan di lahan sub optimal seperti lahan bekas tambang timah dan batubara.

“Kegiatan ini harus dikawal dan diamankan”, demikian permintaan Kepala Puslitbang Perkebunan.  Kegiatan peneliian dan pengembangan harus terus dilakukan, baik penelitian varietas unggul maupun inovasi teknologi pendukungnya, termasuk juga penanganan turunan dari kemiri sunan. Dalam upaya perbanyakan bahan tanaman terutama untuk jumlah yang banyak, penelitian perbanyakan melalui somatik embriogenesis sudah dilakukan dan sudah menunjukkan hal yang positif.

Perlu koordinasi berbagai multi disiplin dalam pengembangan kemiri sunan. Pengembangan jangka pendek, menengah, dan panjang  tidak hanya ditujukan terhadap penyediaan bahan baku biodiesel, lebih dari itu juga misalnya dapat menjawab isu lingkungan dan kesesuaian lahan.

Beberapa tantangan perlu disikapi dan dijawab dengan baik  tentang biodisel asal kemiri sunan seperti belum diproduksi secara massal, untuk pemakaian lokal (pertambangan, desa mandiri atau setempat), verifikasi teknologi, logistik benih, percontohan di lapangan pada skala yang memadai, dan sosialisasi/diseminasi.  Oleh karena itu, dukungan dari berbagai pihak terkait menjadi sangat penting.  Pengembangan yang dilakukan saat ini  dan minat yang tinggi dari masyarakat memberikan ekspektasi tentang bahan bakar nabati yang perlu ditindaklanjuti. Berbagai inovasi teknologi kemiri sunan perlu terus digali untuk menambah informasi dan kesempurnaan dari inovasi teknologi yang sudah dihasilkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *