Prakonvensi Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Bidang Perkebunan Kelapa Sawit

Aktifitas Puslitbangbun

Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) adalah rumusan kemampuan kerja dengan mempertimbangkan faktor pengetahuan, ketrampilan, dan keahlian serta sikap kerja yang relevan dengan pelaksanaan tugas dan jabatan yang ditetapkan. Rancangan SKKNI (RSKKNI) Bidang Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan perlu divalidasi melalui prakonvensi. Badan Penyuluh dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) telah melaksanakan Prakonvensi SKKNI Bidang Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan pada hari Selasa–Kamis/30 April – 2 Mei 2019 di Hotel Santika BSD City – Teras Kota Tangerang Banten. Kegiatan ini mengacu pada Peraturan Ketenaga kerjaan Nomor 3 tahun 2016 tentang Tata Cara Penetapan SKKNI.

Pra Konvensi Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Bidang Perkebunan Kelapa Sawit dibuka oleh Kepala Pusat Pelatihan Pertanian Bapak Ir. Bustanul Arifin Caya, MDM, dan dihadiri oleh perwakilan dari stakeholder perkelapasawitan, para akademisi, LSM, asosiasi industri, lembaga pendidikan dan pelatihan, lembaga sertifikasi profesi, praktisi serta instansi teknis terkait termasuk didalamnya perwakilan dari Puslitbang Perkebunan (Kasubbid PHP).

Kepala Pusat Pelatihan Pertanian dalam sambutannya menghimbau kepada peserta agar berperan aktif dalam upaya menyempurnakan dokumen SKKNI. SKKNI meliputi 102 judul Unit kompetensi, antara lain deskripsi unit, elemen kompentensi dan kriteria unjuk kerja, batasan variable, dan panduan penilaian.

Sidang pleno penyusunan SKKNI Bidang Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan diawali dengan pemaparan tata tertib, penyampaian perintah standarisasi, garis besar RSKKNI dan dilanjutkan diskusi sidang kelompok yang dipimpin oleh Ketua LSP Perkebunan dan Hortikultra Indonesia Bapak Darmasyah Basaruddin. Penyusunan jenjang kualifikasi nasional, penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan profesi, uji kompetensi dan sertifikasi profesi dan pengembangan karier baik instansi Pemerintah maupun swasta, dilakukan dengan bekerjasama/berkonsultasi dengan stakeholder perkelapasawitan, para akademisi, dan LSM. Penerapan SKKNI diharapkan dapat menghasilkan Tandan Buah Segar (TBS) dengan kuantitas dan kualitas standar kelapa sawit yang berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *