Teknologi Baru Pengendalian Hama Sexava

Artikel Kelapa Inovasi Teknologi Produk Inovasi

Hama sexava merupakan salah satu hama penting yang dapat menyebabkan kerusakan serius pada tanaman kelapa. Pengendalian hama ini lebih banyakmenggunakan insektisida, padahal sudah tersedia teknik pengendalian yang rama lingkungan dengan menggunakan perangkap Sexava tipe Balitka MLA yang dapat digunakan secara tunggal atau dikombinasikan dengan penggunaan lem serangga. Perangkap Sexava tipe Balitka MLA dirancang berdasarkan perilaku hama Sexava yang aktif pada malam hari dan dapat berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya dengan berjalan pada batang kelapa.

Perangkap dipasang pada batang kelapa dengan ketinggian 1 – 1,5 m dari permukaan tanah. Jumlah nimfa dan imago yang terperangkap adalah 1 -7 individu/pohon/hari atau 30 – 210 individu/pohon/bulan. Perangkap ini juga dapat memfasilitasi musuh alami seperti predator laba-laba dan cicak mempermudah memangsa hama Sexava. Jumlah nimfa yang terjerat pada lem serangga selama tiga bulan bervariasi antara 106 – 131 individu. Perangkap ini lebih efektif untuk nimfa dibandingkan dengan imago Sexava dan lebih potensial, jika diaplikasikan secara bersama-sama dengan teknik pengendalian hayati dan diharapkan teknik ini dapat mengantikan penggunaan insektisida pada daerah serangan Sexava.

 

PENDAHULUAN

Hama Sexava spp. (Orthoptera : Tettigoniidae) merupakan serangga asli Indonesia yang dapat menyebabkan kerusakan serius pada tanaman kelapa terutama daerah-daerah tertentu di Kawasan Indonesia Timur. Belalang Sexava spp. terdiri dari empat spesies yaitu Sexava nubila Stal, Sexava coriacea Linnaeus, Sexava karnyi Leefmansdan Sexava novae-guineae Brancsik. Tiga spesies yang disebutkan pertama sudah dikenal di Indonesia dan spesies keempat di Papua New Guinea.

Di Indonesia, S. nubila terdapat di Kepulauan Talaud Sulawesi Utara, di Maluku dan Papua (Irian Jaya), S. coriacea di Kepulauan Sangihe, di daratan Sulawesi di Desa Dumagin Kecamatan Pinolosian, Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara dan di Maluku Utara, sedangkan S. karnyi merusak tanaman kelapa pada beberapa daerah di Sulawesi Tengah. Nimfa dan imago menyerang daun, bunga betina dan buah muda sehingga secara langsung ataupun tidak langsung dapat mempengaruhi produksi kelapa. Beberapa teknik pengendalian sudah diterapkan tetapi sampai sekarang populasi hama ini masih merupakan hambatan utama dalam meningkatkan produksi kelapa di daerah sebaran hama Sexava spp. Penerapan pengendalian hama terpadu (PHT) merupakan salah satu solusi yang tepat untuk mengatasi masalah hama Sexava spp.

Biologi dan ekologi serangga merupakan salah satu unsur dasar PHT sebagai pengetahuan dasar yang harus diketahui, diperhatikan dan dipergunakan untuk menyusunan komponen pengendalian baik secara tunggal, maupun dalam perpaduannya di lapangan dengan komponen lain untuk memperoleh hasil pengendalian yang optimal. Tanpa pengetahuan tentang unsur-unsur dasar maka rekomendasi pengendalian yang disusun tidak akan dapat sesuai dengan prinsip dan tujuan PHT.

Pemahaman biologi dan ekologi hama Sexava spp. dapat membantu dalam pengambilan keputusan untuk melakukan pengendalian yang efektif dan efisien. Sudah diketahui bahwa perilaku imago betina pada waktu bertelur akan turun ke tanah dan nimfa yang baru menetas dari telur yang diletakkan di tanah akan naik ke pohon untuk mencari daun kelapa sebagai makanannya. Selain itu juga nimfa lebih tua dan imago jantan tidak secara terus menerus tinggal dimahkota pohon. Dari perilaku ini dapat dikembangkan teknologi baru dengan merancang perangkap Sexava tipe Balitka MLA yang dapat menghalangi nimfa muda (instar 1), nimfa tua dan imago yang akan naik ke pohon kelapa sehingga dapat menekan perkembangan populasi hama tersebut di lapangan.

Koran Kompas tanggal 29 Maret 2007 memberitakan bahwa di kabupaten Jailolo, Maluku Utara terjadi lagi eksplosif serangan hama Sexava, yang mengakibatkan sebagain besar petani kelapa terpaksa mencari mata pencaharian lain, karena pohon kelapanya tidak menghasilkan buah. Masalah bukan hanya terjadi di Maluku Utara, tetapi secara periodik terjadi juga di daerah Sexava lainnya, seperti Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara. Hal ini disebabkan karena masyarakat petani sampai saat ini belum berpartisipasi secara penuh dan kontinu, bersama-sama dengan Pemda/Dinas terkait dalam rangka mencegah dan memberantas hama Sexava. Kalaupun ada tindakan pencegahan, itu dilakukan oleh sebagian petani mampu dengan cara menginjeksi insektisida sistemik, yang diketahui bersama memiliki efek samping negatif bagi lingkungan dan mahluk hidup lain. Banyak teknologi yang telah dihasilkan dan tersedia di balitka Manado, antara lain: Pengendalian hayati dengan parasitoid telur Leefmansia bicolor (Tanah 10-20% dan pohon 35-90%), lalu menggunakan Metarhizium yang dapat menginfeksi Nimfa dan Imago Sexava antara 67,5-82,5%, Bioinsektisida Metabron, dan sanitasi kebun dengan penanaman tanaman sela. Salah satu teknologi baru yang dapat dipakai pada PHT Sexava, yaitu hasil penelitian Balitka Manado selama tahun 2005-2007 , dengan menggunakan Perangkap Tipe Balitka MLA.

Masalah serangan hama Sexava yang terjadi di Maluku Utara dan Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara seperti yang diungkapkan dalam Kompas tanggal 29 Maret 2007, telah ditanggapi oleh Puslitbang Perkebunan tepatnya Balitka-Manado dalam media Kompas tanggal 19 April 2007 yang menginformasikan teknologi sederhana penangkal serangan hama Sexava yang menyerang pohon kelapa yang telah ditemukan Balitka. Teknologi tersebut diuraikan seperti dibawah ini.

 

BIOLOGI S. nubila

Hama S. nubila dikenal dengan Belalang Talaud atau boto-boto. Hama ini makan anak daun mulai dari pingggir ke bagian tengah. Kadang-kadang dimakan sebagian atau sampai ke lidi. Bekas gigitan biasanya tidak rata. Serangan berat, terlihat pada pelepah daun bagian bawah tinggal lidi saja.

Telur. Bentuk dan warna telur S. nubila seperti buah padi masak (gabah). Telur yang baru diletakkan sangat tipis dengan alur yang dalam kemudian embrio berkembang sehingga membengkak. Telur berumur 2 hari, panjannya 12 mm dan lebarnya 2 mm. Salah satu ujung telur lancip dan lainnya bulat. Telur tua, panjangnya sampai 13 mm dan lebarnya 3 mm. Lama stadium telur di Talaud 45 hari.

Nimfa. Nimfa yang baru ditetaskan, panjangnya 12 mm dan bentuknya sama dengan S. coriacea. Antenanya halus seperti rambut dan panjangnya sampai 9 cm. Nimfa muda dan tua berwarna hijau, tetapi kadang-kadang berwarna coklat. Panjang nimfa jantan tua sampai 6 cm dan panjang antena 14 cm dan sudah terlihat bakal sayapnya. Lama stadium nimfa 108 hari.

Belalang dewasa (Imago). Imago berwarna hijau, antena merah muda dan matanya abu-abu. Bentuknya hampir sama dengan S. coriacea. Alat peletak telur (ovipositor) berwarna hijau pada bagian pangkalnya yaitu sepertiga dari panjang ovipositor, sepertiga lagi berwarna kemerahan dan bagian ujungnya berwarna hitam. Panjang imago betina (kepala + badan + ovipositor) antara 9.5 – 10.5 cm. Panjang ovipositor 3 – 4.5 cm dan panjang antena 16 cm. Panjang imago jantan 6 – 9.5 cm dan antenanya 14-16 cm.

Cara hidup. Imago betina terutama meletakkan telurnya pada malam hari di dalam tanah atau pasir dekat batang kelapa pada kedalaman 1 – 5 cm. Telur-telur diletakkan juga diantara perakaran kelapa, di bawah lumut, di sela-sela batang kelapa, dan di mahkota pohon kelapa yang kotor. Telur yang diletakkan di tanah dapat mencapai 95%. Tanah yang disukai oleh imago betina untuk meletakkan telur adalah tanah liat yang lembab bercampur pasir. Satu ekor imago betina yang dipelihara di laboratorium dapat meletakkan telur sebanyak 53 butir. Pada setiap pohon kelapa terdapat berbagai stadia, mulai dari nimfa yang baru menetas sampai imago.

Daur hidup S. nubila, mulai telur diletakkan sampai imago meletakkan telur 183 hari dengan tahap perkembangan hidup seperti pada Tabel 1. Imago betina turun ke bawah pada malam hari untuk bertelur kemudian memanjat lagi pohon kelapa. Imago betina mulai melatakkan telur setelah berumur sekitar satu bulan. Imago Sexava tidak dapat terbang jauh, oleh karena itu serangga tersebut hanya terdapat ditempat itu saja dan hampir tidak berpindah tempat. Hama ini melakukan aktivitas pada malam hari baik aktivitas makan dan berkopulasi. Walaupun demikian, dari hasil pengamatan di laboratorium (insektarium), ternyata hama S. nubila dapat berkopulasi pada siang hari antara jam 9.00 – 11.00 pagi.

Tabel 1. Tahap perkembangan S. nubila

Tahap perkembangan Lama Perkembangan
(hari)*
Telur 45.17
Nimfa
Instar I 15.38
Instar II 19.56
Instar III 26.38
Instar IV 20.43
Instar V 27.19
108.33
Imago Betina
Pra-peneluran 30.13
Peneluran 60.86
Pasca Peneluran 21.50
111.67
Imago Jantan 84.50
Daur hidup 183.63
Periode perkembangan dari
Telur sampai imago mati
Imago Betina 265.17
Imago Jantan 238.00

 

PEMANFAATAN PERANGKAP Sexava

Perangkap Sexava tipe Balitka MLA dipasang pada batang kelapa sehingga dapat menangkap nimfa dan imago yang lewat pada batang. Perangkap ini digunakan untuk mengendalikan hama Sexava yang menyerang tanaman muda (belum berproduksi) dan tanaman kelapa yang sudah berproduksi.

Perangkap dipasang pada batang kelapa dengan ketinggian 1 – 1.5 m dari permukaan tanah. Setiap tanaman cukup dipasang satu perangkap. Perangkap ini dapat digunakan lebih dari satu tahun.

Hasil penelitian membuktikan bahwa pemasangan perangkap Sexava tipe Balitka MLA selama satu bulan dapat menangkap 0.9 – 6.6 nimfa/pohon atau rata-rata 3.04 nimfa/pohon dan 0.04 imago/pohon (Gambar 1). Imago yang terperangkap adalah imago jantan (60%) dan betina (40%), hal ini menunjukkan bahwa terjadi mobilitas imago jantan dan betina pada malam hari. Pada bulan berikutnya, jumlah Sexava yang terperangkap jauh lebih rendah walaupun terjadi fluktuasi populasi dilapangan tetapi pada akhir bulan kedua jumlah yang terperangkap umumnya < 1 nimfa/pohon/hari. Hal ini menunjukkan bahwa populasi hama akan terus menurun dan pada satu saat atau diperkirakan paling lambat enam bulan kemudian populasi hama dapat dikendalikan sampai pada taraf yang tidak merugikan karena diperkiran populasi hama sangat rendah.

Jika perangkap ini diaplikasikan dalam satu areal yang luas maka dapat menekan populasi sampai pada batas tidak merugikan. Data ini juga menunjukkan bahwa pada awal pengamatan rata-rata nimfa yang terperangkap dapat mencapai > 6 individu/pohon dan dalam waktu sekitar satu bulan, jumlah nimfa yang terperangkap hanya sekitar 1 individu/pohon, atau makin lama jumlah nimfa yang terperangkap makin sedikit. Hal ini kemungkinan disebabkan karena populasi Sexava makin berkurang atau pengaruh faktor lainnya.

Perangkap sexava tipe Balitka MLA ini masih dapat dikombinasikan dengan penggunaan lem serangga sehingga lebih efisien dan efektif terutama untuk mengendalikan nimfa instar 1. Pada kenyataanya instar lebih tua dan imago juga terperangkap sehingga dapat mempercepat penurunan populasi hama Sexava di lapangan. Jika penggunaan perangkap ini dapat disosialisasikan pada lokasi serangan hama ini di Indonesia maka metode ini dapat mengurangi penggunaan insektisida >50% atau bahkan dapat meniadakan penggunaan insektisida. Dengan demikian pengendalian hama terpadu dengan introduksi teknologi baru ini dapat mewujudkan pertanian berkelanjutan berwawasan lingkungan. Teknologi baru ini lebih aman terhadap lingkungan dan kesehatan manusia, sesuai dikombinasikan dengan teknik pengendalian lainnya, efektif dan efisien, lebih murah dan mudah dilaksanakan oleh petani.

Gambar1.

KESIMPULAN DAN SARAN

Perangkap Sexava tipe Balitka MLA merupakan teknologi baru yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama Sexava. Perangkap ini aman terhadap lingkungan dan kesehatan manusia, sesuai dikombinasikan dengan teknik pengendalian lainnya, efektif dan efisien, lebih murah dan mudah dilaksanakan oleh petani. Perangkap ini dapat menangkap 0.9 – 6.6 nimfa/pohon/hari atau rata-rata 3.04 nimfa/pohon dan 0.04 imago/pohon/hari. Dengan teknologi ini, penggunaan insektisida menjadi minimal bahkan dapat ditiadakan sehingga memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan pada lokasi serangan hama Sexava terutama di Indonesia Timur.

Gambar 2 Gambar 3

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *