Ulat Hitam Rami Arcte (Cocytodes) coerulea Guenee

Berita Perkebunan

INFO PERKEBUNAN – Ulat hitam rami A. coerulea adalah serangga hama yang mempunyai inang spesifik, yakni hanya dijumpai menyerang tanaman rami dan kerabat dekatnya dari famili Urticaceae (herbivore specialist).

Sebagai hama yang menyerang tanaman rami, sering disebut dengan nama umum ulat hitam rami (Black caterpillar/Ramie moth) karena pada stadium larva dan imago aktif pada malam hari, warna imago didominasi dengan warna hitam.

 

Dalam perkembangan dari pertumbuhan larva dimulai dari larva pada instar-3 sampai pada akhir instar-5 (awal prepupa) diamati di lapangan terjadi agregasi warna, yaitu morfologi pada tubuh larva berubah-ubah dengan corak warna putih atau hitam pada sisi dorsal, dan pada sisi lateral dihiasi dengan bercak-bercak warna oranye dan garis-garis putih searah anteriorposterior.

Pada kepala, segmen abdomen terakhir dan kaki-kaki palsu berwarna oranye atau hitam. Beberapa masa telur diletakkan terpencar padarumpun-rumpun rami.

Larva yang baru menetas berjumlah ratusan ekor seperti ulat grayak, ulat kecil bergerombol memakan daun dengan gejalakerusakan berlubang-lubang kecil warna putih dan transparan karena banyak hijauan daun yang dimakan. Setelah daun dalam satu rumpun termakan habis berpindah ke rumpun tanaman rami yang lain.

Kerusakan yang berat diakibatkan oleh larva yang lebih besar dengan memakan semua bagian dari daun sehingga tanaman meranggus dan hanya tersisa tulang-tulang daunnya. Dalam ilmu sistimatika binatang, serangga hama ini dimasukkan dalam klasifikasi filum Arthropoda, klas insecta, ordo Lepidoptera, famili Noctuidae, dan genusnya Arcte (Cocytodes).

Di Indonesia belum diketahui seberapa jauh pengaruh serangannya terhadap kualitas dan kuantitas produksi serat rami sehingga perlu dilakukan penelitian, terutama terhadap bioekologinya, pengaruh kerusakan tanaman pada pertumbuhan tanaman dan terhadap produksi serat kasar (china grass). Serangga hama ini berpotensi sebagai hama utama pada tanaman rami.

Penyebaran telah meluas di beberapa negara Asia pengembang rami, antara lain di Jepang, Vietnam, Philipina dan Indonesia. Di Indonesia, sebaran ulat A. coerulea ini bisa dijumpai di Wonosobo, Malang (Jawa Timur), dan di Bengkulu, kemungkinan juga menyerang tanaman rami di Jawa Barat (di Sukabumi dan Garut).

Pada wilayah pengembangan rami di kabupaten Wonosobo, kecamatan Sapuran dan Kalikajar, ulat ini pada musim penghujan dijumpai pada pertanaman, dan ngengatnya mulai meletakkan telur pada malam hari.

Serangan-serangan yang lebih berat sering terjadi pada bulan-bulan kering. Ulat kecil, larva instar awal ke 1-3 berpindah dari daun yang telah rusak dimakan pindah ke daun yang lebih sehat dengan benang-benang sulur dan berjalan seperti ulat kilanan (semilooper).

Perilaku ulat yang lebih besar, larva instar 4-5 yang dengan bobot ulat semakin bertambah jalannya makin lamban, dan bila diganggu akan menjatuhkan diri dari tanaman seperti umumnya ulat kekilanan selalu menjatuhkan diri bila disentuh.

Petani rami di Kalikajar menyebutnya sebagai ulat “santri“ karena ulat besar sering menggoyang-goyangkan kepalanya dan bersuara seperti santri bertasbih yang sedang berzikir. Stadium telur yang baru diletakkan berada dalam masa telur berwarna putih selanjutnya berubah menjadi merah muda, telur diletakkan bergerombol dengan ukuran telur sekitar ±1-1,5mm.

Di Indonesia, sampai saat ini serangan serangga herbivora sebagai hama pada tanaman rami belum dipandang sebagai masalah yang serius.

Pembukaan lahan baru dalam skala luas apalagi dengan pola pertanaman monokultur harus diantipasi secara serius akan munculnya serangga sebagai hama baru, juga apabila rami dikembangkan di dataran tinggi yang di sekitarnya banyak petani bercocok tanam sayuran yang menggunakan insektisida kimia sintetik secara insentif.

Untuk mendukung sistem pertanian berkelanjutan di Indonesia maka upaya pengendalian hama rami berprinsip ekologi (PHT) perlu dilaksanakan di daerah pengembangan tanaman rami.

Sebaiknya pengendalian hama tanaman rami dengan pestisida kimia sintetik hanya dilakukan bila diperlukan, tepat waktu aplikasi, dosis, konsentrasi, bersifat selektif, aman, dan sesuai pada hama sasaran yang sama dengan bahan aktif pestisida bermerk dagang yang direkomendasikan oleh Komisi Pestisida.

Tindakan antipasi pengendalian perlu dilakukan sebelum terjadi serangan berat. Untuk itu perlu diketahui beberapa cara pengendaliannya yang lebih tepat sehingga pertanaman rami bisa terlindungi dari serangan hama.

Rami dibudidayakan untuk dimanfaatkan produksi seratnya dari kulit batang dengan dipanen setiap 2 bulan sekali, atau sebanyak 5-6 kali panen dalam setahun.

Pemanenan batang yang dimulai pada 45 dan 60 hari setelah tanam, apabila ditinjau dari upaya pengendalian hama maka memotong pertumbuhan vegetatif tanaman merupakan upaya memutus daur hidup hama tertentu sehingga hama tersebut tidak mendapatkan makanannya yang berlimpah dari inang utamanya dalam jangka waktu tertentu sehingga hama tersebut mati atau paling tidak pertumbuhan dan perkembangannya menjadi terhambat.

Petugas di lapangan hendaknya selalu melakukan pemantauan terhadap rumpun-rumpun tanaman rami yang terserang gerombolan ulat-ulat kecil dan besar dari hama-hama potensial, seperti ulat A. coerulea ini.

Tindakan yang dapat mendukung konservasi musuh alami adalah dengan menciptakan kondisi yang optimal untuk perkembangan musuh alami di pertanaman rami seperti adanya tumbuhan lain yang bunganya dapat dijadikan makanan inang musuh alami karena menghasilkan nektar untuk makanan parasitoid dan predator.

Dari beberapa hasil penelitian, pengendalian hama tanaman dengan pestisida nabati, misalnya dengan ekstrak atau formulasi dari tanaman mimba dan juga dikombinasikan dengan agensia hayati ternyata lebih selektif dan aman sehingga musuh alaminya tetap bisa berkembang (Dwi Winarno/Peneliti Balittas).

Link terkait klik disini

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *