Seminar Rutin Badan Litbang Pertanian : Flu Burung

Aktifitas Puslitbangbun

AKTIVITAS PUSLITBANGBUN – Virus influenza A/H5N1 Indonesia  berevolusi menjadi tiga karakter genetik kelompok virus  dan adanya introduksi virus clade 2.3.2. Sirkulasi virus H5N1 di Indonesia perlu diwaspadai karena telah menjadi penyakit endemis.  Kemungkinan adanya mutasi berlanjut atau  genetic reassortment antara virus H5N1 dan novel H1N1 maupun virus influenza lainnya seperti H1N1/H3N2 seasonal flu akan menyebabkan virus H5N1 lebih mudah beradaptasi pada manusia.

Hal tersebut dikemukakan oleh Indi Dharmayanti, peneliti Balai Besar Penelitian Veteriner dalam makalahnya yang berjudul “Genetic Reassortment Virus H5N1 (Clade 2.1.3)” pada Seminar Rutin Badan Litbang Pertanian tanggal 22 Januari 2012 di Jakarta. Selain makalah tersebut, telah disampaikan juga  2 (dua) makalah lainnya yang terkait dengan flu burung.

Wabah flu burung terjadi sejak Agustus 2003 dan menurun pada tahun 2006, tetapi masih menyerang ayam kampung,tetapi tidak pada ayam broiler, ujar E. Basuna, Y. Yusdja, N. Ilham dalam makalahnya yang berjudul “Dampak Wabah AI (Avian Influenza) dan Usaha Pengendaliannya terhadap Sosial Ekonomi Peternak Unggas Skala Kecil di Indonesia”.

Pemakalah lain dari Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian yang menyampaikan tentang “Dampak Flu Burung pada Itik terhadap Sosial Ekonomi: Suatu Kajian Indikatif” mengatakan bahwa sejak bulan Oktober 2012 sampai dengan Januari 2013, penyebaran flu burung sudah terjadi pada 11 Provinsi di  69 Kabupaten/Kota di Indonesia. Meskipun secara persentase serangannya masih rendah, namun kondisi ini perlu diwaspadai karena dapat mengancam  populasi itik di Indonesia yang cukup besar, saat ini sudah mencapai 49,4 juta ekor yang  tersebar di semua Provinsi dengan pola pemeliharaan ekstensif dan semi intensif.

Lebih lanjut kajian tersebut mengemukakan bahwa dengan pola pemeliharaan dan perdagangan dikhawatirkan akan menyebarkan penyakit flu burung ke daerah yang lebih luas, karena transmisi penyakit antar itik dan unggas liar sangat memungkinkan.

Kerugian ekonomi secara langsung saat wabah flu burung tahun 2004-2005 yaitu kematian ternak dan penurunan produksi, secara tidak langsung mengakibatkan turunnya permintaan. Berbeda dengan suasana saat ini, dimana masyarakat umum sudah mengetahui bahwa flu burung bukan merupakan hal baru, sehingga sudah mengetahui cara-cara penanggulangan unggasnya dari kemungkinan terinfeksi. Dengan demikian dampak terhadap kerugian ekonomi yang lebih besar dapat ditekan.

Diduga wabah flu burung pada itik tidak menurunkan permintaan, hal ini terbukti pada dua kasus di pasar, permintaan terhadap ternak dan telur itik tidak mengalami penurunan.

Dampak terhadap keberlanjutan usaha, pada industri itik strukturnya tidak sama dengan ayam, peternak itik yang usahanya collaps diduga akan mengalami kesulitan modal dan bimbingan teknis untuk kembali berusaha. Diperlukan peran pemerintah untuk pemulihan usaha melalui program yang sistematis dan sekaligus membimbing peternak untuk mengalihkan usaha ekstensif menjadi usaha intensif dan semi intensif. Dengan demikian pengendalian penyakit melalui penerapan biosecurity dan vaksinasi diharapkan akan menjadi lebih baik. (Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *