Realisasi Impor Gula Mentah 182.000 Ton

Artikel Tebu Berita Media

JAKARTA, KOMPAS – Pemerintah menetapkan harga patokan petani untuk gula Rp.8.100 per kilogram. Nilai HPP  itu meningkatkan 16 persen dibandingkan dengan HPP tahun 2011. Namun, angka HPP itu masih lebih rendah daripada usulan Dewan Gula Indonesia dan ekspektasi para petani tebu.

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (3/5), mengatakan, keputusan harga patokan petani (HPP) yang baru tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 28 Tahun 2012.

Keputusan tersebut berdasarkan pertimbangan survei biaya produksi sebesar Rp. 7.902 per kg. “Biaya produksi tahun ini naik 15 persen dari tahun lalu. Jadi, kenaikan HPP sebesar 16 persen sudah tepat. Harus diingat, HPP bukan penentu harga, melainkan sebagai jaminan harga terendah bagi petani,” ujarnya.

Dia mengatakan,  selama ini harga lelang dan harga eceran gula selalu di atas HPP. Tahun 2009, misalnya, dengan HPP Rp. 5.350 per kg, harga lelang rata-rata menembus Rp. 7.056 per kg. Sementara harga eceran tercatat Rp. 8.577 per kg. Tahun 2010 kondisinya serupa. Dengan HPP Rp. 6.350 per kg, harga lelang rata-rata Rp. 8.723 per kg, sedangkan harga eceran Rp. 10.090 per kg. Tahun 2011, dengan HPP Rp. 7.000 per kg, harga lelang rata-rata tercatat Rp.8.142 per kg dan harga eceran Rp. 10.144 per kg.

Rendemen

Menurut Bayu, pemerintah kali ini menerapkan sistem insentif dalam penetapan HPP. Dalam enam bulan, HPP akan di evaluasi.” Jika rendemen bisa di naikkan, HPP akan naik, begitupun sebaliknya. Tujuannya, untuk memacu angka rendemen kita. Saat ini, rendemen hanya berkisar 5-6 persen , sementara di negara lain bisa di atas 10 persen,” katanya.

Bayu juga memastikan gula mentah yang diimpor sepanjang Maret-April tidak akan menganggu gula lokal. ”Per 30 April, impor telah dihentikan. Gula itu akan diolah untuk didistribusikan bulan Mei. Gula produksi petani kemungkinan baru masuk ke pasar pertengahan Juni. Saat ini, harga gula di Denpasar, Mataram, dan Pekanbaru masih tergolong tinggi,”ujarnya.

Bayu menambahkan, gula impor tersebut diprioritaskan untuk kawasan timur. Beberapa daerah sudah mengajukan tambahan pasokan, seperti Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Deddy Saleh mengatakan, dari kuota 240.000 ton gula mentah, realisasi impor tercatat 182.000 ton.”Kuota tidak terpenuhi karena ada gangguan teknis. Para importir kesulitan memesan kapal dari Thailand untuk mengangkut gula tersebut,”katanya.

Deddy mengatakan, dari sisi harga di tingkat internasional tergolong stabil. ”Jadi, importir tidak terkendala dengan harga. Harganya relatif stabil,” ujarnya.

Menanggapi keputusan HPP tersebut, Wakil Sekertaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia M Nur Khabsin kecewa. Ia menilai, pemerintah tidak berpihak kepada petani. Keputusan tersebut jauh dari ekspektasi petani yang mengharapkan HPP sebesar Rp. 9.218 per kg.”Usulan itu cukup wajar. Dengan HPP tersebut, keuntungan petani hanya 10 persen setahun,” katanya.

Besarnya HPP juga lebih rendah dari usulan Dewan Gula Indonesia (DGI), yakni sebesar Rp. 8.750 per kg. Menurut DGI, usul itu sudah mempertimbangan inflasi, bunga bank, perbandingan dengan harga beras, dan keuntungan petani 10 persen.

“Kami kecewa dengan pemerintah. Dengan Hpp sebesar itu, petani tidak bergairah untuk menanam tebu. Selama pemerintah tidak berpihak kepada petani, pergulaan kita tidak akan pernah maju,” katanya.(ENY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *