Sinergi Riset Dan Inovasi Bio-Energi Pada Era Industri 4.0

Aktifitas Puslitbangbun Highlight

AKTIVITAS PERKEBUNAN – Energi memiliki peran yang sangat vital dalam kehidupan manusia. Sumber terbesar energi yang digunakan oleh manusia berasal dari bahan baku fosil yang unrenewable. Pada tahun 2016 konsumsi energi dunia dari minyak bumi, gas alam dan batubara berkisar 82% dari kebutuhan total (US energy information administration). Di Indonesia, pada tahun 2016 saja dari total penggunaan energi Nasional, 95% berasal dari penggunaan energi fosil dan hanya 5% dari energy terbarukan.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan, jika sebuah negara hanya mengandalkan energi dari fosil, maka negara tersebut sudah memasuki era krisis energi, sebab sifat energi fosil yang tidak dapat diperbaharui dan lama kelamaan akan habis. Oleh sebab itu bio-energi menjadi pilihan yang tepat.

Forum Group Discussion (FGD) yang bertemakan “Sinergi riset dan inovasi bio-energi pada era industri 4.0 untuk mendukung ketahanan pangan dan energi” telah diselenggarakan pada Kamis 19 April 2018 di Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan (Puslitbangbun) Bogor, FGD ini diselenggarakan atas kerjasama antara Dewan Riset Nasional (DRN) dan Puslitbangbun.

FGD dihadiri oleh Ketua DRN Dr. Bambang Setiadi, Ketua Komtek Pangan dan Pertanian-DRN Dr. Haryono, Ketua Komtek Energi-DRN Dr. Arnold Soetrisnanto, para assisten dan anggota DRN, Kepala Balitbangtan, yg diwakili oleh Kepala BB Litbang Pasca Panen Pertanian Prof.Dr. Risfaheri, Para pejabat Esselon III dan peneliti lingkup Puslibangbun, Ketua Gapmmi, dan anggota DRN.

Kepala Puslitbangbun yang diwakili oleh Kepala Bidang KSPHP Dr. Jelfina C. Alouw, dalam sambutan pembukaannya menyampaikan bahwa berbagai sumber energy terbarukan tersedia di alam namun belum secara optimal dimanfaatkan. Sejak 17 tahun terakhir, penelitian dan pemanfaatan bioenergy sudah dilakukan namun bioenergy yang dihasilkan kebanyakan masih pada pre-commercial stage of development. Disamping itu, dunia diperhadapkan dengan kebutuhan pangan yang semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di dunia. Ketahanan pangan mencakup dimensi ketersediaan (kuantitas dan kualitas), distribusi, dan konsumsi serta keamanan menjadi prioritas program yang perlu didukung oleh semua elemen bangsa.

Selanjutnya, Dr. Jelfina C. Alouw menyampaikan sesuai tema FGD pada hari ini yang mengangkat issue inovasi bioenergi, maka advanced atau second generation bioenergy yang dihasilkan dari material biologi non-food seperti residue pertanian, perkebunan dan kehutanan, peternakan, material sampah lainnya, dan algae menjadi alternative yang perlu dimaksimalkan pemanfaatannya serta diversifikasi produk pangan yang sangat penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap beberapa jenis tanaman saja. Terobosan inovasi di bidang bioenergi dengan memanfaatkan sampah lumpur (sludge waste) dari water treatment plants oleh BETO (Bioenergy Technologies Office) dan pemanfaatan limbah sawit oleh perusahaan di Indonesia sebagai sumber bioenergy terbarukan merupakan contoh bagaimana inovasi memberi nilai ekonomi bagi masyarakat serta berkontribusi dalam menurunkan emisi gas rumah kaca dan kontaminan udara lainnya.

Ketua DRN, Dr. Bambang Setiadi dalam paparannya tentang “Inovasi bidang pangan dan energi di era industri 4.0” menekankan pentingnya hasil riset yang bernilai komersil, dan membangun bangsa dengan inovasi. Ketua DRN menyarankan perlunya beberapa atribut inovasi seperti UU, strategi dan roadmap, dana dan dewan inovasi.

Ketua Komtek pangan dan Pertanian, Dr. Haryono memaparkan topik “kebijakan ketahanan pangan sesuai konsep Food-Energy-Water Nexus di era industri 4.0”. Dalam paparannya, Dr. Haryono menyampaikan tantangan untuk mencapai ketahanan pangan, energi dan air tanpa merusak sumber daya alam dan lingkungan, serta pentingnya mengarahkan pengembangan pangan dan energy sebagai bentuk sinergi dan bukan kompetisi. Dengan demikian pemilihan komoditas potensial sebagai sumber energi terbarukan perlu dipetimbangkan dengan baik.

Pemerintah, peneliti dan industri perlu bekerja bersama dalam mengakselerasi penelitian dan pengembangan dengan tujuan untuk menggali sumber-sumber bioenergi potensial dan memecahkan masalah kualitas serta cost reductions untuk produksi skala besar. Demikian pula dengan ketahanan pangan dan program pemerintah untuk menjadi lumbung pangan dunia pada tahun 2045 nanti, serta pentingnya kerjasama dengan industri untuk menghilirisasi/mengkomersialisasi hasil-hasil penelitian atau invensi dari para peneliti.

Semoga kebutuhan inovasi dapat diidentifikasi sebagai landasan penentuan prioritas riset, dan peluang kolaborasi serta sinergi riset antar institusi dan industri baik pemerintah maupun swasta dapat digali utk menghasilkan rekomendasi yang penting dalam memaksimalkan pemanfaatan bioenergi bagi ketahanan pangan dan energi untuk Bangsa dan Negara yang kita cintai ini. (JCA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *