Teknik Penjernihan Minyak Biji Kapas Sebagai Minyak Makan

Artikel Kapas Berita Perkebunan

Tanaman kapas lebih dikenal sebagai penghasil serat bahan baku tekstil. Selain serat kapas yang dihasilkan, biji kapas juga dapat menghasilkan minyak, protein, dan lemak. Selain itu di dalam minyak biji kapas terkandung asam lemak jenuh yang rendah (30,26 %) dan asam lemak tidak jenuh yang tinggi (69,74 %), sehingga sangat baik digunakan sebagai minyak makan.

Penyebab kurang berkembangnya industri minyak biji kapas sebagai minyak makan di Indonesia salah satunya adalah belum tersedianya teknologi yang mendukung terutama adalah teknologi sederhana yang terjangkau oleh pengusaha kecil atau bahkan petani.

Beberapa penelitian yang telah dihasilkan di Indonesia masih pada tingkat identifikasi kandungan nutrisi dan jenis pelarut untuk ekstraksi, serta pemanfaatan bungkil biji kapas untuk pakan ternak. Minyak biji kapas yang dihasilkan dari penelitian tersebut belum memenuhi syarat sebagai minyak makan.

Untuk itu peneliti pada Balittas telah melakukan penelitian lanjutan untuk mendapatkan teknologi sederhana produksi minyak biji kapas yang memenuhi syarat sebagai minyak makan dalam hal teknik penjernihan.

Teknik penjernihan (refining)  cukup beragam, sangat tergantung pada jenis minyak. Minyak biji kapas yang digunakan adalah hasil ekstraksi dengan screw press (crude oil). Proses penjernihan yang dicoba dalam penelitian ini dilakukan 4 tahap yaitu degumming, netralisasi, pemucatan, dan penyaringan.

1. Degumming

Proses degumming diawali dengan melakukan pemanasan minyak biji kapas hingga 80°C. Setelah suhu tercapai ditambahkan asam phospor sebanyak 3% dari berat minyak yang diproses sambil diaduk terus hingga 15 menit. Minyak yang telah di degumming dipisahkan dari gum nya dan kemudian dicuci dengan aquades.

Cara pencucian dengan cara memanaskan minyak hasil degumming hingga 80ºC kemudian ditambahkan aquades sebanyak 5% dari berat sambil diaduk terus hingga 10 menit. Pencucian dilakuan sebanyak dua kali. Hasil degumming seperti pada Gambar 1b.

Bahan degumer yang dicoba adalah asam phosphor (H3PO4) Pa (pro analysis) dan asam phosphor teknis dengan konsentrasi 3% dari berat minyak biji kapas. Hasil pengujian menunjukkan bahwa warna dan persentase minyak antara menggunakan asam phosphor teknis tidak berbeda.

Perbedaan warna terjadi hanya pada endapan gum, dengan menggunakan asam phospor teknis menghasilkan warna endapan hitam (Tabel 1).

 

Dengan demikian, proses degumming yang efisien cukup menggunakan asam phospor teknis yang dari segi harga jauh lebih murah dibanding Pa.

 

2. Netralisasi

Netralisasi menngunakan NaOH dilakukan selain terjadi  proses penyabunan asam lemak bebas juga mengurangi substansi warna karena senyawa-senyawa phenol seperti gossypol, asam phenol,dan flavenoid.

Senyawa tersebut dirubah menjadi quinon dan polyquinon yang larut dalam minyak. Proses netralisasi dilakukan dengan menambahkan larutan NaOH sesuai bilangan asam minyak sambil dipanaskan dengan suhu 90°C dan diaduk.

Konsentrasi NaOH berpengaruh terhadap persentase minyak yang diperoleh dan fisik soapstock. Semakin tinggi konsentrasi terjadi penurunan persentase minyak yang diperoleh dan fisik soapstock sebagai limbah dalam proses ini semakin keras.

Warna minyak yang menunjukkan kualitas minyak tidak berbeda pada semua konsentrasi yang dicoba. Waktu pengadukan dalam proses netralisasi berpengaruh terhadap warna minyak dan waktu pengendapan soapstock. Waktu pengadukan untuk memperoleh hasil minyak yang optimal adalah 10 menit.

3. Bleaching (pemucatan)

Pemucatan adalah proses pemurnian untuk menghilang-kan zat-zat warna yang terkandung di dalam minyak. Proses pemucatan dilakukan dengan bahan absorben lempung bentonit yang teraktivasi asam sulfat dengan ukuran bentonit 100 mesh dan 5 mm,didispersikan kedalam larutan asam sulfat 1,6 M tanpa pengukusan (steaming) dan di kukus.

Dari hasil pengujian menunjukkan bahwa perlakuan bentonit 5 mm tanpa dikukus menghasilkan warna minyak lebih baik (Gambar 1c) dengan waktu pengendapan lebih cepat dibanding perlakuan lain. Sementara itu persentase minyak yang diperoleh tidak berbeda pada semua perlakuan yang diuji.

Pada perlakuan yang dikukus terjadi perubahan warna yang lebih gelap dari warna sebelumnya yang disebabkan terjadinya oksidasi. Hingga pada proses pemucatan dengan menggu-nakan bahan absorben ini belum diperoleh warna minyak kuning jernih sesuai dengan standar mutu minyak makan.

4.Penyaringan

Setelah dilakukan proses pemucatan minyak biji kapas disaring untuk membersihkan kotoran-kotoran yang tersisa dengan menggunakan polypropylene filter, catridge carbon aktif, atau kain filter. Proses penyaring ini merupakan proses akhir untuk mendapatkan minyak makan yang memenuhi standar mutu minyak makan.

Hasil penyaringan terbaik dihasilkan dengan menggunakan polypropylene filter  dan kain filter (Gambar 1d), karena ukuran kedua jenis filter tersebut yang digunakan lebih kecil yaitu 1 mikron dibanding filter catridge carbon dengan ukuran 5 mikron. Penyaringan tidak mampu merubah warna minyak, hanya meningkatkan kejernihan.

Gambar 1. Minyak biji kapas hasil ekstraksi (a), deguming (b); minyak biji kapas hasil pemucatan dengan bentonit 5mm degumming (c) dan penyaringan dgn polypropylene filter dan kain filter (d).

Dengan demikian warna minyak hasil proses pemucatan yang berwarna kuning kecoklatan tidak berubah tetap berwarna kuning kecoklatan setelah melalui proses penyaringan (Soebandi dan Diwang Hadi Parmono ( Peneliti dan Teknisi  Balittas).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *