Puslitbangbun Menghadiri Indonesian Cocoa Development Workshop

Aktifitas Puslitbangbun Artikel Kakao Berita Perkebunan Highlight

AKTIVITAS PUSLITBANGBUN – Indonesian Cocoa Development Workshop diselenggarakan di Jakarta oleh Direktorat Jenderal Tanaman Perkebunan pada Tanggal 22 Januari 2018 bekerjasama dengan The International Cocoa Organization (ICCO). Workshop dihadiri oleh Executive Director of ICCO dan tim, Ditjenbun, Kementerian Luar Negeri, Kepala Puslitbang Perkebunan yang diwakili oleh Kabid KSPHP, Peneliti Puslitbang Perkebunan, Balai Penelitian Tanaman Penyegar dan Industri (BALITTRI), Puslit Kopi dan Kakao, universitas, industri kakao dan asosiasi kakao serta perwakilan kelompok tani kakao.

Direktur Jenderal Perkebunan yang diwakili oleh Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Ir. Dedi Junaidi, MSc dalam sambutannya menyampaikan perkembangan kakao di Indonesia sebagai negara penghasil kakao terbesar ketiga di dunia setelah Cote d’Ivoire dan Netherlands, dan mengemukakan berbagai permasalahan kakao di Indonesia yang produksinya cenderung menurun akibat adanya serangan hama dan penyakit dan tanaman tua yang sudah tidak produktif lagi dan masalah lain terkait pasca panen dan pemasaran. Selanjutnya Dedi Junaidi menyampaikan terima asih atas dukungan ICCO salama ini bagi pengembangan kakao di Indonesia. Direktur Perdagangan Komoditas dan Kekayaan Intelektual KEMENLU, Tri Purnajaya, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran Executive Direktur ICCO dan tim dan mengharapkan dukungan dan masukan dari ICCO dalam pengembangan kakao di Indonesia.

ICCO yang berdiri sejak tahun 1973 dan berkedudukan di Abidjan, Cote d’Ivoire memiliki visi untuk meningkatkan fungsi ekonomi kakao dunia melalui kebijakan dan kegiatan koordinasi diantara semua anggota ICCO yang terdiri dari 51 negara bekerjasama dengan pihak swasta. Mandat dari organisasi kakao internasional ini adalah untuk mendukung perenomian kakao dunia yang berkelanjutan melalui berbagai aspek antara lain produksi, perdagangan, prosesing dan konsumsi kakao.

Dalam arahannya Executive Director ICCO, Dr. Jean-Marc Anga meminta agar data statistik kakao Indonesia dapat divalidasi menggunakan metodologi yang tepat, mengembangkan kakao dengan mempertimbangkan kearifan lokal dengan dukungan yang kuat dari pemerintah, meningkatkan pengolahan kakao dalam negeri, mempromosikan kakao sebagai sumber makanan dan minuman yang sehat bagi masyarakat dan diversifikasi produk.

Pada bagian diskusi, Puslitbang Perkebunan mengemukakan beberapa teknologi yang telah dihasilkan oleh Balai Penelitian Tanaman Penyegar dan Industri (Balittri), Balitbangtan Kementan, antara lain varietas unggul BL-50 (singkatan dari Balubuih Lima Puluh Kota) sebagai salah satu varietas unggul lokal berasal dari Sumatera Barat, yang telah dilepas pada tahun 2017 sebagai klon unggul baru dengan potensi produksi mencapai 3,69 ton/ha/tahun. Inovasi teknologi Balitbangtan seperti varietas unggul dan program perbenihan kakao yang dicanangkan Kementerian Pertanian melalui APBN-P 2017/2018 merupakan bentuk dukungan pemerintah bagi peningkatan produktivitas kakao di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *