Teknologi Penyambungan Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L.)

Artikel Jarak Pagar Berita Perkebunan Budidaya dan Pengolahan Budidaya Jarak Pagar

BERITA PERKEBUNAN – Sudah lama telah kita ketahui bahwa krisis energi telah melanda dunia, termasuk Indonesia. Bahkan berubahnya status Indonesia dari eksportir menjadi net importir BBM sejak tahun 2005 dan ketidakpastian harga BBM mengakibatkan peningkatan konsumsi energi yang berasal dari BBM sangat membebani perekonomian nasional.

Jarak pagar bukanlah tanaman asli Indonesia melainkan berasal dari Amerika bagian Tengah, untuk itu perlu dicari pengembangan budidaya jarak pagar dalam memenuhi kebutuhan energi yang berasal dari BBN (Bahan Bakar Nabati). Bilamana tidak dicari pengembangan teknologi tersebut, maka akan membutuhkan waktu yang lama untuk memperoleh hasil.

Dengan waktu yang lama, petani akan mengalami kerugian waktu, biaya dan sarana produksi lainnya. Dan bila mengadakan pembongkaran tanaman induk atau tanaman tua maka akan mengeluarkan biaya yang banyak dan ini tidak mungkin dilakukan petani.

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan penyambungan dan ini telah berhasil pada komoditas kakao, mengapa tidak kita lakukan pada tanaman jarak pagar. Dengan penyambungan akan diperoleh hasil dan waktu yang lebih singkat, dibanding bila menggunakan bij dan juga bila menggunakan biji akan diperoleh hasil yang beragam tidak sama dengan tanaman induknya.

Pertanyaannya, bisakah penyambungan ini dilakukan pada lokasi yang berbeda ? Ternyata jawabannya bisa dan telah dilakukan penelitian pada lokasi kebun percobaan (KP.) Karangploso, Malang dan KP. Muktiharjo Pati (Gambar 1). Hasil penelitian tersebut ada pada Tabel 1.

Tabel 1. Prosentase jadi (%) teknik penyambungan di KP. Muktiharjo, Pati dan KP. Karangploso, Malang

Dari hasil penelitian tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa teknik penyambungan tanaman jarak pagar bisa dilakukan pada lokasi yang berbeda yaitu di KP. Muktiharjo, Pati dan KP. Karangpoloso, Malang. Adapun tingkat keberhasilan atau prosentase jadi untuk lokasi KP. Mutiharjo berkisar 82 – 83 %, sedangkan untuk lokasi KP.Karangploso berkisar 92 – 97 %.

Dengan data ini, petani tidak usah ragu dalam usaha melakukan penyanbungan tanaman jarak pagar. Lokasi tidak berpengaruh, bisa dilakukan di tempat yang berbeda dan selanjutnya yang dapat diambil dari data tersebut adalah penyambungan bisa dilakukan dengan teknik penyambungan atas dan teknik penyambungan samping.

Untuk lokasi KP. Muktiharjo prosentase jadi pada teknik penyambungan samping lebih tinggi tingkat keberhasilannya dibanding teknik penyambungan atas. Sebaliknya untuk lokasi KP. Karangploso, prosentase jadi teknik sambung atas lebih tinggi tingkat keberhasilannya dibanding teknik sambung samping.

Jadi kesimpulannya bahwa teknik penyambungan tanaman jarak pagar bisa dilakukan pada lokasi yang berbeda (Lestari/Peneliti Balittas).

Gambar 1. Teknik sambung samping jarak pagar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *