Puslitbang Perkebunan Turut Menyemarakkan Internasional Coconut Festival di Karangasem, Bali

Aktifitas Puslitbangbun Highlight

AKTIVITAS PUSLITBANGBUN – International Coconut Festival (ICF) yang dirangkaikan dengan festival Subak Karangasem dilaksanakan di Taman Sukasada Ujung Kabupaten Karangasem Bali pada 14-17 September 2019. Festival dibuka dengan resmi oleh Bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas Sumatri, S.Sos., M.A. Bupati Karangasem menyampaikan tujuan dilakukannya festival ini adalah untuk lebih mendorong pariwisata berbasis pertanian termasuk kelapa di daerah Bali khususnya di Kabupaten Karangasem. Acara yang digagas oleh Kabupaten Karangasem bekerjasama dengan Koalisi kabupaten penghasil kelapa (KOPEK) dihadiri oleh Menteri Perindustrian dan perdagangan Tanzania, sejumlah tamu lokal maupun internasional antara lain dari Queensland University, Coconut Research Institute (CRI), Chinese Academy Tropical Agricultural Science (CATAS), Puslitbang Perkebunan, Kementerian Pertanian. Kementerian perdagangan, para pelaku usaha, petani, dan masyarakat umum.

Kegiatan lain yang dilakukan adalah Peresmian Patung Serabut Kelapa, Pencanangan Taman Mini Kelapa Indonesia (TMKI), Parade Budaya Kelapa dengan nuansa Bali, Gelar Teknologi/Demplot Kelapa Nusantara, Bonsai Kelapa, Demplot Aneka Hortikultura dan Tanaman Pangan, Expo/Pameran Kelapa dan hasil pertanian lainnya, Seminar Kelapa Internasional, Temu Bisnis Kelapa Internasional, dan Field Trip.

Ketua KOPEK, Bupati Prof. Nelson Pomalingo, dalam sambutannya menyampaikan terdapat 248 kabupaten yang tergabung dalam KOPEK sehingga potensi ini berpeluang untuk digunakan sebagai motor penggerak pengembangan kelapa di Indonesia. Pada kesempatan tersebut, Pomalingo mengumumkan terpilihnya Ir. Jelfina C. Alouw, MSc, PhD sebagai Direktur Executive ICC terpilih periode 2020-2023 dan berharap agar kerjsama antara ICC dan Kopek dapat terjalin dengan baik.

Alouw menyampaikan pentingnya kepastian ketersediaan bahan baku bagi industri kelapa dan perbaikan rantai supply dari petani ke industri tanpa memposisikan petani dalam posisi tawar yang lemah. Peningkatan konsumsi kelapa dan produk kelapa di dalam negeri perlu dilakukan agar harga ditingkat petani bisa naik, perbaikan mutu produk untuk ekspor dalam rangka menaikkan devisa Negara perlu didorong, dan promosi kelapa sebagai komoditas yang sehat untuk dikonsumsi juga perlu diintensifkan kata Alouw mengakhiri komentarnya disela-sela acara ICF.

Pameran diikuti oleh para pelaku usaha kelapa baik dalam negeri maupun luar negeri, termasuk Balit Palma, Balitbangtan yang pada acara tersebut menampilkan varietas unggul kelapa yang baru dilepas, produk kelapa dan teknologi pendukungnya. Semoga ICF ini tidak hanya sebatas seremonial saja tetapi bisa ditindaklanjuti dengan kegiatan yang nyata untuk mengembalikan kejayaan kelapa di Indonesia, demikian yang disampaikan oleh perwakilan dari HKTI (JCA & Sudarsono)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *