Teknologi Balitbangtan Siap Mendukung Pemenuhan Kebutuhan Sagu dan Beras Sebagai Sumber Pangan di Propinsi Papua

Aktifitas Puslitbangbun Artikel Sagu Berita Perkebunan Highlight

BERITA PERKEBUNAN – Masyarakat Indonesia termasuk Papua menghendaki pasokan dan harga pangan yang stabil, tersedia sepanjang waktu, terdistribusi secara merata, dengan harga terjangkau. Di Papua, sagu (selain padi) merupakan komoditas pangan utama. Oleh sebab itu sagu dan beras memiliki peran strategis sebagai penyedia bahan pangan dan bahan baku industri rumah tangga, penyerap tenaga kerja, sumber utama pendapatan rumah tangga pedesaan dan peyedia bahan pakan ternak. Selain itu, sagu dan padi memiliki potensi strategis dalam menyelesaikan persoalan-persoalan sosial seperti kemiskinan serta berperan dalam sektor agrowisata.

Dalam rangkaian kunjungan kerja Komisi IV DPR-RI yang dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi IV, Dr. Michael Wattimena, dan beberapa anggota, didampingi oleh Mitra Kerjanya yang terdiri dari Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan perikanan, Badan Usaha Logistik (BULOG), dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, di Propinsi Papua pada Hari Jumat 15 Februari 2019, tim berdialog dengan petani dan pelaku usaha sagu, ikan, dan kayu, BULOG dan perusahaan pupuk serta melakukan peninjauan langsung ke lapangan. Hal ini dilakukan dalam mengimplementasikan tugas dan fungsi yang melekat pada lembaga legislatif ini antara lain fungsi pengawasan dan penyerapan aspirasi rakyat untuk selanjutnya ditindaklanjuti bersama mitra kerjanya, sesuai kondisi, permasalahan dan kebutuhan riil.

Diskusi dengan BULOG dan Perusahaan Pupuk dilakukan untuk memastikan stok pangan dan sarana pendukung produksi padi di Propinsi Papua tersedia dalam kuantitas dan kualitas yang terjamin serta terdistribusi secara merata. Diskusi dilakukan selanjutnya dengan petani dan pelaku usaha sagu di Kampung Yoboi sebagai kampung wilayah adat, Kabupaten Jayapura. Gubernur Papua yang diwakili oleh Sekertaris Daerah menyampaikan potensi sagu di Papua yang memiliki luas areal terbesar di dunia, dan potensi perikanan serta rencana membangun kawasan agrowisata berbasis sagu. Beberapa permasalahan dalam pengembangan sagu di Propinsi Papua yang disampaikan oleh petani antara lain alat dan mesin pengolahan sagu yang kurang tersedia yang mengakibatkan harga sagu di pasar lokal masih mahal, waktu panen sagu yang lama yakni sekitar 10 – 12 tahun, kurangnya upaya budidaya sagu oleh masyarakat, kualitas dari sisi rasa serta masalah pemasaran.

Komisi IV DPR-RI menyarankan Badan Litbang Pertanian untuk bisa mengidentifikasi atau merakit varietas sagu yang bisa cepat dipanen, tehnik budidaya dan dukungan alsintan untuk pengolahan sagu yang efektif dan efisien serta teknologi pasca panen untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan berdaya saing tinggi. Saran tersebut diterima dengan baik oleh Kepala Balitbangtan, Dr. Ir. Fadjry Djufry, MSi, yang hadir bersama jajaran pimpinan KEMENTAN antara lain, Direktur irigasi (Ir. Rahmanto, M.Si), Direktur Polbangtan Manokwari (drh.Purwanta,M.Kes), Kepala Balai Besar Pengujian Mutu Benih (Ir. Warjito), Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian dan Perkebuan (Ir.Dedi Djunaedi,M.Sc), Kepala BPTP Papua (Dr. Muhammad Thamrin) dan Kabid KSPHP Puslitbangbun (Ir. Jelfina C. Alouw, MSc, PhD).

KaBalitbangtan menjelaskan bahwa Kementan telah memiliki peta jalan dan strategi menuju lumbung pangan dunia pada Tahun 2045, antara lain melakukan perbaikan sistem infrakstruktur jaringan irigasi ditingkat mikro, perbaikan sistem budidaya, penyediaan benih berkualitas dan penyediaan alat dan mesin pertanian yang cukup, perbaikan regulasi, penguatan kelembagaan, serta bimbingan teknis dalam rangka penguatan sikap dan mentalitas petani. Djufry menambahkan bahwa Balitbangtan telah melakukan penelitian dan pengembangan padi dan sagu mulai dari aspek hulu sampai hilirisasi produk. Beberapa varietas unggul padi dan sagu dengan produktivitas yang lebih tinggi dari rata-rata nasional, telah dilepas oleh Balitbangtan bekerjasama dengan Pemda dan perguruan tinggi. Teknologi tersebut telah dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat. Teknologi pasca panen yang menghasilkan sejumlah produk berbasis sagu antara lain mie dan biodegradable plastic juga telah dihasilkan, serta alsintan untuk pengolahan sagu menjadi tepung. Akselerasi pemanfaatan teknologi Balitbangtan, Kementan akan terus didorong, pungkas Djufry. Informasi ini disambut oleh Wattimena dengan menekankan pentingnya sinergisme antar beberapa instansi untuk mengakselerasi bioindustri sagu ini untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Disela-sela kunjungan kerjanya di Papua, Kepala Balitbangtan melakukan tatap muka dan berdialog dengan para pejabat struktural dan fungsional serta seluruh staf BPTP Papua. Dalam sambutannya, Djufry mengapresiasi sambutan yang hangat serta kemajuan yang diraih oleh BPTP Papua, serta menekankan pentingnya peningkatan kualitas kinerja dan disiplin kerja semua pegawai dalam rangka mencapai target dan output serta outcome organisasi. Perbaikan sistem dalam pengurusan administrasi kepegawaian, keuangan dan organisasi antara daerah dan pusat akan dipercepat agar ada efisiensi dari segi waktu dan dana. Peningkatan kualitas sumberdaya manusia lewat pendidikan formal dan training terbuka bagi semua staf yang memenuhi syarat dan ketentuan peraturan yang berlaku. Kehadiran Kepala Balitbangtan yang merupakan mantan Kepala BPTP Papua diungkapkan oleh pimpinan, pegawai dan staf BPTP Papua sebagai salah satu wujud kepedulian demi kemajuan bersama. (JCA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *