Stevia, Simanis Rendah Kalori

Artikel Sagu Berita Perkebunan Highlight

Seiring dengan pertumbuhan penduduk dan kebutuhan akan bahan pemanis yaitu gula pemerintah dihadapkan pada penyediaaan gula dalam jumlah besar melalui tanaman tebu. Tentu tantangan berat dalam memenuhi hal tersebut, selain dihadapkan pada permasalahan teknis (ketersediaan lahan dan tingkat produktivitas) juga dihadapkan pada persaingan bisnis didalamnya. Untuk itu harus ada upaya untuk mengembangan tanaman sebagai pengganti tanaman tebu sebagai sumber pemanis alternatif.

Gula yang tambahkan dalam makanan sehari-hari kebanyakan terbuat dari tebu. Dewasa ini gula dituduh sebagai penyebab utama obesitas, karena hampir setiap makanan lezat menggunakan gula sebagai pemanis. Gula yang dibuat dari tebu atau jagung diketahui mengandung kalori yang tinggi. Dalam satu sendok teh gula pasir ditengarai mengandung 30 kalori dan 8 gram karbohidrat. Padahal anjuran konsumsi kalori gula per hari maksimal 100 kalori untuk perempuan dan 150 kalori untuk laki-laki. Masyarakat di Indonesia umumnya hanya mengenal tebu dan nira kelapa/aren/siwalan sebagai tanaman penghasil gula, padahal ada tanaman lain yang dimanfaatkan sebagai pemanis yakni Stevia. Salah satu tanaman pemanis selain tebu adalah Stevia rebaudiana Bertoni. Termasuk tanaman perdu famili Compositae berasal dari Paraguay, daun stevia mengandung steviosida dengan tingkat kemanisan 200-300 kali lebih tinggi dari gula tebu (sukrosa).

 

Mengenal Stevia Sebagai Sumber Pemanis

Stevia memang lebih populer di wilayah asalnya, Amerika Selatan, dan juga di Asia Timur seperti Jepang, China dan Korea Selatan. Di Paraguay, suku Indian Guarani telah menggunakan stevia sebagai pemanis sejak ratusan tahun lalu. Ada sekitar 200 jenis stevia di Amerika Selatan, tetapi hanya Stevia rebaudiana yang digunakan sebagai pemanis. Tahun 70-an, stevia telah banyak digunakan secara luas sebagai pengganti gula. Di Jepang, 5,6% gula yang dipasarkan adalahstevia atau yang dikenal dengan nama sutebia. Stevia digunakan sebagai pengganti pemanis buatan seperti aspartam dan sakarin.

Stevia memiliki beberapa keunggulan antara lain tingkat kemanisannya yang mencapai 200-300 kali kemanisan tebu serta rendah kalori sehingga aman dikonsumsi oleh penderita diabetes dan obesitas. Selain itu, stevia juga bersifat non-karsinogenik. Zat pemanis dalam stevia yaitu steviosida dan rebaudiosida tidak dapat difermentasikan oleh bakteri di dalam mulut menjadi asam. Asam ini yang apabila menempel pada email gigi dapat menyebabkan gigi berlubang. Oleh karena itu, stevia tidak menyebabkan gangguan pada gigi.

Stevia adalah tanaman perdu yang tumbuh pada tempat dengan ketinggian 500-1000 m di atas permukaan laut, di dataran rendah stevia akan cepat berbunga dan mudah mati apabila sering dipanen. Suhu yang cocok berkisar antara 14-270C dan cukup mendapat sinar matahari sepanjang hari. Terdapat beberapa cara untuk memperbanyak stevia, yaitu dengan mengecambahkan biji stevia, stek batang, pemisahan rumpun ataupun dengan kultur jaringan.

 

Syarat Tumbuh dan Budidaya

Di Indonesia, stevia ditanam pada ketinggian 700 — 1.500 m dpl dengan suhu lingkungan 20C — 24C. Curah hujan setahun rata-rata 1.400 mm dengan 2-3 bulan kering. Stevia tumbuh baik pada tanah podsollatosol, dan andosol. Tanaman stevia menghendaki kelembapan tanah cukup tinggi dan memiliki toleransi tinggi terhadap tanah basah. Di daerah tropis, tanaman ini dapat ditanam sepanjang tahun. Sehingga jumlah gula stevia setahun akan dapat mengungguli gula stevia dari daerah-daerah sub-tropis yang hanya ditanam sekali setahun.

Perbanyakan benih stevia dapat dilakukan dengan biji, stek pucuk/batang, atau dengan kultur jaringan. Biji tanaman stevia berbentuk jarum dan berwarna putih kotor. Perbanyakan menggunakan biji jarang dilakukan karena tingkat keberhasilannya sangat rendah dan pertanaman tidak seragam. Stevia yang pernah ditanam di Indonesia berasal dari Jepang, Korea dan China. Bahan tanaman tersebut berasal dari biji sehingga pertumbuhan tanaman stevia di lapang sangat beragam.

Perbanyakan stevia menggunakan teknik kultur jaringan belum banyak literatur atau hasil yang dipublikasikan, namun secara umum perbanyakan dengan teknik ini diperoleh tanaman yang sifatnya seragam dan jumlah tanaman yang banyak dalam waktu yang relatif singkat serta tanaman bebas dari hama dan penyakit.

Perkembangan stevia di Indonseia masih sangat terbatas. Dengan potensi yang besar sebagai bahan pemanis alami, stevia layak dijadikan sebagai komoditas unggulan dalam pengembangan agribisnis dan agroindustri.

 

Manfaat Stevia

Beberapa penelitian yang menunjukkan kemampuan stevia sebagai pengobatan alami. Tanaman tersebut dapat membawa keuntungan untuk proses penyembuhan. Apa saja manfaat dari stevia tersebut?: (1) Memiliki kemampuan antikanker. Sebuah jurnal Food Chemistry yang dipublikasikan studi Kroasia menunjukkan stevia diduga memiliki manfaat potensial untuk pengobatan alami dari kanker usus, digabungkan dengan daun blackberry, (2) Baik untuk diabetes. Menggunakan stevia dibandingkan gula akan sangat membantu untuk penderita diabetes. Berdasarkan jurnal yang dipublikasikan Journal of Dietary Supplement, ada evaluasi tentang bagaimana stevia berpengaruh pada tikus yang terkena diabetes, lalu ditemukan tikus yang diberi sekitar 200 dan 500 mg setiap hari mengalami penurunan level gula darah, trigliserida,dan alkali fosfatase. Penelitian pada manusia juga menunjukkan mengonsumsi stevia sebelum makan dapat mengurangi level gula darah setelah makan dan insulin, dan (3) Menurunkan tekanan darah tinggi. Glikosida pada ektrak stevia ditemukan bisa melebarkan pembuluh darah dan meningkatkan pengeluaran natrium, kedua hal tersebut dapat membantu dalam menjaga tekanan darah pada level yang sehat. Memang banyak ditemukan berbagai macam manfaat dari stevia, tapi untuk mengonsumsinya, sebaiknya secukupnya saja. Tetap hindari mengonsumsinya secara berlebihan.

Pemerintah sudah harus memiliki perhatian khusus terhadap tanaman stevia terutama dalam upaya pengembangan dan budidayanya melalui aktivitas riset, mengingat tanaman stevia memiliki berbagai kemudahan dalam pengembanganya di Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian memiliki peran aktif dalam hal tersebut terutama melalui Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat.(Dr. Sae/Kasubid Kerjasama Puslitbang Perkebunan)

Artikel terkait :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *