Umbi Garut sebagai Alternatif Pengganti Terigu untuk Individual Autistik

Artikel Obat Berita Perkebunan

WARTA PERKEBUNAN – Indonesia memiliki banyak jenis bahan pangan lokal yang dapat digunakan untuk menunjang ketahanan pangan nasional. Bahan pangan lokal tidak hanya tersedia dalam jumlah besar tetapi juga memiliki nilai produktivitas yang tinggi dan kandungan gizi yang baik. Tanaman garut (Maranta arundinacea L.) Arrowroot, West Indian Arrowroot telah dicanangkan pemerintah sebagai salah satu komoditas bahan pangan yang memperoleh prioritas untuk dikembangkan, karena memiliki potensi sebagai pengganti tepung terigu.

Tingginya kadar karbohidrat dan energi membuat umbi garut dapat digunakan sebagai pengganti karbohidrat, walaupun kadar proteinnya relatif rendah dibanding tepung beras atau tepung jagung, tetapi setara dengan protein sagu, tepung singkong (tapioka), tepung kentang dan maizena. Rendahnya protein tepung umbi garut dapat disiasati dengan mengkombinasikannya bersama bahan pangan sumber protein.

Seperti pada akar dan umbi-umbian lainnya, garut juga bebas gluten.  Dibandingkan pati lainnya, garut mempunyai bentuk serat  lebih pendek sehingga mudah dicerna dan dapat dijadikan makanan bayi, anak penyandang autis dan down syndrome serta diet bagi manula dan pasien dalam masa penyembuhan.

Kelainan saluran pencernaan yang terjadi hampir semua penderita autisme sangat berperan pada fungsi otaknya yang mengakibatkan gangguan perilaku. Bagi penderita autisme memperbaiki saluran pencernaan bukan hanya sekedar pemberian enzim dan obat-obatan saja, bila pengaruh makanan yang mengganggu tidak dikendalikan dengan baik. Sampai saat ini belum ada obat atau diet khusus yang dapat memperbaiki struktur otak atau jaringan syaraf yang kelihatannya mendasari gangguan autisme.

Salah satu alternatif terbaik adalah pemberian makanan yang berbasiskan umbi-umbian sebagai sumber karbohidrat non-terigu. Penggunaan tepung garut sebagai bahan makanan alternatif sangat disarankan, karena  memiliki  bentuk serat yang  lebih pendek sehingga mudah dicerna dibandingkan tepung lainnya. Bila hal tersebut dilakukan secara cermat, berarti dapat meminimalkan gangguan perilaku pada autis secara jangka panjang.

Selengkapnya Klik disini

Link terkait : Warta Puslitbang Perkebunan Vol. 20 No. 2, 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *