Upaya Antisipasi Anomali Iklim pada Usaha Tani Wijen

Berita Perkebunan

INFO PERKEBUNAN – Curah hujan yang sangat tinggi sepanjang tahun 2010 berakibat terhadap gagal panen pada sebagian besar areal wijen di daerah pengembangan Kabupaten Sampang. Pengembangan wijen di Kabupaten Sampang dilakukan pada lahan kering tadah hujan, lahan sawah sesudah padi I dan lahan sawah sesudah padi II.

 

Pada lahan kering tadah hujan yang sebagian besar lahannya miring (bergelombang), curah hujan yang tinggi tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman wijen.

Namun pada lahan tanah sesudah padi yang notabene sebagian lahannya datar curah hujan tinggi, apabila tidak dibuatkan parit pembuangan air, mengakibatkan penggenangan air dalam waktu yang cukup lama sehingga tanaman wijen mati.

Pada musim tanam tahun 2010 tanaman wijen dikembangkan di lahan kering tadah hujan seluas 415 hektar. Wijen ditanam pada pertengahan bulan Desember 2009 yaitu pada awal musim penghujan.

Panen dilaksanakan oleh petani sekitar minggu keempat bulan Maret 2010. Dari informasi pedagang pengumpul tingkat kabupaten maupun Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Sampang, produksi wijen yang diperoleh dari areal tersebut di atas 510 ton biji kering panen atau produktivitas sebesar 1,23 ton biji kering panen per hektar.

Harga wijen kering panen pada saat itu di tingkat petani sebesar Rp 8.000,-/kg sehingga penerimaan petani sebesar: Rp 9.840.000,- per hektar. Besaran biaya produksi sebesar Rp 4.300.000,- per hektar, maka keuntungan bersih petani sebesarRp5.540.000,- per hektar.

Namun produktivitas wijen yang cukup tinggi pada lahan kering tidak diikuti hasil uji sama pada wijen yang diusahakan pada lahan sawah sesudah padi. Curah hujan yang sangat tinggi pada bulan Mei s/d Oktober 2010, menyebabkan petani menanggung kerugian yang cukup tinggi tingkat produksi berkisar 0-500 kg per hektar.

Petani wijen di daerah pengembangan ini pada umumnya mengalami kerugian karena kurang memperhatikan petunjuk teknis budidaya wijen, misalnya: tidak membuat saluran pembuangan air sehingga penggenangan air pada saat curah hujan tinggi menyebabkan sebagian besar tanaman mati. Petani berusaha menanamulang (sulam) namun kecambah yang baru tumbuh mengalami kematian karena tingginya curah hujan.

Keadaan yang demikian dapat dibenahi dengan membuat bedengan-bedengan selebar ± 2 meter dan kedalaman parit sekitar 75 cm. Dengan demikian bedengan-bedengan ini dapat menyelematkan tanaman yang baru tumbuh maupun yang sudah tumbuh sempurna dari genangan air yang disebabkan oleh tingginya curah hujan.

Penggunaan benih unggul (SBR 1 s/d 4), jarak tanam yang tepat (40 x 25 cm), pemberian pupuk tepat dosis, tepat waktu dan tepat cara pemberian serta dengan melakukan pengendalian hama penyakit yang benar merupakan sebagian petunjuk teknis yang harus diterapkan oleh para petani agar produktivitas dan kualitas produksi sesuai harapan.

Waktu panen dan cara penanganan pasca panen yang tepat merupakan petunjuk teknis lebih lanjut yang diterapkan agar kuantitas dan kualitas produksi terjaga.

Tanaman wijen yang ditanam di bedengan dengan saluran air dalam

 

Pembuatan bedengan dan saluran air mengantisipasi genangan air

Untuk meningkatkan nilai tambah produksi diperlukan pemolesan biji wijen dengan menggunakan alat pemoles biji, sehingga dapat meningkatkan nilai biji wijen. Biji wijen yang dipoles berharga Rp 20.000,- per kg, kehilangan hasil 30% dan biaya poles sebesar Rp 2.500,- per kg sehingga keuntungan yang diperoleh sebesar Rp 3.500,- per kg.

Selama ini keuntungan tersebut hanya dinikmati oleh pedagang pengumpul karena hampir semua petani di Kabupaten Sampang tidak berupaya memoleskan biji wijennya. (Teger Basuki /Peneliti Balittas).

Link terkait klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *