Puslitbangbun Menggali Potensi Kolaborasi dengan Lembaga Penelitian Australia, CSIRO

Aktifitas Puslitbangbun Highlight

AKTIVITAS PUSLITBANGBUN – Puslitbang Perkebunan pada hari Senin tanggal 2 Desember 2019 menerima kunjungan balasan dari Country Director CSIRO (Commonwealth Scientific Industrial Research Organisation) Global untuk Indonesia, Amelia Fyfield. CSIRO merupakan lembaga riset terbesar di Australia. Kunjungan CSIRO diterima langsung oleh Ir. Syafaruddin, Ph.D selaku Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan yang didampingi oleh Ir. Jelfina C. Alouw, MSc, PhD (Kabid KSPHP), Prof. Dr. Deciyanto, Prof. Dr. Agus Kardinan, para peneliti dari Balittro, Balittri serta staf bidang KSPHP. Kepala Pusat mengapresiasi kunjungan dari Country Director CSIRO, dan berharap agar kunjungan perwakilan CSIRO dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh peneliti untuk menggali peluang kolaborasi penelitian dan pengembangan untuk mendapatkan teknologi dan inovasi dibidang entomologi dan pengembangan komoditas perkebunan secara umum. Kapuslitbangbun selanjutnya menyampaikan profil Puslitbangbun, Badan Litbang Pertanian beserta mandat dari Balai lingkup Puslitbang Perkebunan.

Dalam pertemuan tersebut, Amelia Fyfield mempresentasikan “Solving The Greatest Challenges Through Innovative Science and Technology”. CSIRO yang organisasinya mirip BUMN di Indonesia, telah mendapatkan sekitar 3690 patent antara lain wi fi dan softlens serta vaksin dengan nilai royalty yang sangat besar. Tugas utamanya yakni untuk menciptakan teknologi yang bisa dimanfaatkan oleh industri yang pada akhirnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas. CSIRO telah berkolaborasi dengan lebih dari 3000 industri di lebih dari 80 negara.

Diskusi dengan peneliti CSIRO di Australia dilakukan juga melalui video conference. Dr. Tak, seorang entomologist diajak berdiskusi dengan para peneliti hama dan penyakit dari BALITTRO, BALITTRI dan Puslitbangbun. Dr. Tak menyampaikan bahwa sekarang ini fokus penelitian mereka adalah genomic dan pengendalian fall armyworm (ulat tentara) yang sedang outbreak dengan menggunakan Bt toxin, serta pengendalian hama Coconut Rhino Beetle (CRB). Jelfina menanyakan peluang kerjasama pengendalian hama CRB yang sekarang ini telah menunjukkan resistensi terhadap Nudivirus, virus yang sebelumnya efektif mengendalikan hama tersebut. Hal ini disambut dengan baik oleh Dr. Tak, dan berharap ada kolaborasi riset dengan negara-negara lain juga termasuk Amerika yang juga menghadapi masalah yang sama.

Professor Deciyanto Soetopo berharap ada kolaborasi riset untuk mengatasi penurunan efektivitas dari serangga pollinator, sedangkan Prof. Agus Kardinan menanyakan pertanian organic di Australia. Optimalisasi pemanfaatan agens hayati dan IPM juga didiskusikan dengan peneliti lain dari Balittro, Rismayani

Jelfina berharap ada tindaklanjut kerjasama antara Puslitbang Perkebunan dengan CSIRO dibidang tanaman perkebunan dapat direalisasikan dan berharap melalui kolaborasi ini dapat menjawab tantangan yang sedang dihadapi Indonesia antara masalah CPO di pasar Uni Eropa dan minyak kelapa di pasar Amerika. Kegiatan diskusi ini berlangsung selama kurang lebih 1 jam dan diakhiri dengan sesi foto bersama. (Erri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *