RI-Malaysia Atur Suplai CPO Dunia

Artikel Kelapa Sawit Berita Perkebunan

MedanBisnis—Jakarta. Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan meyakini bahwa Indonesia bisa membuat kesepakatan terkait masalah CPO dengan Malaysia. Hal ini karena Indonesia dan Malaysia adalah dua negara yang menguasai 90% produksi CPO di dunia sehingga bisa menentukan pasokan komoditas tersebut ke pasar. “Kita sedang bicara dengan Malaysia, jadi masing-masing merumuskan mekanisme,” katanya di Kementerian Perdagangan Jakarta, Selasa (9/10).

Indonesia dan Malaysia memang sedang diterpa isu tidak sedap mengenai CPO. Harga CPO yang terus anjlok membuat kedua negara tetangga ini ingin melakukan kesepakatan terkait suplai CPO ke pasar. Sejak dua pekan terakhir harga CPO turun drastis ke level US$ 700-US$ 800 perton dibandingkan dengan sebelumnya yang mencapai US$1.100/ton.”Kita dengan Malaysia itu 90% lebih produksi CPO dunia dan tentu saja berhadapan banyak dengan konsumen, jadi nantinya kemungkinan besar kita akan mengatur suplai CPO nantinya,” katanya.

Selain harga yang semakin turun drastis, CPO Indonesia tertimpa isu yang tidak sedap. Kabarnya ada tuduhan dumping dari produk turunan CPO di Uni Eropa.”Nah, kita sudah koordinasi dengan eksportir yang dituduhkan. Dari 10 eksportir tertuduh, 6 di antaranya yang besar, kita minta untuk investigasi, nanti kita koordinasi seberapa jauh tuduhan ini dan apakah serius dan berdampak atau tidak,” katanya. Kabarnya di negara Perancis ada kampanye negatif yang mendiskriminasikan CPO. Indonesia dan Malaysia rencananya akan melawan kampanye tersebut karena merugikan produk CPO dari kedua negara.”Kampanye na manya EPA non palm oil label di Perancis, kampanye itu sebetulnya nggak boleh, kita akan lawan dan berkolaborasi dengan Malaysia. Sama seperti dulu Indonesia dan Malaysia lawan kampanye EPA Amerika,” tutupnya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah menyayangkan aksi seruan boikot terhadap perkebunan kelapa sawit (CPO) di Indonesia. Dia merasa aksi tersebut tidak fair.”Saya dengar ada semacam aksi boikot melawan atau melarang perkebunan kelapa sawit.  Saya terus terang kalau ada aksi itu menurut saya kurang fair. Karena kita hidup dalam percaturan global juga harus fair satu sama lain,” katanya saat berpidato di hadapan 128 perwakilan negara asing beberapa waktu lalu.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengemukakan langkah untuk kerja sama dengan Malaysia untuk mengatasi permasalahan CPO adalah hal yang lumrah harus dilakukan. Kerjasama itu sekaligus a untuk melindungi harga komoditas tersebut.”Itu baik (kerja sama dengan Malaysia), dan untuk menjaga harganya, karena persaingan harga yang ada ditekan terus oleh konsumen sekarang, itu harus kita kerjasamakan,” kata Sofjan.

Harga CPO memang terus turun selama 2 pekan terakhir. Saat ini frekuensi harga CPO berada pada kisaran US$700-US$800 per ton dari harga sebelumnya mencapai US$ 1.100/ton. Indonesia dan Malaysia dikabarkan akan melakukan kesepakatan menentukan suplai CPO untuk menghentikan penurunan harga komoditas itu di pasar dunia. “Saya pikir antara harga dan pasokan sama pentingnya karena suatu saat kita sudah tidak bisa menekan harga maka pasokan harus dikurangi, jadi saya pikir dua-duanya harus kita lihat yang mana yang menguntungkan, tetapi menurut saya lebih baik kita menekan harga jangan pasokan,” katanya.

Tahun ini diperkirakan Indonesia akan menghasilkan 22,6 juta ton sawit dengan luas lahan 8,9 juta hektar. Sedangkan Malaysia diprediksi akan produksi 18 juta ton dengan luas lahan 5 juta hektar.  Menurut Sofjan Indonesia dan Malaysia harus bisa memegang kendali terkait harga CPO ini dikarenakan karena keduanya merupakan penguasa produsen 90% CPO dunia. “Jangan mereka yang permainkan harga kita, Malaysia dan kita itu kuasai 90% dari market. Jadi kita harus pegang kendali, jangan yang beli yang pegang kendali,” tutupnya. (dtf/ant)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *