Produksi Cengkeh Nasional

Artikel Cengkeh Berita Perkebunan

INFO PERKEBUNAN – Perkebunan cengkeh pernah menjadi kebanggaan bahkan simbul status sosial  bagi pemiliknya hingga pertengahan tahun 1980-an. Pada waktu itu cengkeh sering disebut sebagai ‘emas coklat’, karena nilai tukarnya terhadap emas sangat tinggi. Seperti dilukiskan dalam ‘teori pasar sarang laba-laba’ (cob-web theory), pada saat harga cengkeh tinggi, petani berbondong menanamnya.

Pada gilirannya produksi cengkeh meningkat tajam dalam waktu kurang dari lima tahun berikutnya, sehingga harga turun. Dalam kondisi yang demikian petani meninggalkan kebun cengkehnya bahkan menggantinya dengan tanaman lain yang dianggap lebih prospektif.

Perkembangan perkebunan cengkeh hingga saat ini masih belum mengalami pemulihan seperti kondisi masa kejayaan. Hal ini terlihat dari areal yang baru mencapai sekitar 500.000 ha dari terbesar 700.000 ha pada awal 1990an, dengan produksi masih berfluktuasi sekitar 60.000 hingga 100.000 ton tiap tahun. Harga juga bergerak antara Rp 38.000 hingga Rp 120.000 per kg. Kondisi ini mencerminkan ketidakstabilan pasar yang sangat tinggi, sehingga risiko produksi cengkeh sangat tinggi.

Perkembangan perkebunan cengkeh tersebut terkait erat dengan perkembangan industri rokok kretek, yang mana sebagian besar produksi cengkeh diserap industri ini. Jika dilihat perkembangan produksi rokok kretek yang terus meningkat secara stabil, maka peningkatan konsumsi cengkeh juga mengalami hal yang sama, pada gilirannya dapat diperkirakan bahwa harga cengkeh berkecenderungan meningkat dalam jangka panjang, walaupun terjadi fluktuasi dalam jangka pendek karena fluktuasi pasokan. Pada kenyataannya kondisi pasar sangat tidak stabil baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Kondisi pasokan cengkeh yang utamanya bersumber dari produksi cengkeh sangat fluktuatif, karena karakter alaminya cengkeh memang demikian, selain fluktuasi yang terjadi karena pengaruh iklim, baik La Nina (bulan basah dominan) maupun El Nino (bulan kering dominan).

Bila iklim normal cengkeh pada tahun tertentu bisa menghasilkan bunga dalam jumlah besar (panen raya), akibatnya setelah panen kondisi tanaman kurang optimal untuk berbunga pada tahun berikutnya. Pemulihan kondisi pada umumnya dua tahun, tetapi bila pemeliharaan tanaman kurang baik bisa tiga atau empat tahun. Dengan demikian panen raya berikutnya terjadi tiga hingga lima tahun. Produksi dapat terganggu bila iklim kurang menunjang.

Produksi cengkeh nasional pada tahun 2007-2011 masih kurang dari 100 ribu ton. Dengan membaiknya harga cengkeh dalam tiga tahun terakhir diharapkan petani akan terpanggil untuk memperbaiki kebun cengkehnya dengan memberikan pupuk untuk mendorong produksi pada tahun 2012 ini.

Kebetulan terjadinya La Nina pada tahun 2011 yang mengakibatkan panen yang kurang baik dan iklim kembali normal pada tahun 2012, diharapkan panen akan meningkat dan pada 2013 diharapkan akan terjadi panen raya akibat pemeliharaan yang baik pada tahun-tahun sebelumnya.

Fluktuasi dengan pola tahun-tahun sebelumnya terjadi tetapi dengan kecenderungan yang semakin meningkat akibat adanya perluasan yang terjadi dalam sepuluh tahun terakhir serta intensifikasi yang dilaksanakan oleh petani akibat membaiknya harga. Diperkirakan produksi dapat menembus 100 ribu ton pada tahun 2013 jika tidak terjadi penyimpangan iklim yang ekstrim.

Jika dianalisis lebih jauh tentang data produksi cengkeh nasional ini kemungkinan terlalu rendah. Hal ini terlihat dari perkiraan konsumsi cengkeh yang sudah menembus 100 ribu ton pada tahun 2010, dan sudah lebih dari 90 ribu ton dari beberapa tahun sebelumnya.

Sedangkan data produksi selalu berada dibawah konsumsi sampai 30 ribu ton pada tahun 2008 dan minimum 8 ribu ton pada 2010. Sumber pasokan cengkeh lainnya adalah dari stok yang disimpan oleh perusahaan rokok, tetapi tidak bisa terpenuhi jika defisit pasokan dalam jumlah besar terjadi beberapa tahun berturut-turut. Demikian juga impor cengkeh sangat terbatas, mengingat hanya Madagaskar sumber potensial cengkeh yang menurut berita kondisi pertanamannya juga kurang baik.

Jika dianalisis data produktivitas cengkeh yang berada sekitar 250 kg/ha, kemungkinan terlalu rendah. Memang diperlukan data lapangan yang lebih teliti dengan memantau produksi 100-120 pohon cengkeh selama lima tahun dan mengambil rata-rata produktivitasnya. Berdasarkan data konsumsi cengkeh seharusnya produktivitas rata-rata nasional 15-20% lebih dari perkiraan yang ada, atau antara 287-300 kg/ha.

Kebijakan untuk mendorong produksi cengkeh sangat perlu untuk dilaksanakan dengan memanfaatkan momen-tum harga cengkeh yang sangat baik pada saat ini. Program intensifikasi sangat memungkinkan untuk mendorong produksi secara cepat, melalui introduksi pembuatan pupuk organik dan pupuk hayati yang dapat dimanfaatkan petani dengan biaya yang relatif murah, selain mendorong petani untuk menyisihkan hasil penjualannya untuk perbaikan kondisi kebun cengkehnya.

Program rehabilitasi dan ekstensifikasi untuk mendorong produksi dalam jangka menengah. Yang harus dibantu kepada petani adalah penyediaan benih unggul. Seperti diketahui bahwa tanaman cengkeh relatif dapat menyesuaikan pada kondisi lingkungan yang luas (kosmopolit), sehingga varietas yang telah dilepas sekarang yaitu Cengkeh Afo, Karo, dan Gorontalo dapat dijadikan sebagai sumber benih komposit yang dapat beradaptasi secara luas.

Selain itu beberapa daerah memiliki blok penghasil tinggi yang juga dapat dijadikan sumber benih jika benih bina tidak mencukupi (Agus Wahyudi/ Peneliti Balittro).

Sumber : Infotek Perkebunan Volume 4, Nomor 12, Desember 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *