Status Hama dan Penyakit Pada Populasi Kelapa Genjah Entog di Kabupaten Kebumen

Berita Perkebunan Highlight

BERITA PERKEBUNAN – Penyebaran varietas tanaman ke wilayah lain perlu didukung aspek legalitas yang bisa menjamin kualitas dari benih yang disebarkan tersebut. Salah satu faktor penentu kualitas benih adalah benih tersebut berasal dari tanaman yang toleran terhadap serangan hama atau infeksi penyakit.

Dalam rangka mendukung pelepasan Kelapa Genjah Entog yang memiliki beberapa karakteristik unggul yang berbeda dengan jenis kelapa Genjah lainnya, maka dilakukan observasi hama dan penyakit yang berasosiasi dengan tanaman kelapa tersebut serta tanaman kelapa jenis lain di sekitarnya. Observasi dilakukan oleh tim yang terdiri atas peneliti Hama dan Penyakit dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan (Puslitbangbun) Ir. Jelfina C. Alouw, MSc, PhD, pengamat hama dan penyakit dari Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kebumen, pada 29-30 September 2018 di Desa Bojongsari, Kecamatan Alian dan Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen.

Kegiatan ini merupakan hasil kerjasama antara Balai Penelitian Tanaman Palma (Balit Palma) dan Dinas Pertanian dan Pangan Kab. Kebumen. Kelapa Genjah Entog memiliki ukuran buah yang besar, lebih besar dari tipe kelapa Genjah pada umumnya, batangnya lambat bertambah tinggi dengan warna yang spesifik yakni hijau muda. Kelapa Genjah Entog biasanya dijual sebagai kelapa muda karena memiliki air kelapa yang manis. Tidak heran jika kelapa ini sangat diminati sehingga memiliki harga jual yang lebih tinggi dibandingkan dengan jenis kelapa lokal lainnya. Permintaan terhadap Kelapa Genjah Entog semakin meningkat sehingga pengembangannya perlu dilakukan.

Hasil pengamatan hama dan penyakit yang menyerang menunjukkan hanya satu jenis hama utama yang menyerang daun tanaman Kelapa Genjah Entog yakni Oryctes rhinoceros atau yang lebih dikenal dengan nama lokal Kwangwung dengan tingkat serangan sangat kecil, rata-rata guntingan per pelepah = 0,05. Berdasarkan angka tersebut, penurunan produksi kelapa diperkirakan hanya sekitar 1-2%. Hal ini menunjukkan bahwa pengendalian belum diperlukan untuk dilakukan. Walaupun demikian monitoring tetap diperlukan untuk menghindari berpindahnya kumbang yang menyerang tanaman kelapa dalam di daerah lain seperti Kecamatan Ambal, Kab. Kebumen. Jika serangan meningkat nanti maka saran pengendalian yakni Sanitasi, Pemanfaatan Metarhizium anisopliae var. major dan penanaman tanaman penutup tanah serta perangkap menggunakan feromon agregasi yang dapat menarik baik serangga jantan maupun betina.

Semoga kelapa ini bisa segera dirilus dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian agar dapat mendukung pengembangannya untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal dan global. Salam Kelapa ! “Kayalah Petani Kelapa Indonesia”.

Sumber: Balai Penelitian Tanaman Palma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *