Revitalisasi Komoditas Kelapa Dalam Memacu Devisa

Artikel Kelapa Berita Perkebunan Highlight

BERITA PERKEBUNAN – Komoditas perkebunan merupakan andalan bagi pendapatan nasional dan devisa negara Indonesia, yang dapat dilihat dari nilai ekspor komoditas perkebunan, pada Tahun 2015 total ekspor perkebunan mencapai US$ 23,933 milyar atau setara dengan Rp. 311,138 triliun (asumsi 1 US$=Rp.13.000). Kontribusi sub sektor perkebunan terhadap perekonomian nasional semakin meningkat dan diharapkan dapat memperkokoh pembangunan perkebunan secara menyeluruh.

Kelapa (Cocos nucifera L.) merupakan komoditas strategis yang memiliki peran sosial, budaya, dan ekonomi dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Manfaat tanaman kelapa tidak saja terletak pada daging buahnya yang dapat diolah menjadi produk pangan dan pangan fungsional seperti santan, minyak kelapa murni, minyak goreng sehat tetapi seluruh bagian tanaman kelapa mempunyai manfaat yang besar.

 

Pertumbuhan Perdagangan Kelapa

Perkembangan 5 tahun terakhir 2012-2016 eksport dan import kelapa mengalami fluktuasi, puncak eksport tertinggi terjadi pada tahun 2015 sebesar 1.826.310 ton dengan nilai devisa 1.190.672 US$, demikian halnya pada tahun 2012 dan 2014, sebaliknya pada tahun 2013 dan 2016 eksport mengalami penurunan yang diikuti oleh peningkatan import sebesar masing-masing 4.777 ton dan 4.226 ton. Hal ini menunjukkan bahwa trend eksport tidak konsisten volumenya lima tahun terakhir yang diduga sebagai akibat dari penurunan produksi akibat tanaman yang sudah tua dan bukan berasal dari varietas unggul, serangan hama penyakit, alih fungsi lahan dan penurunan luas areal tanam. Melihat kondisi tersebut diperlukan langkah dan terobosan oleh pemerintah terutama dalam mengatasi penurunan volume dan nilai eksport kelapa. Salah satu langkah yang yang bisa ditempuh adalah dengan mengidentifikasi permasalahan utama dan bagaimana melakukan model pendekatan.

Tabel 1. Volume dan Nilai Ekspor-Impor Kelapa Tahun 2012-2016

Gambar 1. Fluktuasi Nilai Ekspor dan Impor Kelapa Tahun 2012-2016.

 

Permasalahan dan Prospek Kelapa

Akhir-akhir ini kebutuhan akan kelapa kembali meningkat, seiring dengan pertumbuhan penduduk. Diperkirakan pada masa mendatang kebutuhan akan komoditas ini akan semakin meningkat, mengingat pola hidup masyarakat Indonesia sulit dilepaskan dari komoditas kelapa dan hasil olahannya. Tanaman kelapa juga merupakan salah satu dari sebelas komoditas andalan perkebunan penghasil devisa negara, sumber pendapatan asli daerah (PAD), sumber pendapatan petani dan masyarakat. Dengan demikian komoditas kelapa diharapkan dapat membantu mengentaskan kemiskinan di daerah dan dapat mendorong perkembangan agroindustri serta pengembangan wilayah. Indonesia memiliki potensi yang besar dalam pengembangan komoditas kelapa.

Tabel 2. Luas Areal dan Produksi Kelapa Menurut Status Pengusahaan Tahun 2012-2017

Namun demikian upaya pengembangan komoditas kelapa dihadapkan pada berbagai kendala antara lain: (1) Produktifitas yang masih rendah (di bawah normal), karena banyak kelapa berumur di atas 60 tahun, dan budidaya dengan bibit asalan, (2) Rendahnya pendanaan khususnya untuk perkebunan, (3) Kebijakan pembangunan yang belum mendukung sektor perkebunan, (4) Industri hilir yang belum berkembang sehingga sebagian besar produk dijual dalam bentuk produk primer, dan (5) Kurangnya kesadaran masyarakat khususnya para petani perkebunan akan prospek pengembangan kelapa dan pengolahannya yang dapat dijadikan sebagai usaha tani yang menjanjikan.

Alasan utama yang membuat kelapa menjadi komoditi komersial adalah karena semua bagian kelapa dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Dari analisis budidaya terlihat bahwa investasi yang besar dan dapat menguntungkan hanya dalam waktu kurang dari 6 tahun, belum termasuk keuntungan lain yang didapat selain dari buah. Oleh karena itu, budidaya tanaman kelapa merupakan salah satu alternatif yang sangat menguntungkan.

 

Sumber Pendapatan Petani

Produktivitas tanaman dan nilai tukar produk primer yang dihasilkan seperti kopra dan minyak yang cenderung menurun menjadi salah satu penyebabnya. Pengelolaan usahatani pun masih bersifat tradisional akibat keterbatasan wawasan petani. Keterlibatan secara langsung dari pemerintah, kalangan industri, dan masyarakat konsumen di lapangan pun masih sangat kurang dan berjalan sendiri-sendiri. Untuk dapat menjadikan usahatani kelapa menjadi sumber pendapatan utama petani, perlu diubah sistem usahatani tradisional dan industri primer parsial menjadi suatu sistem dan usaha agribisnis berbasis kelapa yang berdaya saing, berkelanjutan, berkerakyatan dan terdesentralisasi.

Bukan tidak mungkin apabila usahatani kelapa dikelola secara profesional akan dapat memberikan kontribusi yang tak kecil untuk negara ini. Hal ini memungkinkan karena hasil penelitian menungkapkan bahwa kandungan asam laurat dalam minyak kelapa memiliki manfaat kesehatan. Dan akhir-akhir ini perdagangan minyak kelapa murni (virgin coconut oil, VCO) makin meluas di antero dunia. Walau masih diperlukan dukungan litbang, banyak pihak meyakini VCO sebagai obat berbagai macam penyakit dan harganya pun cukup mahal.

Upaya untuk mengembangkan kelapa harus menjadi perhatian semua pihak terutama pemerintah dan swasta dalam upaya meningkatan kesejahteraan petani dan memenuhi permintaan pasar dunia. Untuk itu revitalisasi kelapa menjadi regulasi jangka pendek dan menengah yang penting baik dari aspek teknis dan non teknis. Upaya melakukan peningkatan kualitas riset dalam memecahkan permasalahan kelapa terutama ancaman terhadap serangan hama penyakit perlu disikapi sejak awal agar tidak menganggu terhadap peningkatan volume dan nilai eksport sebagai sumber devisa negara. (Sae.26.02.2018)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *