TTP Berbasis Pariwisata dan Diseminasi Tekonologi Kakao Pacu Pendapatan Petani Nglanggeran

Aktifitas Puslitbangbun Highlight

Peran yang strategis Puslitbangbun sebagai lembaga riset dituntut untuk menghasilkan berbagai terobosan teknologi inovatif pertanian yang memiliki nilai kebaruan, lebih baik dari sebelumnya, secara sosial ekonomi layak, dan berprospektif berorientasi nilai tambah dan pasar. Untuk mewujudkannya, Puslitbangbun berkontribusi dalam penyediaan bahan tanam unggul maupun teknologi budidaya, panen dan pasca panen komoditas perkebunan.

YOGAKARTA, PERKEBUNAN – Peserta Rapat Koordinasi (Rakor) lingkup Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan (Puslitbangbun) sebagai agenda Rakor pada hari ketiga adalah melakukan kunjungan lapang (field trip) ke Gunung Kidul, Yogyakarta (12/3/20). Ada dua agenda dalam field trip, yakni mengunjungi Kelompok Tani Sido Dadi di Gumawang Putak, Patuk, Gunung Kidul dan Taman Teknologi Pertanian (TTP) Nglanggeran, Gunung Kidul, Yogyakarta.

Kujungan ke Kelompok Tani Sido Dadi di Gunung Kidul menempuh perjalanan sekitar satu jam dari kota Yogyakarta. Kelompok Tani Sido Dadi merupakan petani binaan Puslitbangbun pada TA2018 dalam kegiatan “Penerapan pengendalian Hama Terpadu OPT Kakao di Kabupaten Gunung Kidul”.

Peserta disambut dengan tarian dan nyanyian tradisional Gunung Kidul oleh para petani kakao dan mahasiswa yang sedang melaksanakan magang. Tak luput juga Kepala Puslitbangbun Ir. Syafaruddin, Ph.D., dan pejabat struktural Eselon III dan IV serta para peneliti dan peserta Rakor ikut menari bersama petani dan mahasiswa yang magang.

Kunjungan ke kelompok tani Sido Dadi dipandu oleh ibu Yeyen, peneliti dari BPTP DI Yogyakarta. Dalam sambutannya Yeyen mengatakan bahwa di Kelompok tani Sido Dadi telah dilaksanakan pendampingan sejak tahun 2013. Teknologi yang dilakukan adalah memperkenalkan fermentasi biji kakao dengan kotak kapasitas 40 kg. Kelompok tani ini sudah menyetor bahan baku coklat ke Singapur dan TTP Nglanggeran. Selain itu juga dilakukan pendampingan pengolahan limbah kakao yang diolah menjadi xylase dan mineral block, ujar Yeyen.

Ketua kelompok petani Sido Dadi, Edi Suparjono melaporkan bahwa kelompok taninya sudah berdiri sejak tahun 1984, untuk komoditas tanaman kakao baru dimulai tahun 1987. Kelompok tani Sido Dadi ini sudah lama dibina oleh BPTP DI Yogyakarta hingga mendapatkan juara III tingkat nasional pada tahun 2016. Sampai sekarang sebagai pengelola kebun kakao, banyak sekali peminat2 dari fermentasi kakao kami, ujar Edi. Kami kewalahan karena permintaan yang banyak sementara dalam pengolahannya masih kurang, imbuhnya.

“Kakao hasilnya musiman, apalagi adanya kemarau panjang, sehingga panen rayanya hanya satu kali. Mudah-mudahan tahun ini bisa dua sampai tiga kali panen, karena dua bulan lagi sudah bisa panen raya, ujar Edi. Lahan ini merupakan milik petani, Alhamdulillah kami masih eksis, berjalan terus tidak pernah berhenti, bahkan fermentasi kakao sejak tahun 1992 sampai sekarang kualitasnya tetap terjaga. Katanya”.

Setelah acara sambutan dan ramah tamah para peserta field trip diperkenalkan produk-produk hasil olahan dari biji fermentasi kakao. Adapun produk tersebut diantaranya: coklat batangan yang tidak memakai campuran gula, coklat batangan memakai campuran gula, coklat bubuk, dan makanan lainnya. Kami dipersilahkan untuk icip-icip hasil produk kelompok tani tersebut.

Selanjutnya rombongan peserta field trip melanjutkan agenda yang kedua yakni kunjungan ke Taman Teknologi Pertanian (TTP) Nglanggeran, Gunung Kidul. Lokasi TTP tidak jauh dari lokasi Kelompok Tani Sido Dadi. TTP Nglanggeran Gunung Kidul dibangun sejak tahun 2015 dengan komoditas utama integrasi kakao dan kambing. Kegiatan ini berkembang cukup pesat dimana TTP Nglanggeran telah mampu memberikan dampak yang cukup besar terhadap ekonomi masyarakat sekitar dan secara umum pada kawasan dan ekonomi daerah.

Kunjungan ke TTP Nglanggeran disambut oleh Kepala BPTP Yogyakarta Dr. Soeharsono, Spt., MSi. Peserta field trip yang terdiri dari Kepala Puslitbangbun, pejabat struktural III dan IV serta peneliti lingkup Puslitbangbun. Turut hadir Profesor Riset lingkup Puslitbangbun antara lain Prof. Dr. Muhammad Syakir, Prof. Dr. Bambang Prastowo, dan Prof. Dr. Supriyadi, Prof. Dr. Hengky Novarianto, dan Prof. Dr. Meldy LA Hosang. Di TTP ini kunjungan diawali melihat Embung Nglanggeran yang berada di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Embung yang berada dalam kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran ini bisa ditempuh sekitar satu jam dari Kota Yogyakarta.

Embung Nglanggeran merupakan waduk kecil tempat menampung air yang memiliki luas sekitar 0,34 hektar. Air embung ini digunakan untuk sarana pengairan di area perkebunan sekitar. Dibangun pada pertengahan 2012 silam, Embung Nglanggeran mulai diresmikan pada tanggal 19 Februari 2013 oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X. Ini juga merupakan embung pertama di Yogyakarta. Selain untuk pengairan, Embung Nglanggeran juga dimanfaatkan sebagai obyek wisata. Itu karena keindahan panorama yang dapat disaksikan dari embung berketinggian sekitar 495 meter di atas permukaan laut ini. [Sumber: Kompas.com]

Di kawasan TTP Nglanggeran telah dikembangkan inovasi teknologi Balitbangtan yaitu ternak kambing Sapera dan PE, dimana susu yang dihasilkan kambing Sapera memiliki potensi tinggi dengan hasil 1,6-1,7 lt per hari/ekor, sedangkan susu kambing PE yang diperah menghasilkan susu 0,8- 1 lt/hr/ekor. Biji kakao yang dihasilkan telah mampu diolah menjadi minuman instant, permen, dan dodol. Semua produk yang dihasilkan di TTP diolah di pabrik pengolahan kakao dan susu yang sudah dibangun oleh TTP.

TTP Nglanggeran yang masuk dalam kawasan wisata Gunung Api Purba Nglanggeran mampu memberi manfaat yang tinggi bagi pemerintah setempat dan masyarakat. “Sinergisme pengelolaan TTP, embung Nglanggeran, Gunung Api Purba menjadikan kawasan Nglanggeran, Patuk Gunung Kidul berpotensi besar sebagai pendongkrak ekonomi, PAD sekaligus memberikan manfaat bagi stakeholders,”. Semoga…..(Tim web)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *