Tanggap Serangan Ulat Tanaman Jambu Mete di Gunung Kidul

Artikel Jambu Mete Berita Perkebunan

INFO PERKEBUNAN – Audensi Peneliti Puslitbang Perkebunan dengan instansi terkait yaitu Kepala BPTP Yogyakarta (Dr. Ir. Tri Sudaryono, MS) dan Peneliti Muda bidang Proteksi Tanaman BPTP Yogjakarta (Tri Martini, SP., M.Si), Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Gunung Kidul (Ir. Ani, MS) dan staf bidang Proteksi Tanaman Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Gunung Kidul (Nio Emirensiana SP), serta dengan Petugas Penyuluh Lapangan setempat (Ir. Samsuri dan Sugondo, SSP) diketahui bahwa outbreak serangan ulat di Kabupaten Gunung Kidul, terjadi di sentra perkebunan jambu mente khususnya di Dusun Semuluh Lor, Desa Ngeposari Kecamatan Semanu dan di Desa Sambirejo Kecamatan Ngawen.

 

Pada intensitas serangan berat tanaman jambu mete menjadi meranggas (Gambar 1). Luas serangan ulat di desa Ngeposari sekitar 9% dimana dari sekitar 57 ha tanaman jambu mete yang dibudidayakan, 3 ha di antaranya terserang ulat dengan intensitas serangan 95-100% dan 5 ha terserang dengan intensitas serangan < 10%, sedang luas serangan ulat di desa Sambirejo sebesar 0.1% dimana dari sekitar 35 ha tanaman jambu mete yang dibudidayakan, hanya 5 tanaman yang terserang berat. Spesies ulat yang menyerang didominasi (±90%) oleh Spingognata pelida (Lepidoptera: Eupterotidae) (hasil identifikasi Ir. Suputa, MP dari UGM) dan sebagian kecil (±10%) terserang oleh Cricula trifenestrata (Lepidoptera; Noctuidae). C. trifenestrata oleh penduduk setempat lebih dikenal sebagai ulat sutera emas dan kehadirannya di pertanaman sangat diharapkan karena kepompongnya dihargai Rp. 300.000/kg.

Gambar 1. Tanaman-tanaman jambu mete di Desa Ngeposari Kecamatan Semanu yang meranggas terserang ulat pemakan daun.

Serangan ulat di dua kecamatan tersebut menjadi berita hangat di media massa karena ada tiga faktor yang menyebabkannya yaitu; 1. ulat menyerang tanaman jambu mete yang merupakan salah satu sumber mata pencaharian utama penduduk setempat, 2. ukuran S. pelida sangat besar (panjangnya dapat mencapai ± 10 cm) dan mempunyai bulu yang sangat panjang (± 3 cm) sehingga oleh penduduk setempat disebutkan sebagai ulat raksasa (Gambar 2), dan 3. Tanaman-tanaman jambu mete di desa Sambirejo yang terserang S. pelida adalah tanaman yang dibudidayakan sangat berdekatan dengan rumah penduduk (Gambar 3) sehingga ketika tanaman terserang telah meranggas sebagian ulat merayap ke rumah-rumah penduduk membuat penduduk panik dan merasa “geli” (Bhs Jawa: njijiki).

Gambar 2. Ukuran S. pelida yang menyerang tanaman jambu mete di Kabupaten Gunung Kidul.

Gambar 3. Tanaman jambu mete di Desa Sambirejo yang terserang S. pelida tumbuh di pekarangan rumah penduduk.

Hasil tatap muka di lapangan dengan Bpk Sudarto (ketua Kelompok Tani “Maju” Semuluh Lor, Kecamatan Semanu) diketahui bahwa untuk mengendalikan serangan ulat pemakan daun ini, petani tidak mau menggunakan insektisida kimia sintetis karena tanah di antara tegakan tanaman jambu mete ditanami rumput kolonjono yang merupakan tanaman pakan ternak, dan tanaman pertanian lainnya seperti ketela pohon dan kacang-kacangan (Gambar 4). Oleh karenanyan penggunaan insektisida kimia dikhawatirkan dapat meracuni hewan ternak dan manusia.

Gambar 4. Vegetasi di bawah tegakan tanaman jambu mete yang ditumbuhi tanaman rumput kolonjono, ketela pohon dan kacang-kacangan.

Untuk mencegah meluasnya serangan, pada tanggal 16 dan 17 Mei 2011 petani setempat dibantu oleh beberapa petugas dari Kecamatan, Koramil, Kepolisian, Dinas Kehutanan dan Perkebunan dan petugas penyuluh lapangan telah melakukan pengendalian  secara mekanis yaitu dengan memukul-mukulkan ranting tanaman jambu mete dengan sebatang galah (gambar 5) kemudian ulat-ulat yang berjatuhan dikumpulkan dan dibakar (Gambar 6).

Gambar 5. Masyarakat sedang memukulkan ranting mangga dengan mengunakan sebatang galah (Sumber: Kompas, 24 Mei 2011).

 

A                                                            b

Gambar 6. Petani sedang mengumpukan ulat (a) kemudian dibakar (b) (sumber: Nio Emirensiana SP, Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Kab. Gunung Kidul).

Hasil observasi langsung ke lapang menunjukkan bahwa saat ini populasi ulat sudah sangat rendah (sekitar <20 ekor ulat per pohon), sedang pada saat serangan berat populasi per tanaman sulit dihitung. Keadaan ini mengindikasikan bahwa pengendalian mekanis yang telah dilakukan sangat efektif menekan meluasnya serangan ulat. Kondisi cuaca yang cukup panas dengan hembusan angin yang cukup keras diduga membantu proses penekanan populasi hama. Mengingat ulat S. pelida mempunyai bulu yang sangat panjang maka hembusan angin yang cukup kuat menyebabkan beberapa ulat jatuh dan sebagian mati karena pada saat naik kembali ke tanaman kadangkala ulat tidak berhasil menemukan ranting tanaman yang masih memiliki daun untuk dimakannya. Bila kondisi cuaca terus seperti ini diduga dalam waktu dekat populasi ulat ini akan terkendali dengan sendirinya.

Hal yang sangat menarik dijumpai di lapang adalah ditemukannya beberapa ranting tanaman jambu mete yang terbebas dari serangan ulat dan ketika diteliti dan diperhatikan dengan seksama ternyata pada ranting-ranting tersebut ditemukan semut rangrang beserta sarangnya (Gambar 7). Hal ini mengindikasikan bahwa semut rangrang merupakan musuh alami yang berpotensi dikembangkan untuk menekan serangan susulan di masa-masa mendatang. Kenyataan baik ini telah disampaikan dan disosialisasikan kepada petani pemilik kebun, ketua kelompok tani dan petugas penyuluh lapangan agar segera memelihara semut rangrang di pertanaman jambu mete. Cara praktis pemeliharaan dan pembiakan semut rangrang juga telah disampaikan dan diuraikan dengan jelas yaitu dengan memasang umpan berupa tulang belulang di pertanaman jambu mete sehingga semut rangrang akan datang untuk memakan serpihan daging dan kemudian menetap dan berkembang biak di pertanaman.

Gambar 7. Ranting tanaman jambu mete yang tidak terserang ulat karena digunakan sebagai tempat tinggal (sarang) semut rangrang.

Keadaan yang sangat menarik lainnya memperlihatkan suatu kenyataan hidup yaitu di dalam suatu kesulitan pasti terselip sebuah manfaat. Evaluasi umum terhadap pertumbuhan tanaman menunjukkan bahwa tanaman jambu mete yang meranggas akibat terserang ulat mulai tumbuh daun-daun muda dibarengi dengan munculnya bunga (Gambar 8). Kenyataan ini sangat menggembirakan karena petani sebelumnya menduga bahwa setelah terserang hebat maka tanaman jambu mete akan gagal berbunga bahkan mungkin akan mengalami kematian, tetapi kenyataanya malah sebaliknya dimana tanaman terserang justru menghasikan bunga sedang pada tanaman sehat samasekali belum ditemukan bunga. Hal ini mengindikasikan bahwa tanaman jambu mete mempunyai daya regenarasi yang sangat baik dan tahan terhadap berbagai tekanan lingkungan yang merugikan sehingga sangat cocok dikembangkan lebih lanjut pada tanah-tanah marginal yang banyak ditemukan di Indonesia.

Gambar 8. Bunga mulai bermunculan pada tanaman jambu mete yang meranggas terserang ulat.

Dari kunjungan lapang ini dapat disimpulkan bahwa populasi ulat secara umum sudah cukup rendah. Apabila cuaca panas terus bertahan diharapkan populasi hama akan dapat terkendalikan dengan sendirinya. Serangan ulat pada tanaman jambu mete tidak menyebabkan kematian tanaman tetapi sebaliknya justru memacu tanaman untuk berproduksi. Dengan demikian kehadiran ulat di pertanaman khususnya yang jauh dari pemukiman tidak usah terlalu dirisaukan karena tanaman jambu mete punya daya regenerasi yang sangat baik serta tahan terhadap tekanan lingkungan yang kurang menguntungkan. Namun demikian serangan ulang pada tanaman yang sama dan dalam waktu yang berdekatan sebaiknya dapat dicegah karena dapat menyebabkan tanaman menjadi merana. Pemeliharaan semut rangrang pada berbagai tanaman pertanian dan perkebunan perlu disosialisasikan dengan serius untuk mencegah terulangnya serangan ulat dan hama-hama lain pada tanaman yang dibudidayakan guna menunjang swasembada pangan dan meningkatkan ekspor produk pertanian Indonesia. (Wir)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *