Seminar Triwulan Ke-4 : Arti Penting Budidaya dan Pemanfaatan Sagu untuk Ketahanan Pangan dan Energi Nasional

Aktifitas Puslitbangbun

Bogor, Perkebunan – Saat ini dunia dihadapkan pada dua krisis besar, yaitu krisis pangan dan krisis energi. Krisis pangan dipicu oleh adanya pemanasan global dan tidak meratanya distribusi. Sedangkan krisis energi dipicu oleh kian menipisnya cadangan energi yang berasal dari bahan bakar fosil (migas dan batubara). Solusi yang bisa dilakukan adalah dengan mengembangkan diversifikasi, baik bahan pangan maupun bahan energi.

Sagu adalah salah satu dari komoditas yang saat ini dipercaya mampu mengatasi kedua krisis yang terus menghantui dunia dari waktu ke waktu. Sagu merupakan tanaman yang memiliki potensi sebagai salah satu sumber pangan pokok selain beras, karena kandungan karbohidratnya (kalori) yang memadai dan memiliki kemampuan subsitusi pati sagu dalam industri pangan. Sagu juga sangat berpotensial untuk diolah menjadi bioetanol. Dengan demikian pengelolaan sagu di Indonesia memiliki prospek yang sangat menjanjikan untuk ketahanan pangan dan energi nasional di masa mendatang.

Potensi sagu di Indonesia dari sisi luas areal sangatlah besar. Sekitar 60% areal sagu dunia ada di Indonesia. Data yang ada menunjukkan bahwa areal sagu Indonesia menurut Prof.Flach mencapai 1,2 juta ha dengan produksi berkisar 8,4-13,6 juta ton per tahun, dan sekitar 90 % berada di Papua.  Sagu adalah salah satu sumber pangan utama bagi sebagian masyarakat di beberapa bagian negara di dunia. Penyebaran tanaman sagu di Indonesia terutama di daerah Papua, Papua Barat, Maluku, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Jambi,  Sumatera Barat ( Mentawai), dan  Riau.

Namun sayangnya, meski sebagai sumber pangan utama di Papua dan Maluku, pengembangannya belum ditangani secara intesif. Hal itu, dikarenakan politik pangan Indonesia sangat bertumpu pada tanaman padi. Padi atau beras menjadi tolok ukur untuk menentukan tingkat konsumsi karbohidrat. Padahal tidak semua daerah di Indonesia dapat ditanami padi atau penduduknya terbiasa menanam padi atau secara tradisi tidak mengandalkan padi sebagai bahan pangannya.

Dalam upaya meningkatkan kesadaran mengenai arti penting pelestarian dan pemanfaatan sagu untuk mendukung ketahanan pangan dan energi nasional, pada seminar Triwulan yang ke-4 Puslitbang Perkebunan menitikberatkan pembahasan mengenai permasalahan sumber daya genetik, usaha pelestarian serta diversifikasi produk olahan sagu di Indonesia.

Pada seminar tersebut, disampaikan oleh Bpk. Hengky Novarianto bahwa : (1)Pengembangan tanaman sagu harus dilihat secara utuh, yaitu sagu dalam bentuk budidaya/semibudidaya dan sagu dalam hamparan kawasan hutan, (2) Percepatan pelepasan varietas sagu dan penggunaan anakan sagu unggul merupakan strategi dalam pengembangan sagu di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *