Teknologi Pengendalian Hama Oryctes Sexava dan Brontispa pada Tanaman Kelapa

Aktifitas Puslitbangbun

BERITA PERKEBUNAN – Hama Oryctes, Sexava, dan Brostispa banyak menimbulkan kerugian pada tanaman kelapa di beberapa daerah di Indonesia. Hama tersebut menyerang tanaman mulai dari pembibitan sampai tanaman dewasa, sehingga dapat menyebakan kerusakan berat dan kematian tanaman kelapa. Hal tersebut dikemukakan Dr. Meldy L.A. Hosang pada acara Seminar Pra Orasi Profesor Riset yang bersangkutan yang berlangsung di Puslitbang Perkebunan (20/3/15). Dr. Meldy adalah Peneliti Utama bidang Hama dan Penyakit Tanaman pada Balai Penelitian Tanaman Palma, Manado.

Acara pra orasi dibuka oleh Kepala Bidang KSPHP Pulitbang Perkebunan yang dihadiri para peneliti lingkup Puslitbang Perkebunan. Bertindak sebagai evaluator adalah Prof. Dr. Elna Karmawati dan Prof. Dr. Bambang Prastowo, sedangkan moderator Prof. Dr. I Wayan Laba.

Dalam paparannya, Dr. Meldy mengemukakan bahwa beberapa strategi pengendalian sudah dilakukan untuk mengendalikan ketiga hama tersebut dengan insektisida. Hal ini sangat merugikan karena dapat meningkatkan biaya produksi dan mencemari lingkungan hidup. Penggunaan bahan kimia tidak dapat menyelesaikan masalah dalam jangka panjang karena dapat menyebabkan resistensi hama terhadap inseksida, dan munculnya hama sekunder. Oleh karena itu,  pengendalian hama terpadu (PHT) merupakan salah satu pendekatan yang baik, ujar Meldy.

Teknik pengendalian hama Oryctes antara lain (a) pengendalian hayati dengan pemanfaatan musuh alami Baculovirus dan Metarhizium, (b) teknik budidaya dengan menanam tanaman sela, tanaman penutup tanah, dan sanitasi, (c) penggunaan perangkap dan feromon, (d) penggunaan naftalene balls (kanfer) dan serbuk mimba. Pemanfaatan lem lalat yang dipasang pada batang kelapa ternyata memberikan harapan baru dalam pengendalian hama Sexava yang sudah dikembangkan Balit Palma. Perangkap ini mampu menangkap 0,9 – 6,6 nimfa/pohon/hari atau rata-rata 3,04 nimfa/pohon/hari dan 0,04 imago/pohon/hari. Sedangkan untuk pengendalian Brontispa, dapat diterapkan komponen pengendalian di antaranya tindakan kultur teknis, pengendalian hayati dan kimia.

Komponen teknologi pengendalian hama Oryctes, Sexava, dan Brontispa sudah tersedia, sehingga dapat diterapkan di lapangan. Pengendalian dilakukan dengan mengkombinasikan minimal dua komponen pengendalian untuk menekan perkembangan hama tersebut dan menghindari kerugian yang lebih besar. Pengendalian ketiga hama ini sebaiknya dilakukan secara bersama-sama dalam satu atau beberapa kelompok tani, sehingga pengendalian mencakup areal yang cukup luas. Pembentukan SL-PHT pada daerah serangan hama dapat mempercepat transfer teknologi ke tingkat petani.

Di akhir paparannya pada acara pra Orasi, Dr. Meldy Hosang menyampaikan bahwa penerapan teknologi PHT dapat difokuskan pada pemanfaatan musuh alami dan teknik pengendalian lain yang ramah lingkungan dengan meminimalkan penggunaan insektisida. Musuh alami yang potensial dari  ketiga jenis hama ini dapat digunakan seoptimal mungkin, sehingga penekanan populasi dapat berlangsung dalam jangka panjang.

Pada sesi diskusi, berbagai masukan berharga dalam upaya perbaikan bahan orasi telah disampaikan baik oleh tim evaluator, moderator maupun peneliti yang hadir.

Foto: Pemaparan Dr. Meldy dengan moderator Prof. Dr. I Wayan Laba (kanan) dan Dr. Syafaruddin beserta peneliti lingkup Puslitbangbun pada acara pra orasi kandidat Profesor Riset (20/3/15).

Foto: Suasana sesi tanya jawab yang disampaikan oleh Prof.Dr. Elna Karmawati (kiri), Prof.Dr. Bambang Prastowo (kanan), yang dihadiri oleh Kepala Balittro Dr. Agus Wahyudi serta peneliti lingkup Puslitbangbun pada acara pra orasi kandidat Profesor Riset (20/3/15).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *