Tantangan, Peluang dan Strategi Pengembangan Tebu di Bombana Sultra

Artikel Tebu Berita Perkebunan

BERITA PERKEBUNAN – Pengembangan tebu di Bombana menjadi tantangan besar bagi para peneliti Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) Malang. Mulai dari kondisi tanah, pengkayaan bahan organik, budidaya tebu, integrasi dengan ternak, dan lain-lain. Demikian dikatakan Dr. Budi Hariyono, peneliti Balittas dalam paparannya pada seminar bulan Agustus 2018 yang berjudul “Tantangan, Peluang dan Strategi Pengembangan Tebu di Bombana Sulawesi Tenggara”. Seminar bulanan ini dibuka oleh Ir. Moch. Machfud M.P sebagai Plh. Kepala Balittas yang dihadiri oleh para peneliti dan teknisi lingkup Balittas.

Lebih lanjut Budi Hariyono dalam paparannya mengatakan bahwa permasalahan yang segera dapat dilakukan pada pengembangan tebu di Bombana ini adalah membangun dan memperbaiki kondisi kesehatan tanah yang kotinyu sehingga penanaman tebu dapat berhasil. Perbaikan fisik dan kimia tanah dapat menggunakan biochar, pupuk kandang, vermikompos.

Melihat kondisi iklim di Bombana terjadinya kekeringan pada musim kemarau dan curah hujan yang tinggi pada saat musim penghujan, telah dilakukan pembuatan embung di beberapa lokasi cekungan. Pengairan mengunakan pompa dari embung ke lahan tebu, baik dengan system irigasi tetes, alut dan sprinkler, ujarnya.

Penggunaan varietas unggul dan benih bermutu menjadi masalah yang harus segera diatasi, karena sementara ini ketersediaan benih yang belum sesuai standar benih. Dari sisi budidaya, khususnya pengendalian hama/penyakit perlu mendapat perhatian khusus, karena kenyataan di lapangan banyaknya serangan hama (penggerek) dan penyakit. Karena kondisi lahan di Bombana yang ditanami tebu merupakan hamparan yang luas yang dikhawatirkan angin dapat merobohkan tanaman tebu, maka perlu dilakukan penanaman pohon-pohon sebagai pemecah angin, imbuhnya.

Selain pohon buah-buahan, bambu dapat direkomendasikan sebagai pemecah angin juga berfungsi perangkap dan penyimpanan air tanah pada saat curah hujan tinggi. Melihat kondisi lahan di bagian hulu lokasi pengembangan tebu memungkinkan dibuat waduk, namun sedang dianalisa kelayakannya. Sedangkan integrasi pengembangan dengan ternak, diharapkan pucuk tebu dan molase dapat diproses menjadi pakan ternak, selanjutnya kotoran ternak diproses menjadi biogas yang dapat mensubstitusi 30 % penggunaan batubara, harapnya.

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) Malang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *