Sumut Potensial untuk Industri Hilir Sawit

Artikel Kelapa Sawit Berita Perkebunan

MedanBisnis – Medan. Industri hilir diharapkan menghasilkan nilai tambah bagi produk minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Hal ini juga akan bisa menekan volume ekspor CPO terutama di tengah kondisi harga di pasar internasional yang kini hanya berkisar US$ 700 hingga US$ 800 per metrik ton dari sebelumnya US$ 1.100 per metrik ton.

Sumatera Utara (Sumut) sebagai penghasil minyak sawit mentah terbesar di Indonesia potensial mengambil peluang ini dengan membangun industri hilir sawit yang akan bisa menambah nilai produknya. Namun, pembangunan ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

Sebab, ada sejumlah regulasi yang harus diikuti. Selain itu, butuh waktu untuk menarik investor menanamkan modalnya di sektor ini. “Paling tidak, butuh waktu dua tahun untuk mengembangkan industri hilir di Sumut.

Itu pun tidak bisa langsung sesuai dengan yang ditargetkan. Tapi jika sudah dimulai dari sekarang, dalam dua tahun ke depan akan bisa terlihat perkembangannya,” ujar Bendahara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumut, Laksama Adyaksa, di Medan, Kamis (11/10).

Sebelumnya Asisten Ekonomi dan Pembangunan Pemerintah Propinsi Sumatera Utara (Pempropsu), Sabrina,  mengemukakan, pemerintah mendorong peningkatan industri sawit di daerah ini dengan membatasi pembukaan lahan sawit baru namun memberikan rekomendasi terhadap perusahaan yang ingin membangun industri hilir. “Kalau mau bangun industri hilir, pemerintah sangat terbuka tapi jika cari lahan, kami tidak merekomendasikan karena lahannya sudah tidak ada lagi,” ucapnya.

Laksamana mengatakan, pengembangan industri sawit ke depannya akan otomatis menekan volume ekspor sebab serapan dalam lokal akan lebih banyak. Selama ini, serapan minyak sawit hanya sekitar 20-30% dari total produksi nasional yang mencapai 23 juta ton. Jika industri hilir berkembang akan bisa menyerap 50-60% yang otomatis akan meningkatkan jumlah produk hilirnya. “Hasil produk ini juga tidak mungkin terserap pasar lokal sehingga pengusaha juga akan membidik pasar luar negeri. Tapi sudah berbeda nilainya dari yang selama ini hanya ekspor yang mentah saja,” sebutnya.

Kondisi ini, kata Laks, juga akan menaikkan harga pembelian tandan buah segar (TBS) yang akan membantu petani, sebab harga CPO akan bisa kembali naik. Hal lain, katanya, serapan tenaga kerja akan meningkat karena lapangan pekerjaan bertambah. Tapi yang paling penting, lanjutnya, regulasi harus jelas sehingga perolehan devisa dari produk jadi akan bisa terealisasi dan nilainya akan lebih besar dari ekspor bahan mentah.

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumut Hervian Tahier mengatakan industri hilir akan membuat pasar sawit semakin kuat. “Tapi pengembangan ini tidak boleh hanya dari satu pihak saja. Sebab, banyak faktor yang mendukungnya mulai dari infrastruktur, kesiapan daerah, regulasi hingga kebijakan-kebijakan atraktif baik dari pemerintah pusat maupun dari daerah,” katanya.

Menurutnya, ini memang menjadi momentum yang tepat untuk mengembangkan industri hilir. Supaya bisa juga mendapatkan nilai tambah di tengah harga minyak sawit yang terus turun. Tapi yang jelas, ucapnya, blue print-nya terlebih dulu dibuat sehingga bisa menjaga petani terhindar dari kerugian. “Ini juga bisa menjadi jaminan bagi investor bahwa ada kepastian dalam pengembangan industri hilir. Tidak main-main. Mereka juga bisa percaya kalau tidak akan ada masalah ke depannya. Karena biar bagaimana pun, investor juga berpikir tentang profit taking,” ucapnya.

Wakil Ketua Bidang Organisasi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumut Johan Brien mengatakan, kondisi penurunan harga seperti sekarang ini memang bisa dijadikan momentum bagi perusahaan untuk membangun sektor hilir. Namun, hal tersebut tergantung dari strategi masing-masing perusahaan.

“Kalau mau membangun atau menambah kapasitas pabrik, tergantung dari strategi perusahaan walaupun memang dengan adanya industri hilir maka sangat memungkinkan pengusaha melakukan penyimpanan stok ditengah turunnya harga sekarang ini,” katanya.

Namun, perkembangan industri hilir tidak terlepas dari pemerintah. Pemerintah harus memberikan kemudahan-kemudahan untuk pengurusan izin mendirikan pabrik dan sebagainya. Rangsangan untuk mendorong percepatan industri harus dilakukan sehingga masyarakat atau end user bisa lebih dekat dengan barang yang dihasilkan.

“Ditengah keterbukaan pasar seperti sekarang ini, pemerintah harus gesit mendorong pertumbuhan sektor hilir dengan memudahkan perizinan dan lainnya. Dengan begitu harga bisa dipertahankan tapi kebutuhan dalam negeri tetap terpenuhi,” ucapnya.

Menurutnya, penurunan harga komoditas saat ini yang tidak hanya terjadi pada kelapa sawit, memang menjadi momen bangkitnya industri hilir. Jika pemerintah serius, pembangunan bisa dilakukan dalam setahun. “Dalam setahun bisa tercapai karena pada dasarnya hanya tinggal komitmen,” pungkasnya.(elvidaris simamora)

Sumber: MedanBisnis, 12 Oktober 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *