Semiloka Nasional Perubahan Iklim : “Potensi Tanaman Perkebunan Sebagai Penyerap Karbon”

Aktifitas Puslitbangbun

Isu perubahan iklim (climate change) dewasa ini telah mengalami transformasi dimensi isu dari yang bersifat global menjadi isu strategis nasional. Persoalan ini merupakan sebuah kewajaran mengingat perubahan iklim yang memiliki dampak terhadap kepentingan nasional sebuah negara. Salah satu kekhawatiran terbesar dari perubahan iklim adalah dampaknya terhadap pertanian dan ketahanan pangan nasional. Secara ilmiah, perubahan iklim global dipicu oleh akumulasi gas-gas pencemar di atmosfer terutama karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan klorofluorokarbon (CFC).

United States Department of Agriculture (USDA) tahun 2010 menyebutkan bahwa telah terjadi kenaikan konsentrasi gas-gas pencemar tersebut sebesar 0,50-1,85% pertahunnya. Konsentrasi tinggi dari gas-gas pencemar tersebut akan memperangkap energi panas matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi di zona atmosfer. Fenomena tersebut sering disebut sebagai efek rumah kaca (green house effect) yang diikuti oleh meningkatnya suhu permukaan bumi yang diistilahkan sebagai pemanasan global (global warming).

Agar dapat merumuskan hasil kegiatan konsorsium perubahan iklim serta perkembangan MRV sebagai dasar pemuktahiran kebijakan adaptasi dan mitigasi untuk pembangunan pertanian khususnya pada sub sektor perkebunan, Puslitbang Perkebunan berpartisipasi dalam acara Seminar Lokakarya Nasional Perubahan Iklim yang diselenggarakan oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian pada tanggal 13 Desember 2012 di Jakarta.

Dalam kesempatan itu, Kepala Puslitbang Perkebunan yang diwakili oleh Ka.Bid Program dan Evaluasi Dr. Muhammad Yusron, menyampaikan makalah “Potensi Tanaman Perkebunan Sebagai Penyerap Karbon”.

Tanaman perkebunan merupakan penyerap karbon terbesar diantara berbagai jenis tanaman pertanian. Jumlah cadangan karbon pada setiap penggunaan lahan sangat bervariasi bergantung pada keragaman dan kerapatan tanaman, kesuburan tanah, kondisi iklim, ketinggian tempat dari permukaan laut, lamanya lahan dimanfaatkan untuk penggunaan tertentu dan cara pengelolaan. Makin rapat dan makin subur tanaman maka cadangan karbon lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman yang kurang subur.

Program mitigasi di subsektor perkebunan dapat diterapkan melalui kegiatan :
Optimalisasi Pembukaan lahan tanpa bakar
Rencana kegiatan untuk optimalisasi lahan perkebunan tanpa pembakaran menjadi salah satu kegiatan utama untuk mitigasi gas rumah kaca di sektor perkebunan, karena proses pembakaran akan menghasilkan gas-gas rumah kaca seperti CO2, CO, N2O dan NOX yang berkontribusi terhadap pemanasab global. Mekanisme pembakaran lahan biasa dilakukan pada saat pembukaan lahan baru maupun pembersihan lahan sehabis panen. Kegiatan pembukaan lahan dengan cara membakar dapat di atasi dengan mensosialisasikan kegiatan pembukaan lahan tanpa bakar ke petani langsung dan pemberian sanksi bagi perusahaan perkebunan yang menerapkan teknik pembakaran dalam persiapan lahan selain itu pembukaan lahan tanpa bakar memberikan manfaat lain dimana sisa-sisa tanam yang tidak diperlukan dapat dibuat kompos untuk menambah kesuburan tanah.
Pengembangan areal perkebunan dilahan tidak berhutan, terlantar dan terdegradasi atau areal penggunaan lain
Kelapa sawit, karet dan kakao merupakan tiga komoditas utama di sektor perkebunan karena mendukung perekonomian nasional seperti komoditas ekspor yang menghasilkan devisa, bahan baku industri dan penyerapan tenaga kerja. Subsektor perkebunan ini memiliki fungsi menyerap karbondioksida. Oleh karena itu sasaran pengembangan areal perkebunan pada lahan yang tidak berhutan atau terdegradasi, sehingga delain menyediakan produk perkebunan juga berfungsi sebagai penyerap karbon dan menurunkan emisi gas rumah kaca.

penanaman kelapa sawit pada lahan gambut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *